Rabu, 17 Juli 2019

Kamar

Sesampai di bukit
Yang nampak tak kau perhatikan jalanku
Memang benar sebelum ini
Namun tak kau resapi hadirku kata lelaki lain dipikirannya

Entah dengan bagaimana bisa sampai kesini segala yang menghendaki lalu kemudian suaranya pecah bersama ombak sewaktu itu

Takdir

Terakhir kali dan kita temukan lonceng masih bergantung
Pelan membunyikan dan pendeta masuk ke taman-taman

Lalu pun dengan pasti kau pun meraba kepada pikiranku
Dan simpangnya adalah kita tak akan bertemu kembali
Kemungkinan terbaik diantara satu yang terburuk apa memang hanya takdir yang berhak memisahkan

Bayang-bayangku

Demikian pun yang sama sekali bagimu tak menyediakan asa didalamnya buat berbuat apa saja yang tak kau ketahui akan menjadi apa selain dirimu sendiri

Kita malah lebih memilih untuk mengabur dan tak lagi menabuh dalam irama nafas kau saat ini telah tiada dalam bayang-bayang ku

Jangkar

Dan sampai jika kita tak ikut menyusahkan saja segala rencana dan yang sebenarnya adalah doa dan lain daripada itu kita gagal buat memberi arti atau kita yang munafik menolak untuk sebentar sekali ini sebab tak ada yang lebih buruk dari kalah dan ikut bersuara

Dimanapun aku akan lebih cukup untuk dapat ketahui bahwa bukan kita atau memang tak lagi ada semacam stigma melekat kepadanya

Sebagaimana aku yang suatu saat nanti merindukan penghujan panjang dan biar saja aku kembali disisiannya

Tidak dengan menambah atau mengurangi kita barangkali terlalu pandai untuk bermain siapa yang bukan kita

Sejenak katamu kau mau buat sekali ikut terbawa kedalam hari lain masa dimana kau terlalu tertarik untuk sampai kepadanya namun sebelum itu masihkah kita temui jangkar itu lagi

Resah

Dan untuk agar masih dapat merangkai tanya disetiap perjumpaan kemudian sampai dan menantikan kebaikan namun semenjak dulu disini ambang yang tak pernah merasakan atau memudar lagi rona itu

Makanya dengan sedikit bersusah kita tak selalu menggaris bawahi dan menyuarakan mungkin akan sama saja jikalau kau ikut bertempur dan tumbang

Disini disaat kita masih bisa dan tak lagi mempan oleh kata-kata kita menemu dan dalamnya lagi sungguh tak ada selain kau dan aku terlalu takut sangat untuk pelihara keyakinan kita

Semenjana

Semenjak yang terdapat dari sini kita sisihkan kemudian dengan waspada beralih ke lain suara
Sebabnya yang tidak lagi dapat kita hiraukan menampakkan taring dan bisanya

Dan yang tiada lagi kita dapat miliki menghambur di udara percuma saja
Keluhku diantara bidak kita mengatur sendiri sebelum nanti tengadah dan tak ada lagi siapa kita

Seandainya nanti kau pun kalah dan kita menolak hadir lalu dengannya menerima saja sebab tak ada lagi selain dengan begitu atau dengan lain kesempatan

Menyambung

Telah sampai padanya suatu kabar mungkin
Dan kita bergerak hingga yang tersisa hanyalah celah untuk lagi dapat menerima

Dan yang kian mengisi kita sebut anasir-anasir itu
Dan tiba-tiba kita menguji kebatas yang tak mampu kita sentuh
Adakalanya menadah dan menuangkan kepada tanah
Tetapi yang kian hanyalah putik yang menyambung sembunyikan menjadi bisu

Hal pertama

Tak berkenaan dengan hal pertama yang dijumpainya ketika telah keluar gedung tua itu

Saat itu telah ia jumpai berapa saat sebelum beranjak barangkali di utara namun yang jelas tidak dari sini asal segalanya sebelum jatuh dan bergerak ia menyambut menggumam bahwa mungkin dahulu pernah dan dengan sabar ia tak lagi mendengar berita buruk yang dapat disampaikan oleh siapa saja

Perlahan ia mampu dan telah sekali ia berjalan pelan menyusuri jalan kecil di gang sebuah mesjid dan meneruskan langkah kakinya menuju kemana ia tiada pernah bertanya

Selamat malam

Diambang pintu berjaga
Takdir yang kalau kau bergerak ia ikut menjauhimu demi segala kemungkinan yang kalau kau datangi menjadikan bahagia milikmu sehari itu

Ia yang percaya pada pagi dahulu tak begini atau mestikah segala sunyi ia rambati pelan sebelum bujuk rayu yang pertama dan setelah itu kedua kali

Kau tak pernah mengharapkannya masuk dan mengetuk terlebih dahulu lalu menanyakan akan kubawakan apa supaya nyenyak tidur malammu nanti jika mimpi tak dapat kau temui masihkan dengan dosa pertama dan kau sebut itu cinta seperti aku api yang membakari ingatanmu dan mengabu kenangan itu, selamat malam tuan besar sampaikan salamku pada bidari-bidarimu.

Patah

Dan jika nanti kita menapaki apa yang tak lagi kita kenakan kita tak sempat bila hanya bersama sungguh tak cukup waktu untuk itu
Pergilah tak akan sempat

Abaikan

Demi kau pun nanti aku akan menggarami lagi luka ini dan duka kemana temukan tautannya tak hanya dengan begitu kita terlatih untuk mendiamkan segala perkara sebab terlalu banyak dan sudah sangat banyak

Makanya aku akan lebih sering untuk menepati janji
Dan tak sudah aku lebih suka bila kuhanya dekatkan segala yang merapuh di kelam ini

Menanti

Sebagaimana dengan yang akan terjatuh selain ini kau tangkap
Tetapi kenapa pula daun di altar itu bergoyang tak cukupkah

Dan kita nanti hanya akan menggodanya sebab tak ada lagi dan kita dibiarkan untuk begitu

Namun perahu ku kan berlabuh diantara sembab dan curam tepian itu
Hanya saja kita tak melebihkan perkara
Hanya saja kita terlalu senang buat menunda-nunda

Aku

Dan yang hanya menemukan titian ini tak ada akan mendapat sebab kita terlalu dapat sangat untuk memaafkan

Sedikit saja

Ibarat dengan sedikit saja
Saat paruh waktu menghajar
Kau yang pertama kali mendengar
Kita tak tentu dengan permainan dan cikal bakal

Tetapi pun ada saatnya nanti kita melihat apa yang diungguni dan tetap terus begitu sebabnya  kita tiada beranjak kemanapun

Dan lagipula waktu tiada pernah memberi sedikit perumpamaan dan yang sekali menyentuh akan terbirit pulang dan tak kuharap kembali

Senin, 15 Juli 2019

Puan

Ibarat kau peluk keduanya
Tak ada yang berlari
Hanya saja di kanal orang lagi sibuk
Ada yang terdampar
Ada yang hanyut terbawa

Tetiba karib pun mejelma kunang-kunang dan darinya kita berlindung terhadap kuasa laut tenang

Amarah terhenti ktika itu kita berlabuh lebih beda lagi disaat kita tak menemu yang mengakar jauh ke bumi terbenam membelah
Dan andai dirisaumu bertemu cerlang matamu
Dan nyali yang ciut tak lagi berani permainkan jemarimu

Berjalan

Ada yang tak berdawai itu
Tenggelam dan hilang suara
Sekejap mata mengatur tak sama sebagai dirinya
Terlebih yang bukan ia kuasai
Atau masih kita temukan kembali arah dari segala patah ini

Tak biasanya

Terpisah juga pelangi itu
Dari yang menakar cuma ia katakan
Sebelum lebih tahu dari yang lain

Di jalanan debu lagi tak biasa berterbangan dan sampai kembali kepadamu

Di samping tepian yang basah kini kita sanggup dapat berdiri
Namun kan ufuk kembali di atas cerlang matamu

Roket menuju bulan

Diambilnya sebatang lagi dan tak cukup untuk membelai rambutmu yang terurai
Namun yang ia hadang rasa percaya pada yang teraba jauh sebelum kita
Apalagi jika yang kami ketemukan yaitu bergantian dan mengulang kembali ucapan
Sebelum masing-masing rebah dan punya lagi jeritan pada malam yang menadah

Sebelum hitam dan darah

Sebelum hitam dan darah
Hanya darah yang nyata
Tetapi merpati kan datang dan merendah juga
Ditelan rabunya ditepis pada angannya yang biru

Sekarang hidup jadi semati tugu
Dihamparkan dan hilang sekelumit dari penantianmu
Aku akan ada ketika malam itu kau sebut dan lebih pilih untuk dapat diam saja

Atau keramahan hanya senja di ufuk itu sekelebat berganti dan bayangnya jadi menyambutku
Apalagi dengan mira cuma nama dalam padanan kini tak lagi menara itu tinggi kugapai

Sampai yang kau duga

Sampai yang kau duga pun tak menyangkal untuk kemudian berpindah pada lain dan hanya itu

Kita tak sekalipun ingin untuk mengungkap sebenarnya yang ada bersama kita
Namun jauh lagi dan sebelum itu telah bertumbangan ratusan ribu tewas menyemut dalam perangku

Apalagi bisanya menganggap diri lebih penting hanya supaya agar menang dalam pertempuran dan kita pun anggap tak nyata

Diantara

Diantara pusing liang matanya
Tak bergeming maksudku lagi
Dan kita telah lebih menganggap yang tak pernah menduga sebelum ini
Apa benar seluruh menyeru kau pada liyan

Sampai lagi tak terdengar pilu ini mengabu sempurna jasadku
Kelak disambutnya lagi deretan panjang bangku itu sebagai namanya sendiri
Yang tak terperhitungkan hanyalah kematian

Dari sini

Dari sini kemudian kita mengandaikan yang jauh bergerak hingga terbawa kita olehnya

Satu lagi tawa itu hanya jatuh diantara derita kawanku dan aku sebab cinta telah lebih dulu menjauhinya, sebelum sempat sampaikan pada kasihku dan tak berkedip mata menatap

Pada kilau yang terbit

Pada kilau yang terbit sebelum berdentang gerbang dan kita kuat
Sampai saatnya yang kita hapalkan pada saudara kita yang sanggup menyahut sadar pada yang bukan butakan

Hingga waktu padanya lagi
Bergumam sembari kata itu kembali pada akhirannya
Tergagu ia termangu yang dicelanya bukan dari rangkaian namun di luar-luar suara

Dysphoria

Sebagaimana aku rindumu dalam bukan
Dan berpendaran cahaya dibalik samar itu
Saat nan telah lama kau nantikan
Namun tetap kau padaku mesra

Tak kau tatap bungkusan jasad itu
Terperangah kau pertanyakan
Begitukah asmara kita akhirnya
Menghembus yang tak berdawai dan membawa kembali masuk ke akalku

Kecuali

Demikian kita mengambil yang tak hanya berguna lagi namun sekeras batu pun percuma
Di hidup yang terang sekali mana pula ingin dengan apa yang tersimpan belum mau dibuka

Begitupunkah bersama erangnya atau kita yang tak jemu malah temukan yang tajam mengena kepada sasarannya

Sedikit sekali untuk dapat dimiliki sebab sampai begini tak terdengar kemudian apa-apa yang mungkin pernah terlibat dan sepenuhnya menjadi tanggungan yang harus dikurangi

Tentu saja apa yang kita dambakan yang tak pernah menemukan tempat dan hanya mengalihkan kepada lain lapang yang kita sebut pengecualian

Pelankan suara

Bentaknya pada gugur daun segala
Cuaca menghambat tetapi kita bukan menghadap pada bayangan sendiri
Yang tercabut adalah sedikit dan kita punya lebih dari sekedar kesiapan lagi

Padahala pada sedikit lagi yang memberati pundak
Atau siang yang terhindarkan dari ceruk dan dawai
Mari rasakan saja apalagi pilihan selain menggembala

Dilain diri misalnya senyum sopan dan ketika mendapati tak lebih hanya selain keinginan yang dihabiskan oleh banyak cara tak dijual

Tak akan sama

Mempelai wanitu itu tinggalkan sebuah meja kosong tak ia tempati
Sementara dikamar nanti mungkin akan hilang seberapa atau makanya saja tak perlu lagi kami temani

Dibawah segalanya sesuatu terbilang dan itu hanya akan dapat diterima tanpa aturan dan lekas membayangi

Segalanya tampak usang sekali lagi ia bersuara tetapi bilik terlalu tinggi dan ia tenggelam dalam ilusi seperti kami

Hapus

Abai dengan rasa itu kali tak merah lagi
Ia benamkan dirinya
Sekali tiba ia pun menagih kepada wangi dupa yang dihirup namun kini tiada beda lagi ia hapuskan jeritannya pada untaian karang

Dan telah lama ia terkenang dengan
Haru biru tak terelak lagi dan yang pulang telah lebih mampu menenggelamkan

Kisah

Sebelum datang hilang dan yang tergantikan setelah itu mungkin hanya batu

Kemana saja tak adakah dijumpainya
Atau membusa dibibirnya
Kelak akan dijumpai juga

Tetapi kan yang terbilang masakan terpenuhi juga
Saban hari ia kaisi dan yang terpenting adakah sedikit lagi jaraknya

Tak sampai diceraikannya hingga menaati nanti namun sekarang telah telah lebih dahulu dicerna
Ia basuhkan pada rembulan malam itu

Ujung

Dimanakah berujung selendang yang tersimpan
Kita kadang menyamakannya dengan sepetak ladang yang kita isi kemudian

Pernahkah kau temui lainan soalnya
Dan yang terkena lebih mengurai dan batas tak sedia bila hanya kita yang menjamin

Dari dulu pernah kumiliki yang menggapai terlebih kepada ceritera yang memanjang dan kita tak sanggup sebab itu kucukupkan saja

Selebihnya katamu bidik kearah celah dimana menyempit dan mengabur kedua pandangmu
Kita telah kalah oleh jatuhnya buih tepat ketika atas terlalu untuk dilompati

Dan yang bukan kita miliki kita simpan terus di dalam mimpi

Sebelum terbit

Sebelum terbit barangkali menyamar sinar
Dan setelahnya kita kembalikan sekalian
Sekenanya kau sebut aku penghuni malam sebab siangmu telah habis hanya dalam hitungan

Kelak kita merasa telah lebih menyukai yang tak lagi kita dapati sementara

Atau badai yang berpusing di lautan
Juga kenapa dengan terang bermandikan kita pernah merasa telah lebih hidup

Dan aku akan lebih tidak perduli pada gerimis sebelum jatuh melantai

Jumat, 12 Juli 2019

Mantan

"Demi batang nira yang capai selalu untuk tenggelam oleh cahaya bermandi semburat jingga di ufuk mega."

