Segala sesuatunya biru
Membawa pucuk atap ke kepada gemericik
Yang suatu saat akan berhasil masuk kedalam risau hati yang disembunyikannya
Makanya aku tak akan sama sekali mempertentangkan dari mana arah datangnya
Ia bukanlah coretan kasar pada dinding lama
Suatu saat akan ditinggalkan
Atau ia akan atau tak pernah sama sekali mengganti arah kehadirannya
Namun sama seperti ketika ia tak hendak kembali
Dengan busur atau irisan ingatan tentang sedikit percobaan untuk mulai mencoba kembali
Dalam aliran darahnya yang datang sering tersentak oleh pikirannya yang kabur sebab manusia tak pernah mengira akan sejauh ini perginya
Suatu malam akan sama seperti sebelum terjawabnya sebuah pertanyaan yang menguncinya dalam ingatan untuk dapat dan sanggup bertahan
Hidup yang kesekian telah mengajarinya untuk tak patuh
Dari mana datangnya angin
Utara
Selatan
Segala penjuru di tunjuknya
Namun tak juga membuatnya menjadi sosok yang dapat dimiliki seutuhnya
Ia berharap sama sekali
Tak pernah berada disini
Yang ia ingkari hanyalah
Rasa lapar untuk memiliki bekal yang cukup
Dalam hari yang kadang penuh oleh jerit dan tak tentu
Nestapa
Kadang ia datang saja sembari memperkenalkan diri sebagai seorang yang pernah memberinya hormat
Tapi ia asing dengan perasaan itu
Yang ia miliki hanya beberapa alasan usang
Kenapa berada disini
Kemudian kami menghardiknya
Kaulah yang telah memilihkan tanah ini bagi anak dan cucumu
Kelak sungai yang mengalir keruh oleh keringat darah dan air mata
Akan menunjukkan dari mana arah datang nya
Yang bisa kau cerna
Dalam sekali angguk bahwa kau tak miliki sanak saudara
Yang hilang dalam percumbuan singkat dengan alam malam itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar