Senin, 29 April 2019

Ketika itu

Di anak tangga penghabisan
Mereka berdua bertiga atau berkelompok
Meneriakkan nama setiap yang menaiki
Berasal dari bawah
Terus hingga ke atas

Tatkala sampai ke penghabisan
Perlahan saling berpelukan erat
Dan berjalan seperti sediakala
Sekarang boleh dapat bercengkrama dan barangkali bersantai
Semoga angin itu yang bertiup dari tenggara
Habis dan tak sampai hingga kesini

Bagaimana diam nya seolah ditembak petir di siang hari
Berjalan kuyu sepanjang lorong ini
Semenjak awal dahulu berteriak aku akan tapi bahkan untuk menyebutkan nama dan asal ia takut

Kita tak mengisahkan tentang pahlawan yang kabur di sini
Barangkali coretan nya di bacakan dengan keras sekali
Ia tak percaya
Mungkin saat itu ia sedang berada di ruangan lain di kepalanya

Hari baik dan bulan baik
Kau di jemput pulang
Perihal apa?
Bertanya kepada saudaranya
Tenang kau akan baik-baik saja

Tapi tak di ketemukan kepuasan dalam jawaban itu
Ia menyingkir lari kedalam merah saga bola matanya
Ia tak menangis
Ia berduka


Tagihan

Ada sebuah cerita yang kukarang
Tentang abad pertama setelah merdeka
Aku mengetik biar tak padam saja nyala nya

Di pikirku dermaga telah penuh oleh burung kertas
Atau di ceruk danau telah ada rumput yang tumbuh

Sesaat aku merasakan pilu itu
Tiap sebentar datang menagih
Melotot panjang

Tapi nanti bagaimana bila cerita ku akan selesai
Aku akan bersuka sebentar dan bersedih lama mungkin karena telah mau menyelesaikannya

Merpati terbang melandai

Setiap hari adalah bola salju yang bergulir kebawah dari puncak
Semakin bertambah saja tebalnya
Dan akan terlambat jika kau tak mulai berlari dari sekarang

Mimpi mu ikut berdetak bukan tatkala pagi bersambung dan rasa gundah lepas kelantai membuih laksana busa di pinggir kopi selesai di aduk
Karena aku biasa saja

Merpati terbang melandai dan kau akan rindu untuk menatapnya berlama lama
Kau bingkai dalam lamunanmu
Kau sebenarnya terjaga namun apapun tak mengerakkan selain diam

Getaran jiwa

Kami mengunggun bahasa di saat kau terkasih pulas dalam dendam yang selalu saja ingkar mendatangimu

Malam adalah milik lelaki tanpa seragam
Jika nanti kau dipilih untuk menempati rongga dada ku ini oleh langit yang tahu mana yang lebih beruntung
Begini saja kita punya jiwa bergerak mencari bunyi yang tak menolak jika di panggil
Sudahilah perjudian sebagai badut yang menampar-nampar kekurangannya

Dimana saja dan kapan saja

Kelak kita akan menuai apa yang telah kita bagikan
Kepada malam masih kah aku akan rindu kepada pagi
Agar cepat datang
Segala risau kutuang kearah datangnya suara fajar yang menyentuh

Dahulu pernah kujemput mimpi ke hulu datangnya
Menindih perih

Mengganti milikmu yang bukan milikmu lagi
Semua akan sirna seperti embun akan tetap menjagai cahaya pertama saat fajar

Sehingga kau bernafas hanya untuk hari ini saja
Agar kehampaan bersembunyi di bilik masjid

Menjadi terakhir yang mengetahui bahwa semua berhak untuk hidup
Dan tuhan dekat seperti saat mendengar tangis pertama bayi dan rapat

Stasiun manggarai

Cinta terlalu cepat
Seperti kereta pagi ini
Di stasiun bertumpuk buruh berangkat kerja

Ada yang terlambat datang
Mesti menunggu kereta berikut
Setelah pagi banyak yang suka melalaikan rindu

Ada yang menemukan padahal ia yakin tak pernah menghilangkan
Seorang loper koran melempar dari luar pagar rumah yang telah kosong oleh anaknya yang diantar berangkat ke sekolah