Sebelum pacar

"Pada asalnya kukembalikan yang tak sempat terpakai, dan hanya cecunguk permainkan yang tak benda menggapai-gapai sukmanya."

Dewasa

"Dan hanya gertak pada senar yang parau atau risau yang selalu gagal menyerang sebelum fajar menggamit horison."

Dupa

Kepada riris yang tak pernah berhasil kupahami dan dari mana asalnya bunyi yang kekal dan padat serupa cakram yang menggerakkan dan menepis butir demi butir amsal tak terikat lagi pada gemanya yang melebur sebelum sampai masanya.

Segala milik yang pernah kubagi oleh sebab setia yang terjajah,
Dan arah segala diam yaitu semedi yang kerap terjadi tanpa kesediaan.

Sampai juga segala penat beradu sekali ini aku kesalkan pada hidup dan bertentu tuju.
Kita sia-siakan.

Mencoba

Sejauh kini yang terpandang
Cuma bukit dan kita rasakan begitu dekat,
Nyanyian kepada padi dan ladang yang dipaneni,
Permintaan kepada agar tak menggubris dan turut saja perkara penghidupan,
Dan yang sangsai merasa pandai untuk tak lebih dari mengambil kembali pada sejati.

Semasa

Menjangkau ku mencapai mu
Kukira yang tak dibukakan hanya sesuatu yang kita akan lepaskan,
Lain dari pagi ini masa-masa dan kesibukan entah pada apa roda berputarnya kembali lebih jauh lagi.

Bangun

Setelahnya dengan begini ukuran kepada apa yang sempat tak lagi kita perhitungkan
Yang hilang sebelum itu jauh lebih bisa dipahami
Hanya kepingan diri yang ikut meringkuk dan tak patut disertakan dalam percobaan apa saja kali ini

Sehingga jarak lebih terasa hanya mendekatkan pada kemungkinan untuk masih tetap ikut bernafas dan memiliki sebelum benar-benar kehilangan

Menunda

Maka kini ia dihadapkan kepada yang terbujur yaitu waktu dan cuma pergesekan tanpa sebab, sekali saja ia menolak untuk lari dari pandangan yang mengabur dan jangan dengan hanya berdiri atau mengambil diantara separuh keberaniannya yaitu oleh kegentaran yang abadi bersemayam dikedua biji matanya kepada pertemuan

Kode etik gentelman

Daripada bertanya dan masih meragukan jawabannya, kami setuju untuk tak memainkan peran ini sengaja, sebab di suatu tempat semua orang tak suka bermain-main dan pikiran yang majal masih inginkan suatu jawaban.
Kami tak pernah merasa berhak dan makanya setiap perhentian kami hiasi dengan desahan atau bahkan percintaan yang kerap kali gagal tetapi berhasil di ranjang, ya sudahlah sebagai lelaki hidup cuma antara mati dan pura-pura mati;

Rasain

Sedikit mengadu telunjuk wanita gila itu isyaratkan sebuah perpisahan yang kerap kali terjadi dan akan biasa-biasa saja pada akhirnya.
Namun jauh di pulau seseorang telah lebih dulu mengambil kendali atas hidup sebuah, sesuatu, sebentuk, seikat, atau apa saja.
Yang jelas bukan itu maunya dan mungkin akan lebih biasa saja karena memang pada dasarnya setiap orang yang tidak gila menginginkan lebih dari sekedar kegilaan dan selama itu tidak merugikan orang lain kami anggap hal itu biasa-biasa saja;

Entahlah

Pelan dibimbingnya anaknya oleh si ibu
Itu ibu yang kemarin bukan, yang ketahuan selingkuh dengan suami seseorang
Oh ya itu anak siapa pula,
Saat itu di pasar dan orang mulai jenuh dengan suara ringkikan, celoteh, dan hiruk pikuk yang sengaja dibuat-buat.
Pedagang itu mengecilkan volume pembicaraan mereka saat si ibu tadi melintas mendekat
Mendadak kerumunan dipasar berobah jadi rombongan sirkus yang tersesat di suatu daerah pinggir kota dan hanya dikepalai oleh si ibu tadi.
Anaknya di sambut oleh seekor macan tua yang sudah terlatih dengan serba kesembronoan sampai penonton masuk dan tanpa celah si ibu mantap memulai pertunjukannya sebagai ibu-ibu selingkuhan suami temannya.

Bukan hal semacam itu

Bukan hal semacam itu
Seteru hanyalah kata yang jarang sampai dibaliknya mesti ada kepentingan dan yang tak berdasar hanya cicilan tak perlu tahu jaminannya apa, asal jangan kewarasan.

Maaf saja apa aku terlibat lagi padahal seharian hanya melompati jurang dibibir dan tengkukmu itu

Kita hanya hasil rencana kecil tuan besar seakan esok tak boleh pulang ke alamat yang sama lagi. Dan yang kau perlu tahu ya memang tak banyak memilih jadi seperti kami tak apa-apa bukan dan besok lagi tahan sekuat tenaga

Legenda iyem dan abang becak

Di bawah beringin yang rindang
Berdiri pondokan tempat tukang becak selonjor menghabiskan panas di badannya
Hari baru datang juga begitu pikirnya
Maka kalender lama yang telah penuh dengan coretan ia sobek

Setahunya tak ada yang berani mengganggu tidur siangnya
Selain suara murai peliharaan
Dan itupun sudah mampu ia diamkan
Kini hanya siulannya sendiri sambil memecah gaduh jalanan dengan lamunannya menuju langit ke tiga belas menemui iyem dan kawan-kawan
Ia khawatir bagaimana kelak suatu petir menembus benteng yang ia bangun dari awan
Sekarang iyem betah disini tak mau beranjak
Dan yang ada telonan yang ia rangkai sambil menjagai si abang becak
Iyem dan abang becak tak temukan lagi tempat buat indehoy di sekitar sini mereka hanya ingin tetap jadi penghuni langit ke tiga belas
Tak peduli siapa tuhannya

Matari beri kami arti lagi

Matari beri pada kami arti lagi
Jiwa yang tak terbasuhkan
Malang yang datang tak dapat pergi
Hapus senyummu bidari seribu
Jauh lagi parit hendak digali

Kita akan menemu malam
Berlecut mimpi
Dan yang koyak altar rebah sebatang badan; tempatku nanti
Jauh dari ranjang menanti kini

Akan bicarakah bila meja telah sempurna bundarnya
Sembari berlaku kutautkan juga pada pasainya wajah oleh kesumat memuncak
Padat ketika itu

Perihal kejadian

Perihal kejadian
Ada yang salah memang dengan permulaan
Ada lagi yang tak terdengar
Malam dingin begini
Lebih pekat dari malam
Di kemah orang berbisik pengantin tak lagi perlihatkan; pesona.

Jurang

Menghadapi ujian seperti batu
Kala derasnya saat jinak memaafkan akan sama dengan bertahan

Biduk tenggelam di balik pulau
Makin tersisih dan ucapan
Maka ia tawarkan untuk sekejap bagaimana

Banyak tempat untuk mengadu
Makanya jadi sesenang ini
Kita biasa untuk berpapasan di pasar yang hampir ramai

Selasa, 09 Juli 2019

Pintu terhempas

Pintu terhempas
Dan yang putih sajak kepada kawanan unggas itu lagi
Kita bisu sebab unggunan tak menyala
Tak sedia kobarkan yang kita punya hanyalah seperti bantal
Apalagi sesudahnya kata merekah dan kau tak layak sambangi

Makanya aku marah kepada iring-iringan ini yang tak beri berkat
Pada pilu yang terlewati
Sehabis ini kita pulang tak usah pertanyakan pada malam

Setelah mekar

Setelah mekar tentu ia bakalan jemu dengan titah
Kau dapat memberi arti atau melukai
Bukan kita sepertinya

Hanya kata dan kita

Hanya kata dan kita
Libur berdusta
Makanya aku kadang tak sedang untuk mencari lagi arti
Kita bukannya tak akan menemu
Pangkal sebelum itu

Maka ia memilih pergi jauh
Kelana ke bumi asing
Katanya biar tak terdiamkan lagi
Atau sebuah suara yang ia bungkam
Kala itu sunyi

Bila kau ikut putuskan

Bila kau ikut putuskan
Mana yang selain kita akan kembali
Hanya kertas
Tak terlindas lagi

Kita cuma diantara petik dan koma
Kemana jatuh pergilah jauh

Manakala kita tentulan labuhnya
Tentu hidup tak lagi akan terburu-buru
Walau yang rumit terlalu sedikit lah
Atau jarak yang direntangkan
Jarak kesedihan dan kepedihan cuma sejengkal saja

Negri

Sebentar lagi akan ada
Atau tidak
Hanya debu terbang di sapu majalnya jalanan
Kita diam-diam rekah dalam penjalinan
Melipat jarak memutar
Ke arah mu aku kan sedia jatuh

Maka percuma saja berterus terang
Namun semua asalnya selain sunyi
Tenggelam perlahan atau yang tak bakal menahan

Hatiku dan jiwaku
Atau yang kita katakan bukan saja milikmu
Letaknya diantara pena dan tinta

Maka akupun menagih
Suatu kali jauh dari sini
Kemana katamu kau raih
Hanya kepedihan selain keteraturan dan tak terbantah lagi
Sejauh tuhan meraja

Kenapa ya

Kenapa mawar selalu merah warnanya seperti suar yang dahulu bukan
Tak tahu sekarang apa masih begitu saja

Lalu kenapa tak ada keadaan yang benar dapat menaklukan kita
Apa benar dengan begitu kita bisa bahagia selamanya

Rupanya

Sampai telah menemu
Dan kutambatkan pada siang dan malam

Bejana yang terisi dari lenguh dan sumpah kota
Namun tak lagi akan berkurang
Mana yang jatuh sebelum tumbang

Maka larilah yang bakal
Menjumpai tak enakan bila hanya kudengar namun tak sampai bentaknya kesini
Terlebih lagi yang kita segerakan hanya perkiraan saja

Sesuatu itu

Dan kita kejar adalah sebutir, sebuah, sebentuk, setajam, dan bagaimana bila ia hadir menggenapkan yang ganjil

Tepian

Bagaimana jika yang tak tersentuh itu mengambil tempat
Dan kita sama dengannya
Mengira saja

Sebab itu lahirlah
Sajak dan sajak lagi

Dan mari

Dan mari saja kau kuketahui ada
Serupakah dengan rumpunan ilalang mengancam
Lalu bagaimana malah hanya untaian sebelum lapang

Kelaparan adalah puncak
Selain menyebut apa sebabnya kita kemudian tak beri ampun pada kemiskinan

Tak banyak yang bekukan dan nanti setelah mega mencair dan melumat segala persendian yang hidup atau sebaliknya

Entah apa saja

Entah apa saja yang bukan kita pahami
Maka tak banyak
Yang ikut berladang di guguran daun demi daun meruyak dan membenam ke bumi dalam

Begini jadinya bila tak tertib
Bila tak suka pada nyata diungkap
Segalanya mengabur membikin batas antara terang dan sulit sebelum ditegur

Kita hanya kota sebelum kejepit oleh mainan yang tertinggalkan
Apa cuma aku yang merasa lebih bodoh jika semakin banyak habiskan waktu dengan buku-buku

Tak perlulah mengukur atau menakar sebab yang tersembunyi itu ialah sebenar-benar perlakuan

Sebab aku selalu takut sebelum surya pecah dan nanti akan kita beri muara pada senja yang tak lagi kita hitung
Sebab aku tak turut mengabur sebelum bias dan sinarnya melebur
Sebab kata bagiku hanya kata sepertimu

Entah mengapa

Sebab terlalu pelan atau entah mengapa mungkin sewajarnya
Kata benda adalah puisi
Dalam tumpukan rapat kertas kerja dengan parah jemari mengemasinya
Oleh para bankir

Namun sebelum timbunan pasir dan dengan sungguh para teknisi menghindarinya desing mesin yang tak terukur

Atau didepan cermin sebagai seorang petugas yang berkelana sembari menghisap sebatang rokok yang dibeli karena tak sanggup dengan televisi

Dihadapan adik-adikku celaan adalah mainan milik temannya yang disembunyikan lalu tak usah beri arti lagi bagi si penyair yang terlalu mengantuk di siang yang sangat panjang

Ada yang kian kentara

Ada yang kian kentara
Hadirnya namun kau tak juga
Pernahkah embun menjelma seorang putri dan sayembaranya terdengar hingga kesini

Kita kelak cuma tinggal menunggu dan mengabur sebelum batas terakhir atau bertemu lalu menguapkan sisa-sisa mimpi yang tetap kita kaisi

Telah pernah seorang bungkuk datang padaku dan bertanya apakah masih ada harapan di bumi yang terang meski telah kita padamkan nyalanya
Ia berkata kita mungkin hanya dengan begitu merasa bersama-sama melakukannya
Tak baik jika hanya mendiamkan tak sanggup jika melebihi rasa takut ku sendiri bukan

Lagipula hari telah lama berkabung setelah habis rakaat pertama dan takbir belum pecah dalam kiasan antara kata atau doa kita manusia melayu berwatak tak menahu jika ada yang lebih beri arti dalam sekap yang tiada dapat terhenti

Ada yang pecahkan

Ada yang pecahkan selain suara ombak tentu merdu yang kukira namun tidak saja ia mengaduk wajahmu dalam ombak

Dekat lalu kita kian saja tak mengenali isyaratnya yang telah lama
Tiba-tiba
Rasa takut itu bersembunyi ke balik tubuh pengecut

Tak pernah sekalipun aku dan dia menunda buat beramai berangkulan menjelma kita
Hanya saja katanya tiba disuatu saat yang lapang tetapi yang dipikirkan bukanlah rendesvous tak terelakkan itu bukan sangat telak

Apa saja kita kira tidak bernyawa saat ia merapat dan tak timbulkan suara apapun
Mungkin memang dengan sajak ya hanya dengan sajak setiap suara bisa merdeka

Kelak kita

Kelak kita tak menghamba ditindas
Atau memang hanya dengan
Sedikit saja percik nyala itu mengurai di udara
Kita tak lagi ada

Dan bisumu ketika itu
Aku tahu tak ada yang lebih disukai selain menunduk dan diterima dalam samar-samar ini begitu tak bisa kita jelajahi selain tubuh atau berparit lembah itu

Telah sampai

Telah sampai bukan peluruku yang dahulu
Kita berdiam di himpunan gelas ini
Yang keras dan tak mau berubah

Jika pagimu benar telah lebih sukar untuk diterangi
Ke perahu labuhnya dituju
Dan jika suaramu tak lebih cepat mengabu seperti alunan riang gitar ketika itu

Aku mendamba pada padang tanpa ilalang
Atau hujan tanpa petir
Gila, kita bisa benar-benar binasa

Kalah menangkis pukul

Kalah menangkis pukul
Meursault menimbang untuk tak kembali sepertinya
Namun yang terluka
Bukan tak berdarah hanya lebih kepada mengalah

Beranjak mencapai trotoar yang basah dan lembab
Selalu dengan seringai menggarisbawahi dirinya bukan yang sekarang ini

Sampai pula kepada merdu dan apapun tak terperhitungkan selain lagi dengan bertamasya ke luar-luar pikiran

Dan tak tersembunyi

Dan tak bersembunyi
Dalam sekali jatuh dan sekali terbunuh
Sebabnya yang tak mampu kulewatkan seperti takdir katamu

Hanya saja

Hanya saja kita lagi tak berjanji saat berjumpa bukan
Adakah sedikit saja kita merenggut lalu lain itu kepada sisanya melepas bentuk

Selebihnya kita dapatkan dalam rindang cuaca
Dan hanya saja
Ia jadi kaku begitu dan aku pun kelu

Namun tak adakah selain ini
Berkeluh kesah dan sesekali tawarkan pada yang tak kita punya

Telah dapat

Telah dapat sebelum datang dari jauh sekali dan menanti
Apasaja kubikinkan
Dari untaian sajak ini

Dan mereka kemudian
Tak letih untuk bila terlalu bersuara
Dan yang akan tetap menghuni disini selain rima hanyalah engkau

Tetapi kita tambatkan pada siang dan malam maka luruhlah segala igauan segala bentuk ketidakmampuan menjadi apa saja yang kita suka

Yang terelak kemudian

Yang terelak kemudian bisa sanggup kita kedepankan
Atau begini memang hanya terlalu tiada harap
Dengan sangat

Memilih membelakangi
Segala bahan yang tak jadi perhitungan kini

Dan kuasa malah lebih dari sekedar peringatan
Atau kita akan tepati kemudian

Sejak hari pertama

Menjumpaimu atau tidak
Berdiri dibelakangku bisikmu
Sebab yang berhembus cuma angin pada saat begini
Sebab yang tertahan hanya rahasia dan kau tak tahu lagi apa pentingnya

Dan terimalah seperti tanah menyambut guguran daun itu sebelum menyatu atau membusuk barangkali telah berkabar penghujan itu

Dan hanya lekas ia berlalu tak lupa pula untuk menyeberang katanya ia bakal tak lagi kembali kesini ke ruang-ruang yang dilupakannnya semenjak ia tak berani mengambil hati seorang gadis

Terlalu untuk ini

Terlalu untuk ini dan kabur ke arah yang lebih berlainan
Kemudian terpapah sebab yang dirindukan tak lagi bulan
Samar-samar mengendap dan kita kelak melambaikan padanya tak adakah sedikit keteraturan yang kujalani selepas ini tentu kita kan menagih sama tahu tentu tak beda laku

Senin, 08 Juli 2019

Yang kita inginkan

Yang kita inginkan hanyalah diantara petik
Bukan itu saja nyatanya
Ada darah yang terbuang sebelum tiba pangeran
Ada saja yang bicarakan tentang hujan
Suatu saat diberanda kita tidak lagi peduli pada suara-suara

Namun hanya kesedihan yang datang tak serupa dengan harapan yang kini kau timang
Selamat malam paduka

Melintasi lembah

Melintasi lembah ini
Yang ada hanya nina bobok
Suatu malam kanak tak perlulah menemu fajar

Atau meminjam apa perlu dikembalikan
Kita terlalu rapat dalam isyarat
Suatu hari menjelang reruntuhan itu dibereskan serupa dengan ingatannya padamu

Adakah jika kita menenun badai diantara laut pasang dan menjelma lumba-lumba yang salah mengira

Juga sama dengan piyama yang terbalik digunakan miliknya pemberianmu bukan

Aku salahkan kau

Setiap malam

Setiap malam lajur nan dahulu
Kini dipenuhi tak lagi oleh cermin di pantai yang panjang

Apa pasal kerumunan itu dibungkam dan ia berlari menuju bilik milik tetangganya

Hari kukira telah baru lagi
Maka ia dihadapkan kepada penjuru yang akan asing bagi siapa saja

Namun pikirnya begitu tak ada salahnya untuk membuka pintu
Dan biarkan mereka masuk dan menemu seperti anak-anak kami dahulu

Hari itu reda

Hari itu reda dan semua yang kuasuh kubasuh dahulu
Sehabis berkelahi dengan diri yang lain
Ia pura-pura saja menghadiri
Padahal tak diundang atau dengan merebak
Rasa sakit yang tak berguna keluhnya

Maka ia pilih menuju ke pelabuhan yang ramai dibenamkanlah keraguannya pada karang dan pasir
Pada ombak dan angin

Tentu saja dengan amarah yang belum selesai dipilihnya sebuah tempat untuk berangsur pulih dan kembali dengan rahasia di pikulnya waktu

Sampai pula ia lupakan

Sampai pula ia lupakan
Sesuatu yang kau punya
Tapi dirinya yang dahulu
Jangan dahulu
Ia di ingatkan
Sebab terlalu renta dalam menanti
Yang tak kunjung jua

Kita menerima tanda-tanda sebagai kiriman
Sebagian lagi menghilang
Dan kau tahu pasti

Kemanapun yang diharapkan

Kemanapun yang diharapkan
Ataupun tidak kita kelahi dalam ketiadaan
Yang ada hanyalah

Entah bagaimana datang juga ia
Pagi ke sepi
Siang kunanti

Tak mau pula menerima dengan senjata ia kuhela
Ke selat tempat ku mengadu

Sampai semoga

Sampai semoga dan yang kuhilangkan kali ini hanyalah kesejatian
Tak apa bukan jika hanya siasatmu
Untuk bersatu dan ke kelam kita tiada diburu

Sampai lupa pula
Kureguk hingga jelaga terbenam dalam dan tak nampak

Sesaat diamlah ia yang keluar berganti rupa

Syarakat

Tak sampai hanya dengan arah
Ia pulang dalam pelukan

Lagi dengan kepul itu kau garuk hingga tak dapat

Lain sekarang ia tiarap dalam tembang adalah yang tak akan dicobanya yaitu kepura-puraan

Kita piala lagi terbilang
Tak punya kenangan sepi kujual
Membatu dalam goa mu
Hilir mudik membentuk
Takdir mu

Yang kini jauh begitu

Yang kini jauh begitu
Tak banyak cara untuk hidup agar dapat bertahan
Sisanya memilih menumpu pada apa saja yang nanti baru diketahuinya
Apakah sengaja tuhan

Selama berjalan silih berganti keluar masuk
Yang mana lagi akan tak sempat
Sebabnya aku berbagi berkat bukan nubuat

Menjelang itu terjadi kita kemudian tak percaya kepada kesalahan dan terus mengulangi

Apa-apa kian tak nampak
Bergemuruh di sebut
Sepi dihisap

Kita kelana tak tentukan arah
Namun pulang jua keharibaan
Dan sampai kasih kita pertautkan tak lagi temukan bahan

Sekiranya

Namun tiba-tiba saja ia berdiri mencapai kau
Dalam tegaknya itu ia hanya perkirakan satu
Yaitu ucapanmu

Maka lain pulalah sekarang yang di cabut tak berakar
Hanya senandung kecil sepanjang jalan

Kita ceramahi dan tetap tak terganggu lagi
Amarahnya itu yang kadang kau rindukan juga
Sementara langit berterima kasihlah masih punya hidup

Sajak kini

Tetapi yang diributkan tak ada
Hanya jendela dan angin malam yang memaksa masuk
Sebelum jatuh di telinga kita hingga bersua apa yang dicari

Sepadat itukah nyatanya
Selepasnya tawa atau masih kita mampu bercanda
Dalam hidup tak juga bersuka

Selama hati kita kau jangkau
Dan tenanglah geraknya lebih terciumi kini

Melangkah gembirakan apa yang tidak kita suka yaitu kehampaan
Di bulan pun cuma beternak terima kasih

Xyz

Ada yang berjatuhan
Saat langkah kaki lincah
Menghindari batuan
Adakah yang kulewatkan
Selain daripadanya

Lalu kemudian kita tertawa terbahak-bahak
Apakah kesenangan selain ini
Selain menunda sebelum mengakhiri

Menerima dan kau seolah tak tahu lagi yang patut atau tidak
Kita hanya tak mau dikebiri
Bukan begitukan kau katakan

Minggu, 07 Juli 2019

Seorang tua bertanya

Seorang tua bertanya kabar
Tak usah kau jawab
Ia hanya kangenkan dirinya sewaktu muda

Dan sangka saja
Ia tak kembali dari igauannya
Lalu kemanakah yang tak lagi kesampaian
Oleh kita

Tetapi masihkan duka itu berderet-deret panjang serupa doa
Tetapi yang tak lagi kita raih hanya saja seumpama dengan laba

Apa saja lagi tak temukan lobangnya namun apa saja tak tentu dan kita tetap lakukan yang terbaik

Hariku kini berganti

Hari ku kini berganti yang sebab kembali
Kemana risau harus lari
Dan sudahi yang tak terucap tapi tertuang sebelum tiba

Kita cuma bertahan dari amukan dan sebabnya itu terlalu lama
Sudah mandek dan sepat pula

Merangkak naiki dinding buta
Dan yang kukenang hanya mainan di sudut serambi

Apa saja hadir namun kau tak jemput tak sungguh-sungguh untuk itu
Kita merencanakan pertemuan sekaligus perpisahan

Santai

Dan peluh mengguntur dalam sukmamu kau bagi tanpa peduli lagi

Ini hari mesti ketemu yang dahulu tak kau capai kau piara dalam piatu

Sebab itu santai menjawab dusta

Tulus

Selama masih berkelam malam ketakutan masih dipungkiri adanya sebab terlalu merana ia menanti-nanti sambil menimbang-nimbang

Sebelum rubuh suatu tubuh dan menara masih sepi meninggi
Sebab susu dan madu karenanya

Kesana

Kesini menjemput malam kelak menjumpa pagi lalu pulang

Mengerang

Waktu itu aku lagi rindu
Pada fajar yang menyingsing
Ilalang yang mengancam
Sembilu yang kau tolak

Semakin kini ia bilang celaka hanya milik perempuan tanpa curiga
Menamakannya menawan kita sebut ia dalam menanti tak pernah sekalipun mata menyentuh mata dan gentar itu masih ada

Kelak kuraih arifku dan bijak berpaling menemukan kau
Sesaat lagi ia puas bercengkrama dengan lumpur dan debu mata jadi merah karenanya

Ia yang hanya sebabkan gelisah ini tak kunjung surut ku nantikan di gerbang bersama nestapa yang syarat dahulu
Lalu bisu

Katamu

Sebelum surut dan bintang lagi terang nanti kau tunjuki aku dengan mengeluh tak banyak yang bakal melandai seperti desah biduan kau jaga aku ingat sebelum jatuh bintang kita berucap agar yang buruk lakunya tak lagi disebut namanya