Ada yang berebutan tempat duduk di kelas
Semua orang ribut padahal tak semua yang akan dapat tempat

Badai sepertinya jatuh di jurang yang salah
Sama sekali
Hari akan membisu dahulu membiarkan awan beriringan lewat disana dan hujan akan turun sampai kesini

Disini telah berbaring seorang dari jauh yang baru saja tiba
Kemarin awan tak pernah memecah di langit yang cerah akan ada yang berkabung


Penat ibu kota

Telah sampaikah giliranku?
'Tuk mulai kembali dan yang sedang terjadi kini mendadak terhenti oleh geraman kata

Sebab jika kau menatap kejauhan maka yang nampak olehmu adalah gedung-gedung yang di acak
Seorang merayakan hari ulang tahunnya sendirian saja
Nanti masihkah akan kita temui jerat itu yang menghantui masa muda

Tetapi kita dipisahkan
Kemanakah pagi
Terbitnya mentari hari ini?

Kawan tidakkah terdengar bagi mu
Sirene meraungkan pekak dari ambulan
Kita masih di beri waktu untuk sanggup bernafas dengan benar

Kali terakhir seorang sedang mengukur makam dengan meteran yang tak lengkap
Aku lewat
Mungkin tak akan ada lagi kesunyian
Yang tengadahkan beserta bapak ibu kalian

Minggu, 28 April 2019

Hidup adalah kutukan terbaik yang dipersembahkan

Jalanan kepada pulang atau pelan melaju basuhlah peluh
Kuseka oleh jemari mu
Malam milik seorang yang semenjak pagi jatuh
Belajar mengendarai sepeda tanpa bantuan roda lain

Bicara itu bentuk sopan santun yang telah lama ada
Dan diam tak lain adalah kurang ajar yang tak diajarkan

Tetapi rindu mu yang dulu tak minta kau untuk mematutkan diri yang padahal telah memilih mu sebagai yang sanggup mengemban
Setelah kau menyerah pada kesepian yang tak mudah untuk diakrabi

Kemarilah jika memang punya tujuan yang kau miliki sebagai busur agar waktu bisa kita atur

Dan perlahan kau sadari memang yang pertama tak mudah tertanggalkan selain wasiat yang kau jaga
Dan kau pilih untuk mengenang mereka dalam mesra

Pergilah ke sudut dari stadion jika kau memang tak punya pekerjaan lagi
Menunggu memang membosankan seperti menghitung kendaraan yang lewat atau menghafalkan wajah dalam sebuah universitas

Musim hujan tak pernah berkabar dalam seruan yang di sebarkan
Zarathustra bahkan mengutukinya

Selamat menjalani hidup

Bocah kecil

Ia berjalan melompati lubang-lubang pada jembatan
Setiap melompat tali sepatu yang ia jalin sendiri terlepas
Ia berhenti untuk membetulkan

Ia sengaja turun dari angkutan umum jauh dari tempat turun seharusnya
Ia ingin bertemu penjahat katanya
Sepanjang jalan dikepalkan genggamannya
Di keluarkan baju dari seragamnya yang telah memudar dan mulai terasa pas di badannya

Sesekali ia sadar ada yang mengintipnya dari langit
Tapi ia tak minta hujan turun
Ia merengkuh angin
Ia mengerti kenapa angin dan awan serta hujan diciptakan
Agar tak banyak bocah serupa dirinya memenuhi jalan kecil di gang ini
Mungkin tuhan akan kerepotan mengatur mereka
Begitu pikirnya

Tapi ia lupa bahwa penjahat tak suka untuk menjumpai anak kecil seperti dirinya
Dan ia merasa tak perlu untuk tumbuh dewasa
Ia ingin bertemu dengan orang tua dari wanita yang ditaksirnya
Ia akan memperkenalkan diri sebagai anak laki-laki yang tak takut hujan
Tak sama seperti anak laki-laki lainnya

Tapi ibunya memilih menyekolahkannya jauh dari rumah tempat masa kecilnya dahulu
Tahu akan berpisah ia meninggalkan coretan bergambar dirinya dan sahabat-sahabatnya
Di dinding kelas