Anekdot

Manakah letak antara garam dan gula yang nanti kita kaisi sebelum tenaga sampai benar dan cela rubuh oleh pengakuan

Mana pula segala regang bertemu dan hijau kini tak lagi begitu anggun di mataku yang bergelut sepi menggoda dusta
Bahwa melati tak hilang harumnya di gundukan bangkai

Selayaknya

Berlainan pula kemana pantai dan yang tak datang hanya kesedihan menarik diri dalam malu yang mau bertaut seakan hidupmu hidupku bersambut dalam senang pula kuhitung bintang aku terpapar bujuk rayumu

Pucuk dicinta malang pun tiba

Kuminta hati agar jangan beranjak dahulu kelain bidang nyatanya gerak tak banyak selain cuka mesti dihadang kita pelaut tanpa buritan menyandang pisak lalu melanjut ke laut lepas
Walau hidup sekali tujuan pantang mundur hilang di lacurkan

Manakah mata kini kusebut hanya meminta yang tua berkalung sabut yang muda bersandar lapuk

Ini hidup sekalian aku yang punya saja begitu bukan tuan tanpa merasai tak boleh buang pelita

Sekarang lekas pudarnya

Sekarang lekas pudarnya asmara yang dulu kian letih semakin kudaki
Ah biar hidup tak sekali ini segala pahit kuraih atau lanjut kelain bidak mata bertemu pandang berontak

Kau dengar ia

Kau dengar ia selalu akan begitu
Dengannya kau mencoba lagi kali ini
Menempuh jalan yang salah sebab begitu harapannya

Tak peduli di ranjang pun kini
Sembab itu dan lembah
Kemana kurangnya malah hanya bertambah derita dan jeritan

Apalah lagi masa-masa dahulu kita begitu likat dan sementara beradu atau tak hanya pandangan pada tiang-tiang di jalan raya

Menundakah lagi komandan dalam pasungan dan sekali rebah tunduk di dekapan

Hanya biru setelah itu laut yang gencar menandakan anak-anak adam sendawa oleh betulnya paha

Ke bumi jatuh mengajak kau

Ke bumi jatuh mengajak kau
Satu-dua menyangkut sebelum bersua
Hingga kau beranikan menolak

Ia hapal sekarat itu
Dan diberinya apa yang pantas sebelum kita terkuras
Menangis

Di sela pancuran yang mengangkangi
Tidak dengan bercanda
Cinta mungkin tak terlalu serius
Bercinta barangkali

Dan kuduga sama lekasnya nafsu berpacu dan maut begitu
Telak

Cacat

Hingga nampak olehnya antara gulita yang kini namunkah hidup tak mesti tunduk dalam berpagut

Dan cinta yang terawang hingga patuh bujang mesti mendayung walau terkilir supaya sampai biar lekas hilang derita lalu berpuluh-puluh menantang supaya yang rapuh tak kita sidang

Di rimbanya harimau berkawan tempua yang bersarang jatuh di antara semak dan dihela pula lah sepantaran hingga ke jurang seorang tak letih mesti luruh menangkis pukul

Ada dalam kenangku tak terlerai lagi ketika kita mulai mencari hidup tak sulit walau sekali duduk sekali itu pula menjerit
Rasakan erangmu tertahan aku suka aku senang aku dekat dengan mati yang jaya jayalah yang kusut ikut menabuh dendang maut

Hanya saja kita tak tentu

Hanya saja kita tak tentu mungkin sebab itu kau mencari waktu lain sebelum sampai seru pertama ketika kita masih tercium dalam semerbak pasai wangi dupa.

Yang panjang hanya doa selebihnya bisa kau temui dalam penantian yang kau suka untuk menolak hadirku
Sebab hanya kita dan gemertak genting kala hujan jatuh dan kau keliru soal kesudahan

Dan debu disaat basahnya menghempas dan kau raih gita kami sebab terjalnya itu kini hanya kita kira didalam semilir tak tentu kadang hinggap kadang tidak mengusir sepi itu sampai kepada muaranya bernama sunyi kita.

Di kebun binatang suatu siang seekor ular dipaksa menekur dan lupakan liang iaitu kebebasan karena kau hanya memilih untuk bertahan saja sekeras bisikan dan sederas jatuhnya raungan saat makhluk itu yang baka menjentikkan jarimu kepadanya maka pada suatu hari jejak itu mati menepi sehingga kita diminta hanya agar bisa berkata; iya.

Selain kau

Kukira kau bukan yang dulu lagi pertanyakan maksud sebelum datang kelak kita bersua hingga lambaikan harap perpisahan

Hanya permainan yang kau harap tak usai namun bertambah sinarnya hingga penuhi raga kita dengan peluru peluh itu

Sampai kau jemput maknanya dalam yang dipendam tapi bukan tak mungkin hanya akan sia-sia saja

Karena yang kau ingat berlainan benar dengan apa yang sendiri ketahui selain meningkap dan kita seraya menolak kesadaran, dan untuk itu perlu penantian yang kita tagih sempat hingga bermuara segala mimpi itu dalam gejolak harimu yang kau rangkai demikian hingga tak ada lagi seteru dan untuk itu kau mau berlama-lama sebenarnya.

Adegan 501

Yaitu sayapnya yang menampar sebelum kau terjatuh lalu mengerang sakit tak terperikan seperti apa baginda

Semenjak kau sadar seutas temali yang kini bertaut di leher kau dan tak ada lagi musuh yang kau kagumi cuma sekadar igauan cuma kenangan yang kadang kau hiasi dengan amarah

Rasa takut itu untuk mengetahui dimana kau berada atau sekeras apa hidup menjaga mu untuk tetap sopan menerima badai atau bahkan menjemput maut dengan santun semenjak kau tak bersuara lagi tuhan kini kau damba sebagai naungan dan hanya itu kau tak ingin kembali ke lembah itu, lembah orang mati.

Aman

Sejak sebelum ranum dan kau ketahui ia bersarang dibalik rajah itu merayapi kulitmu hingga kau percaya suatu saat ia menjelma suara yang kadang kau pakai untuk menemanimu memasak di dapur atau mengemasi daganganmu

Sejak suara-suara itu meleraimu dari wanita yang ingin kau panggilkan ke pangkuanmu saja

Sejak suara-suara itu kau tumpahkan kedalam jeritan yang merobah warnanya dalam kelabu lalu jingga sebab di utara lagu kan menggema yang hanya begitu saja

Budi baik tak lupa pula

Masih ada jika seperti bisa kau jegal namun tak tertepis lagi bila muaranya sama lalu kau pulang dengan terima kasihku,
Tabik.

Sabtu, 06 Juli 2019

Selagi wajah disinari dan kita

Selagi wajah disinari dan kita
Kelak seperti akan bercumbu kembali diantara bangku kosong yang akan penuh

Segera saja kau berlari menjemput kepastian walau tiada jaminan kau reguk candu ini milikmu

Nyatanya hitam kita seka sebagai kasih kita
Atau sebelum kuantarkan pulang kau mendadak minta menunggu waktu yang kala itu meniadakan kita indera

Ada yang berkurang dalam piala

Ada yang berkurang dalam piala yaitu ukuran sebelum menapak dengan curiga

Di gelap ia kau hirup sebelum sudah dan tak lagi menyahut saat terang mulai menyingsing dan kita sangsi begitu setiap pagi
Apakah hidup hanya diantara jerat dan jeruji
Dibalik dinding meratap dan menghayati setiap makna yang kini terlalu jauh kita pandang tak pernah hanya sekali sempat lalu berulang hingga mendapat

Manakah yang lebih bertarung

Manakah yang lebih bertarung diantara meja mengadu untung

Manakah yang lebih bersuka diantara ranjang maut berpaling

Manakah yang lebih disuka ketika hidup dipaksa untuk diam saja

Lalu yang diambilah tak ada di celah di depan ia kau hitung
Terlebih lagi dengan mudanya yang kini kau tak punya hah hidup memang lekas sebelum buntung

Sebelum jerat lebih deras ia menyapa menyangkut kemudian pelan menggilir nestapa

Antara malam ke siang lalu mungkin peluh kita singkirkan oleh angin yang berhembus tak bertanya hendak kemana

Masih teringat

Masih teringat wajah lentur dan senyum tertahan milikmu Sarah
Wanita yang kini bersanding di ingatanku

Tik tok jam dinding hanya mengantar ke lamunan lain
Apabila yang terucap tidak dapat dimiliki sebagai kata
Namun durganya yang mereka himbaukan masing-masing sebelum jatuh dan lalu rubuh
Maka kemanakah kini lagi derap langkah menyisir pasir pantai jauh dan dalam

Asia kecil menagih lagi mimpi itu
Penuh luka dan cara kita menghuninya kali terakhir yaitu tidak genapkan setiap peristiwa
Aku padamu juga mestinya dinda

Jumat, 05 Juli 2019

Pernah direntangkan

Pernah di rentangkan dan aku hanya memeluk kepada kebenaran
Serupa lebam biru kuhitung kini sebagai upah

Selalu dan tak pernah letih menyia-nyiakan
Sebagai onak berduri merintih kulewati juga
Dan dengan hanya berpasrah pada kehendak langit menuju mata; mu.

Dalam biru muara sentosa

Dalam biru muara sentosa nyala di genggam tiada dapat dipaksa
Kau regang aku tahan segala jenis cinta mau yang bagaimana

Dan ini tiada kuhitung sebagai maut menjarak
Dan lingkau segera kita maklumi

Hanya tiang yang merapat dan pasak kini dijangkau oleh keluh dan kesah
Kalau lebih dari mati baru hidup yang bisa dijalani

Sephia dan kita wajah yang buram

Sephia dan kita wajah yang buram
Oleh pasang laut
Dari ini kita tagih biar tak usah kemana lagi

Wajah terang terasa sudah malam terlalu keras dengan dongengannya

Kau kisut aku pecut dalam gairah pada wanita pada liarnya mata

Gemuruh ombak memacu untuk sampai ke darat
Walau memar kita pilih usaha terkecil untung paling besar

Dalam ribuan bahkan jutaan dikau kudapuk namun nun di arah segala tiba langkah jatuh dan bumi seakan membasuh dukanya

Sebelum kau

Sampai dengan bumi baru
Kita adalah tempias yang terpelihara dari ranum dan tak jatuh apa saja kemudian berobah dan tak tetap

Sebagai kau selayaknya aku jenuh pada pertikaian dan kata antara titik dan koma maka kemanakah lagi yang tak tersentuh kemudian bertahan pada bilangan terakhirnya

Menerima saja tak pernah semudah saat kita memilih diantara banyak atau yang tak dapat kini ada bersama pilihan aku yang dahulu sebelum kau

Pada masanya

Tak sanggup kau menyangkal bibirmu layu
Hiasan kian kusut dan kau sempatkan mengaduh pada langkah yang tak mesti itu
Mungkin sebab dibiarkannya kata-katamu menjelma api dan menelan sisa-sisa yang kau tahan sendiri

Tak perhatikan raihan kau cela apa yang bukan ada di pikiranmu dan semua kembali pada akhirnya
Ketempat kau bersanding dengan gemertak dan kerusuhan

Kamis, 04 Juli 2019

Kereta pagi

Pukul dua dini hari
Kendaraan lewat anjing menggonggong
Untuk hari esok tak ada jaminan

Sebelum ini aku mendengar seorang mati di ladang
Tak lagi ada dan semakin dingin
Esok pagi harus mesti terbangun meskipun terlalu singkat dan seorang tak boleh melewatkan kereta

Sejenak saja

Mendekatlah jika inginkan kepedulian
Sungguh kau tak masuk dalam daftar
Mana yang harus di dahului
Dengan berkat segini saja
Kita dilarang berbuat macam-macam
Selain bercinta

Lalu bagaimana lagi hanya yang belum terbit tak mudah untuk dijinakkan
Kita punya dan waktu meruncing

Seperti peternak yang menjaga hewannya dan tak sekalipun menduga

Kemarin aku mengantar seorang kerabat ke tempatnya harus beristirahat
Sedangkan kita tak bisa banyak berbuat hanya menerka saja atau bagaimana

Mata-mata

Ia diam dan kali ini akan berhasil untuk bertahan dari badai dan sisa pembicaraan semua mengarah pada ranah yang tak akan kita sentuh

Apa saja memuai seperti pikiran
Kemudian satu-satunya pijakan adalah perbandingan
Kemana sehabis ini tanah luas untuk di pijaki dan kita telah penuh oleh percobaan

Kerjakan

Adakalanya sempit karena terlalu banyak
Lalu kemana sisanya di jalan berserakan dan kita kumpulkan

Adakalanya sepi karena hanya sedikit yang berani
Dari banyak sudah jamak jika terkurung karena rasa takut

Sampai lupa dan jika hanya ada seberapa
Kita berkata secukupnya dan kerjakan

Jalan-jalan

Namun kita yang kadang hanya kembali sebagai sesuatu apa yang setidaknya berhenti kita pikirkan

Di wajah mu tergambar letih yang kadang tak lagi dapat kau hindari lalu kemudian kau menghadap ke arah laut tempat samudra raya

Sampai saja kau tak pernah mendapati dirimu mengulang kembali pelajaran
Atau terlalu hati-hati di saat ujian
Sekarang menjadikanmu lebih mawas dalam berjalan melihat kemanapun