Jalan milik bersama

Seperti minggu lalu di depan rumah lewat orang akan pergi beribadah
Ayahku sedang duduk dan membaca koran sedangkan ibu menyapu teras halaman yang penuh oleh tanaman hiasan yang di peliharanya

Sepertinya orang itu telah mengenal wajah ayah dan ibu ku mereka berbalas senyum selalu setiap minggu melewati jalan depan rumah kami

Aku akan pergi ke pasar atau tak akan pergi kepasar jika tak sampai kerumah mereka terlebih dahulu
Ada udara dan cuaca
Sambil menunggu di sini kami berbincang tentang pohon tua yang telah di tebang untuk di bangun jembatan baru dengan begitu beliau tak perlu memutar melalui rumah kami setiap hari minggu

Tapi meskipun begitu angin tetap berlalu sebelum hujan sampai di beranda
Perlahan jelaslah maksud aku di bangunkan sepagi ini biar lekas sampai di pasar dan tak perlu ikut menunggu antrian yang memanjang

Harga naik dan sebentar lagi puasa
Segalanya mahal
Aku bertemu ibu itu yang biasanya mematung terlebih jikalau kau berjalan menghadapinya maka tampak lah yang ia sembunyikan dari parasnya yang pasrah itu

Berkala semenjak kecelakaan ia sering kerumah sakit
Ada bekas luka di dahinya
Dan menambah gurat rasa sakit yang di tahannya
Ibu itu telah ku kenal sebagai tetangga kami
Meskipun ia akan jarang sekali melewati jalan di depan rumah keluarga kami

Setiap hari

Sembari menungguku datang jawablah pertanyaan yang terbersit di kepalamu
Si jalang hanya punya tuhan di dalam hatinya
Kita berkehendak maka nampaklah berbagai yang memperantarai

Tetapi begitu dengan damai yang kau petik
Akan ada hubungan nya dengan kebohongan dan rahasia gelap

Sampai begini adalah peluru pertama yang di tembakkan
Sorak sorai jejaka dalam penantian
Dan juga nyala rindu kepada juwita nya

Melainkan harap yang tumbuh mekar dan ranum
Menuju sebuah perintah untuk setia dan sedia

Di biru lautan tak tampak goresan langit yang menandai hari yang purba tapi miliknyalah setiap usaha kecil untuk dapat memanjatkan doa doa







Basi-basi

Menamainya sebagai yang dulu pernah dekat
Dalam keping suasana ia pernah di kenal atau kerap kali menyingkir

Rapat seolah guruh butir pasir yang bergeser sebab di pijak

Biarkan sekali ini ia menyangkal
Seolah di bauinya getar jiwa yang tertahan
Ia memanggil serupa angsa yang di usir pemiliknya

Tak lama setelah menyulap tangkai bunga menjadi wajah wanita yang mengundangnya masuk kedalam parit yang beralamat celaka itu

Ia memilihkan pusaranya sendiri
Tak ingin di kenang
selamat jalan lirih nya

Siapa pemilik malam

Setapak membasuh jejak yang tertinggal
Siapa yang sembunyi di balik terang
Di kelamnya ia suri

Akan ada nanti
Sama kita nantikan
Yang berkelana bersama waktu
Kepada sebuah kampung ia singgah
Dan bertanya
Siapa gerangan yang membiasakan bubar di banyak kumpulan
Ia terbit
Pula dalam kehendak yang terbayang adalah untuk bangun dan bersiap
Kepada penjuru angin yang menekuni gelisah rongga dada adam dan hawa

Berselimut tubuhnya milik kabut yang menjejal berdesakan
Sering ia lupa nama
Dalam kendi penuh ia membasuh muka dan menaiki tangga masuk kedalam untuk menyambut dirinya dikala petang nanti yaitu sebelum malam dengan gulita tanpa pemilik

Berjejalan

Suara mu akan di hitung sebagai yang sudah
Sekali ini tak boleh menunda
Sebab dengan begitu hanya jika ingin selesai dengan kesementaraan

Waktu pagi terbilang
Angka angka serupa bulir yang sebentar akan menguap
Segeralah
Semua akan berjalan dengan baik
Dan berlepaslah kepada niat yang mengeras