Sia-sia

Ada sepasang sepatu di teras rumah
Tamu dari jauh singgah mungkin mencari dirinya yang lain
Ada sebuah waktu yang bergulir di sampingnya
Tengadah ke matahari lembab dan wajah yang kering karena berulang terus menghadapi apa pun

Di ruangan ini waktu menjelma potret lama wajah ibu dan bapak yang kau basuh dengan cerita yang kau kenang terus hingga semenjak kini kau tak lagi hiraukan perjumpaan

Menjadi sendiri kadang memang menjadikan kita lebih bisa untuk mengatur dan memasang indra yang mana akan tidak kulakukan di hadapan mereka

Walau terbiasa untuk berpandai dan bicara sekedarnya agar tak ada yang terluka agar tak ada yang menangis lagi malam ini

Perlahan jalan dibentengi oleh kawan lama yang tak lagi kau temui mereka menyisihkan harapan bagimu
Kau yang hanya berdiam di ambang waras kau yang bertanya sekali bersua

Namun pintu dengan keras tertutup kau tak punya siapa-siapa apa lagi ini
Kau beri arti sedikit kepada tak ada yang dipedulikan orang-orang dari mu
Mukamu pucat termakan oleh masa depan kau gegabah tak memilih tempat untuk terjerembab dimana saja kau bukan lagi dirimu
Kau terbuat dari mimpi-mimpi itu
Selamat tinggal ucap mereka

Sia-sia

Ada sepasang sepatu di teras rumah
Tamu dari jauh singgah mungkin mencari dirinya yang lain
Ada sebuah waktu yang bergulir di sampingnya
Tengadah ke matahari lembab dan wajah yang kering karena berulang terus menghadapi apa pun

Di ruangan ini waktu menjelma potret lama wajah ibu dan bapak yang kau basuh dengan cerita yang kau kenang terus hingga semenjak kini kau tak lagi hiraukan perjumpaan

Menjadi sendiri kadang memang menjadikan kita lebih bisa untuk mengatur dan memasang indra yang mana akan tidak kulakukan di hadapan mereka

Walau terbiasa untuk berpandai dan bicara sekedarnya agar tak ada yang terluka agar tak ada yang menangis lagi malam ini

Perlahan jalan dibentengi oleh kawan lama yang tak lagi kau temui mereka menyisihkan harapan bagimu
Kau yang hanya berdiam di ambang waras kau yang bertanya sekali bersua

Namun pintu dengan keras tertutup kau tak punya siapa-siapa apa lagi ini
Kau beri arti sedikit kepada tak ada yang dipedulikan orang-orang dari mu
Mukamu pucat termakan oleh masa depan kau gegabah tak memilih tempat untuk terjerembab dimana saja kau bukan lagi dirimu
Kau terbuat dari mimpi-mimpi itu
Selamat tinggal ucap mereka

Rabu, 03 Juli 2019

Sadar

Sesampainya di pelabuhan yang tak lagi ramai sampai lupa dengan segala hanyalah rindu yang tertahan namun segalanya mengabur dibatas keletihannya untuk mengulang atau menerka setelahnya sampai kepada jajaran yang tak ia warisi seakan-akan kepingin untuk melebur bersama debur suara ombak

Lenyap

Maka akan lebih baik jika suara nyanyian itu yang sampai hingga disini

Ia redupkan dengan perlahan tetapi
Menuju reffrain diulanginya sambil hembuskan asap rokok yang tak tersisa lagi

Sendirian menatap wajah yang tergambar oleh khayalnya ia cuma berani untuk menduga saja tak ingin mengulang apa yang dulu sempat mengisi pikirannya menghiasi perasaannya

Tetapi apalah dengan kembali tak juga pernah didapatinya ruangan penuh dengan orang-orang atau yang telah ia kubur dalam ingatannya
Sampai segala upayanya sia-sia belaka
Yang tak satupun pernah ia harapkan yaitu menjadi apa yang dinginkan setiap orang
Kemudian ia pergi ke kota lain

Adegan 808

Denganmu ia makin tak tahan atau malah hanya berbalik dan mulai lupakan segala rencana
Dihapuskannya keraguan itu dari wajahnya sendiri tapi ia mengeluh sebab dahulu begitu banyak omong kosong

Tapi kemudian dengan irisan permintaan selamat makanya ia jadi suka juga untuk melewatkan malam walau dengan hanya berisik dan ia suka

Namun apakah tak ada yang bakal mengira semuanya berbarengan atau tak usah menggali sebuah arti lagi

Dengan ini ia berkati perjalanannya dengan doa
Malam itu dari balik jeruji terdengar berisik sekali atau bahkan hanya keinginan dapat berpindah kelain meja namun minuman belumlah di habiskan tak semacam dengan usahanya dengan sadar ia berdiri berjalan meninggalkan kerumunan

Kepala batu

Sampai saat hanya yang tertinggal yaitu sebuah cerminan bayangan wajah dan mencoba berpaling kemudian kita selesaikan yang tak mesti terlupakan begitu saja

Sampai saat yang hanya kembali yaitu gema suara dan darinya kau ingin kembalikan yang dahulu sempat terlintas akan kau renggut

Sudah ini kemudian ia tak lagi beritahukan kemana arah berbalik sebab yang terburuk setelah ini hanya sajak yang tak sempat dituliskan

Telah

Sampai hingga hanya ada ketukan beramai memanggil kepunyaannya selam gerak tak miliki hanya sesal dan itu tiada gunanya mengabaikan yang sesaat

Dan petir mengaduk rasa takutmu membuat kau menjadi buta lagi dan hiraukan kebimbangan sebatas ini

Lalu sampai dimana yang terangkai sebuah doa
Untuk siapa saja yang masih kau kasihi hingga kini

Setelahnya tercapailah angan dan riak air dibalik pohonan mangga tadi
Lalu terlalu lama rasanya jika tak disambut dengan suka cita

Beludru

Hanya dengan sebanyak yang diketahui dari selama ia menunda agar tak hanyut
Terlebih pikirannya pada segala yang tergadai
Selain untuk merubah dan kembali pada angan panjangnya

Segala tak terang padahal
Yang dijauhi sedari ini hanyalah
Perbandingan selain menemui akal-akalannya
Namun suatu ketika tertanam gundah dalam
Tak lagi ia hentikan untuk mencoba memahami atau keperluan untuk kembali menuai yang padahal tak kita sekalipun pernah mengenali

Satu-dua peluru
Sembilu katamu
Dan dengan mencapai walau tidak ia dinanti

Demi hari yang masih akan datang
Seolah ia mendekati yang padahal tak pernah dicobanya
Sebab hanya dengan begitu kita mampu memaafkan

Amarah memburu pada kau sembunyi dibalik pagar itu
Lalu sesaat boleh menampik memiliki
Dengan begitu semuanya akan jadi mungkin
Bagiku bulan bersinar di kota yang tak pernah ingin kumiliki

Post-mortem

Sebaliknya tak ia ganti
Tak pernah ia merusakkan
Paling anti untuk menyakiti sesuatu yang berbeda dengannya
Namun menghargai itu ia telah lebih untuk dapat bersabar padahal letih bila tak punya satupun bukti bahwa kita pantas

Mendaki dan menuruni yang ia kecam dalam roman kebanyakan
Sedikit yang ia temukan bahwa tak ada pertemuan tanpa perpisahan atau berpisah demi kebaikan meneruskan harapan demikian ia sadari untuk tak terlalu melewati kekurangan

Rumpang

Hanya kepastian milik kita selebihnya adalah kepura-puraan yang pandai ditutupi tak jadi perhatian

Bayangkan tak ada tempat untuk pulang yang kita sebut rumah
Dikamarku berserakan buku-buku
Dan aroma dari kedipan yang ku abaikan kemudian

Dengan hanya sebutir telur aku bertahan didalam cangkang yang keras namun rapuh
Dari rayuan untuk tak ikut saja
Sebagian protes sebagian lain memilih pergi pulang kerumah yang tak mereka miliki

Berhasrat

Kemarin yang tiada akan diraih ketika petang beranjak
Kau tahu untuk menang kita tak siapkan banyak peluru
Dan lain dari itu waktu yang seakan pernah membagi berat di pundakmu

Masanya datang dan kau bergerak menuju perapian
Dengan pelan berharap
Bahwa nanti akan ada ujung lain dari cerita kini yang kau jalani

Dan diantara kecukupan kita mengandaikan datang perang dan satu-satunya pergi adalah untuk mencari naungan kemana pun kau kucari

Selasa, 02 Juli 2019

Curam

Hingga lupa kita sekali pernah berjanji pada hati untuk tidak mengulang
Hanya saja keinginan lebih dan keringanan untuk itu
Walau kecil terasa ia ada dan mengingatkan
Kembali pula untuk terampil dalam menangkap lewat indera yang mungkin renta dalam merenda dan kembali terbilang sesaat ketika telah menuju pada gita

Andai jalan yang kuambil sama
Rapat dan menyambung kebalik himpunan kata yang mengantarkan namun tak sama kita melangkah mengalahkan gentar

Padamu yang kini tak kurang beraninya
Gegap gempitalah tercapai ketika cinta kita beradu pada gertak sebelum runtuh dan kembali seruan itu
Pada malam dan panjang telah habis oleh lerai dan sanjungan

Membeku

Sampai kini melingkar di kelopaknya
Kumbang yang mencari jatah makan siangnya

Sedari tadi telah menemukan puncak pencariannya
Iaitu saksi tak mengelak
Bagaimana bila yang diketemukan nanti adalah gerimis sebelum basah dan tarian penantian yang melepaskan gugup saja

Malah dengan begini kami jadi lekas tahu bahwa apapun temukan yang pantas dikerjakan selain itu bergejolak darah serta rasa memompa terus di udara

Pakaian lusuh yang dikenakan telah basah sampai mengira ia tak bakal boleh kembali sebab itu di bangunnya saja pondok dan kumpulkan semua bekal

Perkara hujan dan yang kita sudahi sebelum terjawab petir memberi angin dan datanglah kembali bahasanya yang lama tak pernah keluhkan darimana datangnya

Sebab itu kami pun ditentangnya seolah tergambar segala petitih yang ia sambut tak diduganya lawannya hingga saatnya akar segala masalah tercerabut di pikirannya

Keberangkatan 2

Benar saja di bingkai yang kini kosong tak didapatinya potret itu yang dia rawat dalam ingatan perihal keluarga kita sama saja

Dan jatuhnya ungkapanku tentang terjangan angin malam yang jahat perangainya aku pulang sebagai si bisu setelah menghadiri konser dan menghadiahi diri keramaian yang aku suka

Tak lama berselang gelas kosong kami pindahkan dan tak adakah lagi cerita tentang biru menjelma dan kau itu apa yang sekali alpa semua orang lupakan kau

Hanya kiasan yang tak tentram dan lagi sehabis ini kita masih sering meraih petang tak ada yang melebihi getar yang terangkum dalam dan hanyalah kerendahan yang kau harap agar sampai jua kau menyeberang kemana sehabis ini?

Jagat matanya

Kembali lagi yang tak kurang ia dapatkan hanyalah kegetiran dan merdu desir kegembiraan kelak nanti bertukar rupa di ranjang yang lain kita huni jauh dari mimpi

Dan mana lagi meursault ku tak adakah sisa dongengan milik ibu kini jauh sembunyi daripada yang kita kenang serupa oleh-oleh

Sampai lupa dangkalnya yang kita selami kemudian hanya ada kau dan aku kini tak dapat lagi mengelak kau sebut itu nama hanya sebutan bukan dan tak bakal apa-apa lagi

Hingga jingga yang dierami elang di jagat dan berbalik meniup sumbu cakrawala tak pernah kau berharap sekali ini agar tiba masa untuk kita merebut apa yang dahulu kita tandai
Hanya kita

Akulah petani

Hanya saja tak ada bau yang tersimpan rapih
Kemudian kemudi kita mengarah kepada hangatnya yang ada hanyalah kisah dan dari pada itu engkau pukulkan tak ada yang dapat mengambil kembali peluru

Di dalam deretan bangku menuju pada sekalian menunggu
Tidak hanya merambat pelan tapi dan jatuh lagi kedalam
Satu persatu pergi menghambat

Menemui yang kita bilang sekarat
Dalam percobaan membunuhi diri dan ada yang tak hadir atau memang tanpa perduli mengambil lain sisi
Mengatur arah kembali biar tak dapat menggugat tak siapa yang menyangka kita sekali dan letih untuk mengairi

Sekian

Lalu kita berusaha sama dengan lingkar pada tengah jarimu
Kita yang abai tak tahu apa mungkin tak perlu para tetangga tanggapi kehadiran malamku

Walau dengan hanya menggapai tak tergapai menuju tak sampai
Walau yang kulakukan adalah menunggu

Dimana sejak harap tak ada sentosa kita akhirnya
Dan absurd jalan dulu kutempuh mendahului kau

Dimana kini lebih lapang dari kekhawatiran dan pura-pura tidak peduli saja tak usah diambil pusing
Mana yang retak kita sesakkan dengan yang kelak tidak tertutupi lagi
Damai sudah ketika unggunan api tak menjalar mencakar-cakar udara

Celah

Hanya dengan sebuah apel
Dan menjejak tak kembali
Sampai jauh suara itu tak lagi
Kita utarakan
Suatu ketika terbayang dan sesaat hanya gertakan yang tak lagi laku
Ia beku
Pernah mataku menangkap isyarat sebelum kita kuat dan alangkah cernanya suasana

Pagi ini seremban tak terangkul hanya pilu bisu itu
Bersamaku katamu
Menjelang sampai kabar di udara kita dapati lenguh sapi yang panjang dan kita tak sekalipun memberi banyak ruang untuk bergerak maka kemana melangkah kuhantarkan hingga semua upaya menjelma dinding-dinding gua

Yang tak ku tahu

Tak kutahu kita berenam berdelapan
Jelajahi lingkungan ini dengan telunjuk dan mulut terkatup dilarang bicara panjang lebar

Dan keatas diri yang mematung kena teguran
Tak sanggup untuk picingkan mata
Malam ini aku tertidur di tawamu
Dalam pandangan aku yang tak bisa seenaknya dapat memiliki engkau

Maka kemana saja serasa bersedekap
Dan siapa saja kita sangka kawan

Dengan hanya dan kita menembus malam lupa dengan irama mana kini
Dalam hijaunya langit yang akan tak tertutup
Tak akan sebab setelahnya selalu terurus kemudian kita menatap ke arah segala yang indah seperti engkau

Meraih

Dan walau hanya dengan segenap upaya waktu kau lupakan sendirian hadir di jalan ini kita pandangi ke depan entah dengan bagaimana agar bisa untuk merangkul siapa kita yang sebenarnya bukan apa-apa lagi

Di kamar sebuah tubuh kau tinggalkan demi menuju padaku tak jarang senyum itu kau singkirkan
Kau berujar tak ada lebih yang akan kau tepati seperti janji

Hanya kita tak ada siapa yang lain menuruni jenjang ini
Hanya waktu dan masih ia yang kita simpan

Namun ku kembali dari laut yang sekarang tenang tak lagi oleh badai karena pelayaran tak pernah ditangguhkan
Mari kita awali sebelum datang lagi kapal dari timur dan menggaduh
Hidup sekali rentan namun hanya dengan berani menapak satu demi satu peristiwa itu kita kalahkan juga

Dikau

Dimanapun kini kita pandangi unggunan api
Dan yang tak tersentuh adalah seru suara serigala
Dari bawah bukit penuh dengan hilir mudik
Tak pernah lebih keliru dari pandai-pandai untuk menyimpan kesakitan daripadanya menyembur segala dusta

Pagar lebih tinggi untuk dipanjati dibanding parasmu yang kini jauh oleh siasatku

Kita telah lebih mencoba dari masa muda
Yang panjang hanyalah kecemasan dan akan terkembang nanti layar pabila tuju telah tentu dan kita lebih ingin daripada mati untuk segerakan bercinta
Masing dari hidup tak pernah utuh
Mungkin keberuntungan yang lain akan hinggap dengannya kulabuhkan segala

Atau kita bisa untuk lekas menutup permainan yang diawali dengan kesengsaraan walau untuk itu telah banyak yang diampuni tak ada lagi walau

Post-trance

Namun memang jalannya yang kau tempuh
Tak sampai hanya satu suara sekeranjang buahan ikut kau tumpahkan

Berada di sekitarmu tak sadari sisian kini
Lain hingga ia mengira kita lebih dari percaya
Kemarin menyeret diri untuk tiba
Hingga sebaiknya di sudahi

Setelah habis dan rindu itu pula
Bersandar tak lepas memang jika kita kuatkan
Berhamburan kata ganti dan kita minta dinasehati saja

Senin, 01 Juli 2019

Terjaga

Sampai jumpa di lain waktu
Dan kita bakal lama tak bertemu lagi
Kembali saja dari depan gang rumahmu
Aku menunggu dengan asyik menyimak nyanyian perkutut

Ada apa dengan kamar gelap
Dan pintu dari dalam terbuka
Apakah kau sedang tak ingin bicara
Malang betul rasanya jadi teman seorang pelacur

Di acuhkan pada malam dingin begini
Sementara pagi jelas datangnya dan kau sumpal sampai kepala tegak sendiri oleh aroma orang berangkat pada bekerja

Untitled

Dan yang tak kembali
Tak akan di harapkan lagi

Jalan kembali

Merekahlah senjang diujung
Dan dawai yang tak sadar
Menggapai dan kita
Sibuk

Kembali dari waktu kau yang kini
Ada dan aku tak akan
Irama malam ketika masih sunyi
Namun apa saja yang tak kita hakimi
Kembalikah pada tanjung

Batas

Mengabur batas antara
Oleh jingga dan rasa marah kucampur tuak sisa
O, perahu di tiang mana menunggu
Tak selama kunantikan pacar di labuh lain terakhir

Malamnya bersenda dan celaka
Akulah yang kala itu
Tak permisi haturkan salam
Padanya kasih lautku
Kembali sebagai
Lelaki lain dari parasmu

Merpati itu lagi

Di kelam purba yang ada hanya
Bekas hujan yang basah dan menempel di kabel listrik
Dijaga oleh sayap burung yang terbangun berkat limpahan desau angin ke pesisir itu
Dan yang terelakkan cuma rahsia yang ada

Sampai suatu waktu kata itu
Berobah menjadi siul yang sama kita kehendaki
Tetapi bagaimana jika tak ada enyuh meratapi panas api
Dan kini di atapnya menjejak merpati menjangkau cakrawala dan kita

Dini hari

Sengaja mengajak kau melewati jalan ini
Padahal tak ada memang yang kita cari
Sesuatu katakan lebih baik untuk tidak berkabar
Karena hanya sedikit lagi yang tersisa oleh kejadian yang tak kita kira
Perlahan menjelma kabut pada pagi sebelum ini
Atau mungkin besok kau dapat lalui sendiri tak berharap kawan kau temui
Memang benar adanya kita pungkiri jauh sebelum ia pandai bersuara dan kita lebih sering untuk menahan diri
Dengan demikian tak ada yang bakal menyentuhkan upayanya untuk kembali
Sebab rantai dan sembilu ini tergeletak tak sampai kemudian kita mengelak dari semua perkara lalu bisu menggilir malam pada sirnanya

Jawablah

Dimanapun suaranya tak pernah sama
Seperti kita yang melalui celah diantara bukit itu

Sementara yang akan aku temui semenjak kita bertanya dan tak peroleh jawabannya kita tak pedulikan lagi suara-suara itu

Siang malam mejadi temaram yang mengiringi kembali langkah kaki tuan melewati getirnya dan yang tak pernah di akui dari kehilangan adalah sebelumnya apa kita pernah saling memiliki

Lontarkan

Melalui pintu depan masuknya prasangka itu yaitu selama kantuk masih belum dapat hilang sebab kanal yang bertepi dalam sebuah hutan kota tempat segala yang kita ketahui ada dan lengkap

Suatu saat ia sampai dengan baju basah oleh peluh makanya ia hanya akan mencukupkan getirnya saja
Atau dengan begitu apapun dapat dihapuskan dengan banyaknya ungkapan

Sebagaimana yang kini kita miliki sebagian tak pernah pulang memilih untuk tetap bertahan dan makanya ia kembali lagi dari jalan ini yang tak pernah ia lewati sebelum ini

Ada lagi yaitu sekumpulan perahu milik nelayan yang ditambatkan kepada tepi sungai terikat tak bebas dan juga ikan-ikan yang tadi tertangkap telah dijual berganti pundi-pundi demikian hanya dengan sedikit saja pergumulan kita kembali kepada muara sebelum berlayar memang ada yang perlu dipersiapkan

Padam

Masih dengan sedikit dan kita tak akan putarkan ceritanya walau memang hanya dengan berhenti dan tak satupun yang kita kenai malah malam itu kembali sebagai malam sebelumnya

Walau dengan cita yang kadang tak kita temukan apapun untuk memperoleh dan yang ada kali ini adalah semacam gerak tertahan untuk tidak lagi kita khayalkan

Malam itu menjelma seperti kau
Tak keberatan jika aku sangka saja dan kemudian kita dapatkan yang lebih dari sebuah malam dengan cerita atau orang yang kita kasihi

Bakar

Namun di rimba tiada bertepi kau menyesatkan barangkali rindunya serupa fajar menjelma bayanganmu padahal siang ini kau lagi tak berharap lakukan banyak hal

Sekali ini ia menghadap kepadaku dan beri kabar tiada lagi ampun yang kau cari di negeri batu terbelah lumut kau pijak

Sementara gelombang memecah karang dan semburat garis di langit memuai oleh cerita orang-orangnya
Sedemikian kita tengadah tak ada satupun yang berkurang lalu kemarin kau masih ingin pertanyakan kembali apa yang mesti kita perbuat

Sebabnya angan mu dalam dan daripadanya kau gambarkan keletihan yang kau tanggung seorang sama dengan sedikit keributan yang kita pancing dengan puisi

Kertap sayap

Diantara waktu kita yang mengabur dan pilu
Walau semakin deras datangnya tapi tak bakal membalikkan

Dan sesekali arti mencoba untuk berpasrah atas segala janji
Dari itu kita mengambil batasan yang dia diamkan

Bilamana dengan banyaknya yang tak lagi tercapai jatuh satu persatu menimpa kau
Dan lagipula tak jarang ia yang biasanya bisa untuk dipergunakan dan yang hilang diantara percikkan yang kita tak persoalkan

Sebab angin masih ingin berada dalam lingkar dan kau sebut ia penghujan

Hujan sajak

Sebetulnya dan yang ada kini kita ingkari
Dari jauh sebelum sampai kita tak berhenti katamu
Lalu sepakat untuk mempercepat saja biar tak ada nanti yang tersisihkan saat berjalan melaju

Suatu saat denting itu akan menjelma kawan dan ia nanti akan juga kita dapati namun kemanakah lagi selain itu untuk berjabat dan tak akan melebih-lebihkan memang kita dahulu hanya sempat untuk mengingat satu atau dua kejadian

Dan juga masih ada seberapa yang kini kian kita dekati namun hanya akan membatasi dan gerak sekarang ini banyak tak akan memberi kesan setelah rusak dan pantang untuk berkaitan

Seharusnya

Mendekati kepada bujur semua menuju pulang arah dari datang dan mengambil tempat lalu hanya segelintir yang akan bertahan hidup dari hidup dan asal segala untuk menanamkan agar nanti menuai lalu kemana pula segala risau dan dada telah hilang segala hanya kita dan tanpa banyak lagi yang terpikir selain itu kemanakah gerak hati mu dulu yang terhenti

Minggu, 30 Juni 2019

Beri aku arti

Kemudian patah asa itu yang membangkitkan keringatku kala teringat dengan desir dan kau yang urakan

Membekas dan nadir serupa tetesan yang ditampung lama kemudian namun masihkan ada sedikit pula ruang dan antara kita tak berjarak maka rindu itu pada gerak memberi bentuk tingkah yang tak kau rindukan

Malah hanya akan mengingat sedikit lalu kemudian kemana sisanya bergerak atau tidak sama-sama tetap dianggap sedikit saja kemungkinan yang dijalaninya

Sekumpulan

Kini masih sama dengan hari yang baru saja kita dapati walau dengan hanya keberanian sinar itu kita dapatkan dan akan berpendar cahayanya

Cahaya pertama

Dibawah matahariku matahari kita masih matahari yang sama berjejalan setiap mendambakan cahaya pertama

Tak sempat lagi

Bila saja tak kita dapati lagi binar mata disaat masa terlalu berat sangat untuk dapat kita lalui

Namun akan beda lagi jika yang tertutup dan terhempas itu pintu satu-satunya untuk menemukan ia yang dahulu

Sampai ketika kita membereskan sisa-sisa perbuatan, tak di duga saja.
Asap menggumpal dan teriakan bayi yang harus disusui di tengah hari kelaparan

Sekali waktu pun masih kuhargai apa yang kemudian kita cintai

Perlahan

Berhenti itu yang kita simak ketika di radio putarkan ulang lagu yang kemarin masih dapat dinyanyikan bersama namun keras lagi ternyata

Di antara luka dan bisa mana pernah terampas lain dari pengecualian yang kita catatkan

Sekalipun tiada pernah untuk membalas dan lepaskan yang mungkin tak akan terganti

Pada malam banyak cerita yang kita kisahkan sebelum kembali menghitung domba yang kita ternakkan di kepala

Nukilan

Kemarin lagi tak pernah kita menghempas dan kembali usang
Lalu kini mengabarkan yang tak pernah terjadi lalu apa saja kita khawatirkan oleh sebab mimpi

Kembali sebelum ruas terisi teduh oleh nestapa dan apa yang tak pernah tersentuh dari bisikan dan kemudian kita patahkan

Selamanya berdiri sembari terus menguatkan
Disamping itu tubuh dan duduk dalam satu dua hitungan
Pada saat kita tak temukan bukti

Kerabat

Bertanya tentang esok hari.
Masih adakah, dan yang kita perdebatkan bukan lagi soal.
Hanyakah kebanyakan yang dahulu sempat dimulai lalu berakhir dengan kalimat yang cepat datangnya.

Terserah setelah menghabiskan banyak waktu dengan sebisanya untuk tunduk dan mengerjakan dan kembalikan yang bukan kepunyaan kita.

Tapi kini didunia padam dan kepalaku saja lebih berat dari keputusan.

Lalu kita mengendap seakan pernah meraihnya yang akan kita temui nanti dalam kamar-kamar yang kita jaga.

Aku kan kembali dan lebih utuh dari ini
Semisal sedikit yang tak hanya kita ketahui.

Klab

Ada yang hilang saat duduk di beranda
Ketika datang seorang lagi
Mengantar diri

Dalam pekat malam kita merasa lebih beruntung atau tidak pernah sama sekali berjuang mengalahkan
Serta merta diri bergantung dan sekarang mulai jarang sekali untuk mengimbangi hanya kesudahan yang di harapkan yang baik mestinya

Daun gugur jatuh tak memilih tempat dan gumpalan awan berlagu lagi pula kita menemu untuk saling pertanyakan kabar kepada terdekat lalu pulang dengan pesan terselip

Hari depan mengawang di depan mata lalu kemana lagi pertanyaan-pertanyaan ini disingkirkan
Yang kelak akan membawa diri kembali ketempat semula berpijak

Jejak langkah

Dengan gempita menjelang subuh dibuka kemana arus kini
Dan yang hanya akan ditemukan di parit jauh dari kelam surya datang dan terbiritlah beberapa mencari tumpangan ke arah banyu menanti jatuhnya mendung ketika pagi memang hanya akan lebih menakutkan dibanding suara dan rupa-rupa yang tak kita ketahui dasarnya seberapa dalamkah hingga dapat tenggelamkan sebuah kepala atau hanya akan membenamkan yang memang telah jadi penghuninya
Tak ada ucapan selamat selain bergegaslah

Sabtu, 29 Juni 2019

Keberangkatan

Kemudian memang hanya titik dan akan bertemu ke sudut tempat irama bertarikan sementara itu cuaca telah di garami dengan isu apa saja yang tak kita kuasai lain dengan lirikan dari bawah tanah bergeming lalu menimbulkan suara serupa dengan tabrakan sesaat lalu meledak asap mengepul atau memang hanya mimpi yang tak pasti datangnya

Di luar ruangan benda apa saja malah nampak lebih hidup dan bening serupa sperma di lautan aku bertemu dikau yang cemburu bertanya kepada penjaga warung dimana letaknya keberuntungan bagi yang akan memulai meski waktu itu kita lalu cuma dapat permisi dan kemudian berharap lagi

Tetapi masih pagi ketika itu dan yang terang kita redupkan sesaat sebelum keberangkatan

Hijau

Dihempaskan tubuh saat tak lagi merasa damai dalam sendiri
Namun hanya seberapa yang menghendaki dan kita pura-pura menyesal untuk tak pernah benar-benar dapat hidup
Di masa yang masih kita hitung
Tahu dengan begitu kami hanya akan tetap menerima yang terbaik
Dan tak segan meminta untuk tak pernah kembali

Jangan kembali

Kemana saja menjadi redup sekali saja menempuh ujian lalu pulang
Sampai jumpa lagi aku kenang segala dera juga sembilu katanya
Saat menjelang jalan dengan sadar ia bertanya tak akan apa namun hari jauh namun pelan
Pada masa lain ia kembali akan menemui dan benar saja dibongkarnya apa saja yang telah tersimpan disini dengan rapi
Begitu cara waktu mengobati dan lebam yang dibaluri dengan beberapa alasan untuk tidak kembali

Bala

Kemana angin dia berdiri dan menghadap
Dari arah lain sambil bercakap bersualah apa yang ingin ditemui perihal semua yang megah dan indah di pandangi dari sini

Kelak kata akan membatu menjadi fosil disamping ketakutanku
Pelan-pelan bisanya menjalar meraih jantung yang menggerakkan ini semua

Tetapi tak hanya kemudian kemujuran tak pernah terlambat datang
Peristiwa-peristiwa sehabis ini akan kita lupakan
Lalu kemana lagi cuma kebaikan dan lain dari itu sudah kita tepati

Hanya kita dan sebuah cara yang kita upayakan setelah itu habis sudah segala usaha

Jumat, 28 Juni 2019

Ruang di kepalaku

Kini yang ada pohon itu terus saja dikunjungi sementara kita lagi tak tentu kemana mesti di arahkan sementara suasana telah padat tak berhaklah bagi kita untuk menjabarkan keselamatan

Faust

Kini aku hanya akan meminta faust tak kembali dari dulu semenjak hukum dimana negeri
Dan juga hanya akan ada segelintir yang mengikutinya
Bagaimana jika tak kunjung didapatkannya kitab itu
Namun jauh di relung jiwanya ia berkelana menuju dunia bawah

Relung

Sekali pernah mungkin ia berkabar dengan penuh menuju kemana arah suara itu muncul

Tak bakal hadir dengan segera dirapatkan telinga kepada tembok yang kelupas oleh garam yang menguap di pasir lalu dengan curiga ia menatap pada alina tak juga senja itu sampai begitu mungkin pikirnya

Padahal langit yang biru disekitar kanak sedang tak ingin marah hanya saja waktu ia biarkan berlalu dengan memejamkan mata tak kurang kali ini ingatan kepada engkau

Suara di kepala meursault menyuruh menyelamatkan si arab

Dimana kau dapati anggur itu meursault
Jika saja aku tak keberatan untuk menjelajahi ruang ini maka akan aku sempatkan memberitahukan kepada engkau
Elang tak siakan suara dengan diam ia melesat bersama udara

Lagi tak dengarkan kabar dari selatan mungkin
Aku pikir memang hanya akan tetap mengundang keramaian jika kita lenyapkan satu jiwa dari pandangan

Sial

Dan jika memang hanya sedikit kepastian yang asing diantara beberapa yang mesti kita kurangi dengan kesialan

Merasa berhak

Tak juga di rerumputan di balik pagar bersarang unggas itu
Dan mengerami telur yang lagi akan pecah nanti oleh anaknya
Tawa kadang hanya di miliki oleh siapa saja yang bisa tertawa tidak untuk mereka yang kewalahan telah melawan nasib buruk
Selain hanya berkawan sepi banyak pahlawan mati dengan peluru sendiri
Atau juga bajingan yang naik ke panggung yang entah kini akan dikunjungi atau tidak lagi walau hanya pengulangan yang jarang dimiliki hanya agar supaya kita merasa sentosa

Impian

Demikian benar rasanya untuk menunda menang sehabis menempuh banyak yang kita akui sebagai yang telah terpisah atau memisahkan tidak menjadi bagian yang selalu resah mencari-cari alasan untuk dapat bebas atau membukakan pintu bagi yang lainnya agar masuk menghadap kemanapun terserah tak punya batasan

Etos

Melewatkan malam yang akan sama saja sebagai kebaikan yang akan dituai atau pula bersama dengan kesementaraan yang terus kita tunda dan jika tak lagi temukan kemudahan kita malah memilih untuk mengabur bersama bayangan agar besok dapat kembali muncul dan tak sekedar mempertanyakan

Manis

Namun yang terlewatkan bukan pula janji kepada yang sudah kita masih kuat untuk sekedar berjalan kembali

Namun memang hanya sedikit keberuntungan yang telak dan tak berhingga hingga kita nanti ikut membungkam kematian dan segala yang dibawanya
Kesedihan, kehilangan, keputusasaan, kesialan, dan kesia-siaan

Bagi diri yang tak mau jauh jatuhnya membebani hingga kita pantas untuk disebut dan lagi ikut mengambil segala tentang yang di cita-citakan

Nubuat

Kemanapun ia cari arti dari resah ini sebelum tiba kereta ia pusingkan tentang pujaan yang temukan jalan kecuali dibenamkannya keinginan untuk lebih berhati-hati dan berhenti dari segala yang ia tentang kini

Sebelum jelas dan sampai kepada lintang yang mengatur dan gerak yang tak menimbulkan suara lain dari bunyi hanya getarnya yang perlahan menyesap dan kaupun kembalikan hingga batas kini tak lagi kita timbang

Disisian jembatan lain dari dan yang kurang ia dapat pahami selain kehendak itu tak pernah untuk membunuh dan menumbuhkan kemenangan demi kemenangan yang ia ukirkan
Hari baru telah lebih jadi martir bagi lelaki

Menumbuhkan bunga di dada

Mrnyirami ladang dan mengirim pulang pikiran tentang kemarin maupun besok

Kita kemudikan yang patah dan telah kita arahkan kepada yang lebih hijau dari taman ini hanya saja sedikit limau atau goresan sabar

Diraihnya sesuatu itu namun masih ditemukannya kunci kearah semua yang kita kira telah binasa

Seumpama dengan keringanan melewati kepungan dan pulang sebagai hamba menggulingkan ketidak becusan diri lebih dari sekali ini

Lalu agar meriah pestanya kuikutkan sekalian dengan yang hanya terbersit namun tak kurang jua

Kamis, 27 Juni 2019

Membiasakan

Ranting patah dan kebanyakan hanya menirukan suara patah daunnya memanggil sementara itu adakah kesediaan bagi kita untuk menyudahi semua ini yang kita sangka dan lekas datangnya kemanakah segala keriangan yang tak kita punya namun hanya segelas irama yang tertuang dan kita teguk habis hingga lepas segala keraguan

Sehabis itu langit yang masih halus rupanya tak kita sebut dalam pertemuan namun terhempas begitu saja dan adakalanya kita kemudian pasrahkan saja

Ketika kita masih menyimpan dan tak lagi kita miliki waktu untuk berbagi umpama bunga kertas dan yang hilang bakal tetap kita nantikan

Padahal

Sampai hingga kita nanti sebutkan satu persatu dan tak hingga betapa lekasnya siang menjemput pagi yang telah penuh oleh keringat para kuli atau siasatnya untuk lepas dari pertikaian kala itu dengan kamu

Dawai

Dibulan kudirikan kemah dari ikat sajak yang kudapat pemberian paman

Padahal ada jarak yang terlipat oleh ringkasnya pertemuan yang kadang dihindari

Disini kita semakin merentangkan meski terlalu sempit dan hanya permisalan

Namun hari yang kadang payah untuk di penuhi malah intrik semakin rumit atau siang terlalu mudah untuk dilalui dalam mimpi puan kecil

Santai

Dalam sekian detik debu itu hanyut dalam hampa udara yang ia punya selain beku ada ringkikan dan ingin hendak lepas di padang-padang atau segala ia tempuh agar semakin menemukan dan diulang kemudian hanya bakal mengembalikan kemarin pada hari ini

Alinea

Mendiami suku kata antara alinea dan yang akan kita dapatkan yaitu keputusasaan untuk dapat memiliki dan bercerai dari yang memperdebatkan

Berjabat tangan

Memberi kemudian sedikit air di atas pasir angin masih membelai dari puncak bukit kemudian berjalan beriring menuju sungai menghitung laju setiap kita mungkin pernah atau akan menyebabkan duka ini

Setelahnya mana saja letak kesediaan saat kita akan menuai dan menikmati sebuah permainan yang tak kita kuasai namun kemana lagi muara segala sunyi setiap yang menyala serupa api

Dan memang hanya akan menuding lalu menjabat serupa inginku mendapatkan setiap kebaikan kau adalah katya setiap orang berhak merasa dekat

Kepada pablo neruda

Semasa kemarau tak henti awan jauh perginya dan kita hanya punya kolam tanpa ikan hanya bayangan berhati-hati lebih baik

Lalu kemudian setiap kita bergerak menuju yang tidak pernah kita hargai hanya kemudi angin menghalau kegersangan lantas segala gerak hanya menggantikan ketiada sanggupan untuk memanggil awan pulang ke padang

Lalu kemudiankah setiap pengecualian kita buat hanya agar nampak menjanjikan yang makin hilang kesini tanpa perhitungan

Seperti bisu dan lagu yang terus berulang melepaskan dahaga dari api dan dasarnya hanya kemilau panas membumi

Lalu diraihnya setiap kerelaan yang tiada terbendung sebab pacarku dalam latihan hanya meninggalkan sedikit harapan

Sabda

Kalian ketahui kemudian dan serahkan semua urusan kepada yang bertindak selain aku

Senja

Arai dan kau ikal berjalan di padang ilalang ketika malam berubah jadi medan di pasar jimbron bersembunyi dari geliat yang surut memandang kedahinya sendiri bagaimana kelak akan terbiasa merasai dan menenggak setiap anggur yang dirawat didadanya

Empati

Hanya dalam kilasan ophelia kau sanggup kutatap ketika itu dan yang terbayang bukan lagi senandung yang dilantunkan ketika gelas penuh kita berkaca-kaca menatap padahal tidak satupun yang hadir lalu abai dengan cibiran kulalui memang dan dalam lirikannya menyembur kesumat itu

Rabu, 26 Juni 2019

Air mata perawan

Setiap ada yang lain berbunyi dan rekah mencari mula dari gemertak dari atas meja kayu yang dipoles dengan bahagia oleh tukang

Di pagar kemudi patah oleh gelisah atau air mata gadis
Mengira bakal datang bantuan di tebing curang menganga pengingat seolah lukisan yang di gantung agar mirip dengan perjudian

Semakin kokoh berdirinya dan yang hilang dari sorot matamu kutemukan mematung dalam diriku

Selesai

Semenjak patah dan lagi tak terhingga jatuhnya ke tanah
Berdebu dan tak lama akan mengaisi ruang dan serpihan ingatan itu atau tawa yang tertahan
Ku ulurkan tangan membantumu berdiri kawan

Gentar

Melalui tengah pematang diantara sawah dan kita kian dekat kepada mentari yang menyambut marilah benamkan wajah pada cahayanya lalu ikut memanen padi yang menguning di tanah yang masih basah

Hilang arti

Semenjak kata kita akui yang keluar darimu adalah perihal sebuah rumit yang kini kudaki sepertinya jauh dan yang diam itu bertumpu di akalmu kau yang dahulu meminta waktu dan yang hilang dari kesanggupan dan kentara dalam kesementaraan hanyalah gerak yang kita akui tertelan oleh pasir waktu bersama jejakmu

Selasa, 25 Juni 2019

Berujar

Sampai batas dan yang akan ada hanyalah kisah mesti yang jauh pun kita jarangkan oleh jarak tak ada rasa sakit saat gagal saat kalah
Sampai semua beradu didalam sebuah kilatan tentang arti dalam misteri dan hanya akan menyalahkan serupa tragedi tak ada yang akan kembali kemudian kita membuatnya yang lebih rumit dari skenario tuhan

Apapun mesti kita sudahi walau untuk itu kita disarankan bertahan dalam sekian warna yang luruh atau buah yang belum sampai matang hingga kita kemudian merasa sentosa sampai habis semua senja dan hujan kentara adanya

Adilkah jika tuan beradu tanya sementara waktuku belum terkait dengan sebab dan sangka saja yang purba dan yang mati karena tersiakan mungkin hanya sedang sial atau kita membikin seperti dineraka karena kita rindu pada yang pasti pada yang tidak kita miliki

Terapi

Kemudian kita mengalah pada waktu dan yang merantai selain itu kita pasrahkan kepada suara yang terus tumbuh kita lalu kalah kepada kanak yang masih sanggup berteriak kita lalu berjalan menunduk membiasakan pada hujan yang tak jarang turun walau masih akur dengan reruntuhan meski yang ada hanya sedikit kesulitan

Tak jemu

Menemukan sisa yang sia-sia seumpama dengan gairah masa muda oleh pelaut dan berlayar adalah kemudi dan pancang yang sejajar itu ingin mengulangi pelayaran menuju samudra tenang tanpa warisan yang menjaga antara kemudahan untuk mencapai keserasian dengan rasi bintang selatan diantara kata lain mengincar cela yang tak ada bentuk selainnya kita mudah untuk menekur dan hanya akan menggoda lagi berbuat yang kita ingini semoga dengan begitu warna langit dari sini lebih nampakkan anggunnya yang walau hanya akan teraih oleh cita dan rahasia

Tarik

Suatu menjelma tarian cahaya yang timbul dan muncul adalah tuts piano yang ditekan pilu namanya

Kemudian sesaat kita hanya mampu untuk berkabar ke arah angin kemana saja kepergian dan semua akan berpulang kepada batu dan air, tanah dan kayu

Lalu semoga saja dengan ringkih yang mengabur sebatang lagi pohon tumbang
Membalut dan menerjang luka adalah serumit kegundahan kita dengan wanita yang dipermainkan dirinya

Maka sembilu pahit pada arang yang mengundang darah dan amarah dimana letak kerisauan dan tabir yang belum lagi pernah terbayar oleh gegap gempita duka dan kesedihan
Disana ia telah mampu dan sanggup menggapai kesediaan untuk memahami kesaksian

Sia-siakan

Kemudian tangkai itu gugurkan daun kelopak bunga yang mekar dan melambai ke arah semakin ia mengintai untuk tidak menyambar cahaya

Lalu kemudian akarnya menonjol dari tanah yang gersang menyeruak semut dan serangga yang tadi akan berpindah ke lain medan

Sampai jika hanya bulan dan malam sungai dan bebatuan atau serigala dan lolongan semua kembali kepada nyawa yang tak terhindarkan adalah secukupnya indera dan pengalaman mengalahkan ketidaktahuan batas dari diri dan kerja yang tiada pedulikan

Kosmos dan rintangan hadir galaksi lagi tak mengikat kau dan bumi tak punya daya aku dan kau bertemu kemudian di ruang hampa semuanya kemudian hanya memantul dan mengalirkan sedikit semangat kita punya adalah waktu itu kau tak hadir dan hilang dari peredarannya kita adalah planet tak bernama

Suram

Sebelum mandi dan terjun kesungai ia kami ikatkan kepada batang jembatan dengan rahasia kecil sebelum benar dan menganggap apapun kini sebagai kejelian dari mata yang memandang kepada sunyi

Hanya saja kiat yang direbut sebelum sunah dijalani menghambat lajunya dan waktu tiada membebani kini selain itu kita hanya akan berkelit serupa jelaga di tepi aku terduduk menghadap ke jendela menatap dengan ragu-ragu

Mata sembab bola kasih piara dan senyawa embun turun melalui celahnya jika kita hanya tengadah tak berusaha mendekap lain dari pada binar kasih

Santai

Selamanya ia akan hanya berlutut menghadap ke arah matahari yang jatuh lagi pula ia sebabkan kebaikan diantaranya maka apapun dikira tak sedang berjalan sesuai rencana

Pasrah

Kembali mengisi jalan yang bahunya menggapai kata kita hanya saja perhatianku terjerat oleh kanak yang mengusung dirinya melalui setiap simpang dan hanya jadi peluru dari selongsong yang diketemukannya dalam buku itu

Senin, 24 Juni 2019

Peta

Bertanya kepada perdu dalam semak adakah lagi kau sembunyikan hangat jauh didalam dan kenapa memang dengan percikan yang sampai dan ada apa saja ketika perjumpaan selesai

Liburan

Darah mudaku yang tak henti mengalir pergi menjelajahi dan akhirnya menetes dari pangkal nadi menuju deru suara yang memecah sunyi kala itu

Sekian pekat dan jelaganya di surau itu menanti aini yang telah terbangkan khayal tapi tak sampai apabila setiap kita menamatkan cerita masing maka tak perlulah tangis itu ada

Minggu, 23 Juni 2019

Ucapan syukur

Merekahlah kelopak mawar itu di awal tahun tak lagi kencang angin bertiup diranting dan berguguranlah pangkal pucuk cemara dibaliknya bersarang seorang duka lara menimpanya seperti telah lama

Kata

Setiap saat menjelma tenunanku di kala keberhasilannya meraih segala kehendak yang tak dapat saja kita miliki dengan begitu aku dan kau dapat merasa lebih nyaman

Bersantai dalam ruangan ini pun membuat kita jadi tak lebih dari siapa kita yang mengantar kepada risaunya atau semoga dengan begitu kau tak lebih cepat untuk mendapatkan ku
Maut kataku

Kekal

Sesaat kemudian kau pamit dan berseloroh tak ada lagi tempat dimana masa dan kini berjarak atau dengannya ku dapati waktu lebih dapat untuk bisa direngkuh tetapi apa bedanya dengan kerancuan yang meledak sebelum kepala dibutuhkan kita hanya menjaga rima tetap bergulir lain daripada itu kita bisa lebih baik dari sebelumnya ucapkanlah rasa syukur itu yang kini ternyata milik kesusahan kita

Sensitif

Demi apa saja dan max tak kuasa menahan amarahnya setelah pak tua itu kembali dengan dahaga yang lepas dan kau tine tak semestinya berada disini bukan kita sempatkan untuk berjalan beranjak dari tempat ini kemudian diam

Jawab

Croeso aku pernah mendengar nama itu diteriakkan dari pelabuhan jauh kerna suatu tertinggal

Sekoci

Kembali itu sebuah perjudian dengan waktu dengan keyakinan untuk tak akan mengulang dengan kesediaan melewati segalanya dan kita pun memilih untuk pulih sendirinya yakin dengan harapan tak ada lagi yang mengekalkan selain perpisahan kemanakah kita menunjuk disana temukan kesempatan untuk dapat merasa melakukan sesuatu yang berhasil dan berdaya

Terang

Menghembuskan asap rokok kepada atap rumah dan lupa bahwa tak ada yang terpenting kita miliki lebih baik menggumpal serupa awan tak berguna dan sia-sia

Alasan

Kuhafal sendiri gerakan yang dibawakan didepan layar televisi namun memang tak ada bedanya jika kita menyamun dan menggentarkan samudra senantiasa meniru badai yang jarang berhenti tepat di depan rumah kita sebagai ganti kecerobohan kita dahulu

Ragu

Dimana angin dan sejuk berpantang untuk mengais dan mengobati lukanya sendiri kau lah yang sebabkan aku tak pandai bangun dari kasur ku sendiri menatap ke awang-awang yang ada hanya keraguan

Siulan

Ditepian kau jenuh dan melambai pada sang sutradara orang lain anggap kau merantai diri pada adegan padahal tak ada yang menyentuhmu selain kehadirannya pada malam itu dan kau tiba mengungguli yang lain dari padamu setelah itu baru aku berhak melipir bersamamu kemudian kemana kita berencana

Sekat

Tuan hank kemana saja kau tak menemui siapapun ini tak dapat kucerna sendiri masih sehingga rasaku untuk menyudahi malam itu dalam lingkaran kecil di pupil ini

Kalau kita bertanya tentang arah apakah masih terdengar rayuan itu di kiri dan kanan jalan namun kau pun datang hadir sebagai henry chinaski yang tak karuan membelai wanitanya hingga lupa hutang masih pada pekerjaan namun bagaimana kelak pendarnya tak lagi datang tetapi sirna

Perjamuan

Kemana kau pergi hamlet menuju kesana bukan mereka menanti di istana yang akan menjadi serupa kuburan

Tak usah disini kau letakkan tubuhmu kau tahu ia yang kau takuti tak pernah merusak melebihi dendammu dan kematian tak datang hingga kau berani menghadapi kesakitan itulah yang kau berikan pada musuhmu

Kembali

Dan lukamu faust yang kau takuti dan juga apa yang kau kejar tidak pada tempatnya kau dapati mestikah aku akan hadir sementara tak kau baluti duka itu

Daku

Tak pandai dengan keributan mungkin kau mau diajak berbicara yang baik meski sekarang ini matamu tak saja silau memang hanya dengan begitu kita mampu diamkan dan lewati segalanya mungkin hanya dengan begini lah siasatnya dapat dilanjutkan lagipula malam tak benar-benar dapat singkirkan kepenatan maka lebih baik untuk melewatkannya dan mengaduk cerita ini serupa kekosongan yang dapat kita isi
Berulangkali aku tak akan dapat mengira bagaimana bentuk cekung raut wajahmu dan yang aku dapati setelah ini kita tak banyak berpikir tentang kesudahan

Sementara aku

Saban hari aku lewat depan rumah mu tapi ada apa dengan serambi yang tak lagi menghadap kedepan sekarang lalu diantara pintu masuk tadi aku tidak mendapati kendaraan kau terletak sampai aku ingat dengan suatu petang yang lalu makanya aku akan lebih memilih pergi atau menjauhi kalian dahulu sebab sedari dini telah ada peringatan dari dalam dri kita masing-masing tak baik untuk teruskan kebohongan aku mencintai kalian

Masa-masa

Dahsyatnya yang ketemu di balik kelambu adalah bayangan kau untuk dapat diraih walau pendar cahaya dan binar mata yang kebal oleh rasa sakit kemudian luruh pula oleh suara jahiliah kemana akan kutemui lagi saat darah menaiki dan kita memulai berperang

Kelabu

Suatu saat hank chinaski dan teguran tak lagi akan terbentuk sebab aku telah lewati menjadi pria atau tidak semua sama dimata setiap wanita

Sama saja seperti perjumpaan kita ini kawan katamu kau telah jauh memulai yang tak sempat kau pikirkan memang tak hanya akan menunda mungkin aku juga akan menginggalkanmu

Hai dengarlah siapa yang berbisik disini selain kita apakah ada yang lain kurasa itu pikiranmu sendiri hank kau sudah terlalu berat kawan mari sini anggur itu aku juga inginkan rebahlah dulu besok kita langsung berangkat bukan

Suatu pantai

Dari sukab tak ada yang tak ia sampaikan pada kau alina yang hanya ia kasihi dan lain lagi tak ada

Anggapanku kau tak saja bergeming ketika sukab sampaikan ia menunggumu di pantai senja ini maaf saja aku sedang tak mau jadi kambing congek jadi kusarankan kalian tak mengharapkan cerita lain dari ku ya memang ada gadis yang dahulu menaruh hatinya pada ku aku hanya tak sedang ingin bercerita

Kabarkan padanya nanti kau sedang makan apa saat ini makanya bilang ia yang tak lagi kau pedulikan sungguh cinta memang ada juga batasnya sebelum ada yang lebih tabah dari hujan di bulan juni kau kuikutkan dengan sukab nyemplung ke laut bekerja sebagai pekerja sudah itu tak usah kembali kecuali kau temukan jawaban pertanyaanmu dalam lautan itu terserah kau nanti akan memilih tetap bersama kami

Sukab adalah pilihan terbaik bagimu sebab tak ada lagi ia kutemukan berjalan di malam buta dan merindukan petang
Selamat malam aku sedang tak ingin mendengar kalian menertawakan sesuatu yang itu memang bagus untuk kalian tetapi tidak untukku

Kembali tidur

Bersama angin kudengar kau tak lagi mengunjungi kota itu
Sukab kota yang dibangun  oleh lelap dan darah bagaimana ini dengan nyanyian dan kelenteng tempat kau bisa meninggalkan aku sebab kau tampak tak mengerti lagi dengan keseharian kita

Memang sukab lebih baik menjauhi daripada ikut menanggung apa yang hanya sesekali kita dengar dan begitulah hidup tak lebih baik dari yang kita jalani

Yasudah aku sedang tak mau mendengar kau bernyanyi lagi pula suaraku sudah habis sukab kau boleh mengambil kopi di warung depan nanti aku yang bayar

Hanya memang aku sedang tak bersemangat jika hanya menjadi batu yang keras dan tenggelam itu sukab aku kau tahu tak lagi berhak berada di sekitar pantai
Yang mungkin hanya akan dikencingi oleh camar dan ataukah kau begitu sangat ingin melihatku pulang nanti dengan kotoran

Sukab aku lebih baik melanjutkan tidur siangku