Samudra yang mengambang menyimpan rahasia yang tak di sembunyikan
Begitu dengan mimpi mu yang konon telah usang
Dan kau berjalan kesana kemari sebagai yang telah pernah mencoba
Mengertilah
Hidup tak habis di sekali uji
Dan kau akan di sesalkan

Gelagat alam

Dalam masa angin yang kencang akan kah kita tak lagi bisa berseru
Tentang kebaikan

Dalam masa yang lajang masihkah kita di beri waktu untuk dapat singgah dan beramah tamah

Rindumu yang dalam kepada bising buai zaman
Menerka-nerka batas letak batang pohon aru

Sebab banyak jumlah nya
Dalam pikiran tentang moyang serupa kuil yang di penuhi puja dan puji

Dalam sesal sekali datang dalam adat hari kemarin kita berputar-putar dan paham benar gelagat alam

Bunga saya

Saya punya sebuah tanaman yang selalu berbunga dalam bulan ketujuh
Setiap tahun
Tak apa jika saya tak menyiramnya
Daun yang kering patah dan jatuh ke dalam pot
Membusuk dan memupuki tanaman nya

Kemudian kita berteriak tentang siapa yang paling sanggup untuk tak menyentuh bunga nya
Yang bermekaran itu

Ia akan hadir seperti sembilu
Dalam kegersangan
Sembilu yang mencabik keculasan ranting-rantingnya

Bunga yang lekang sebab tak di jual
Memberi rona pada hari yang berlalu dengan pasti

Jumat, 26 April 2019

Tepian

Dengan beberapa batang korek yang tersisa
Dalam nya hutan tak terkira
Aku menoleh kepada jurang
Dan cahaya yang menyala nyala di tiup angin
Rupanya malam lebih ramah
Jika siang tak di temuinya tempat rebah

Suara anjing menyalak di sisirnya jalan beraspal

Perlahan nanti akan muncul fajar
Dan bersiaplah menemui hari yang riang
Sepanjang kau ingin merangkul diri mungkin akan kau temui perihal lain
Yang dapat kau miliki dalam seperempat malam mu

Jika nanti sungai telah temukan mata air yang terlindung oleh batu
Dan setiap penduduk menjaga nya dari kotoran
Dan kau melewati nya sebagai penumpang yang hanya akan di antar kepada tujuan selain rumah

Lagu lama

Saat malam kudengar ranting pohon patah
Dan cahaya bulan susut
Dari jendela kamar ku

Anjing menggonggong
Berbalasan
Seketika suasana merdu
Setelahnya

Beralaskan tikar yang dibentangkan
Lampu kumatikan hingga
Yang ada hanya suara suara

Dari jendela kamar
Tak adakah tangga yang di pakai
Agar tak jatuh
Supaya sampai

Kupicingkan mata
Samar-samar ku lihat potongan gambar mu
Namun akan ku kembalikan juga


Sama-sama

Dalam segala percobaan tentang hidup
Kita selalu terbagi dalam dua sisi

Yang kalah dan menang
Menjadi jahat atau baik seketika
Mungkin dengan segenap pikiran
Semua di bekukan
Sebelumnya apakah memang tak lagi menarik untuk tak miliki keluhan sementara yang membayang adalah kecemasan yang datang tak terbendung

Selagi muda tak mudah untuk memulai atau meninggalkan dan untuk itu kita hanya punya rekaan yang kita miliki sebagai rancangan semoga saja
Selain sedikit rasa malu yang kita sisihkan
Dalam gegap gempitanya hidup selalu ada yang membunuh bunyi dengan omong kosong dan bualan yang datang dari perut yang minta diisi
Rasa lapar yang kau benci




Bocah kecil

Ia berjalan melompati lubang-lubang pada jembatan
Setiap melompat tali sepatu yang ia jalin sendiri terlepas
Ia berhenti untuk membetulkan

Ia sengaja turun dari angkutan umum jauh dari tempat turun seharusnya
Ia ingin bertemu penjahat katanya
Sepanjang jalan dikepalkan genggamannya
Di keluarkan baju dari seragamnya yang telah memudar dan mulai terasa pas di badannya

Sesekali ia sadar ada yang mengintipnya dari langit
Tapi ia tak minta hujan turun
Ia merengkuh angin
Ia mengerti kenapa angin dan awan serta hujan diciptakan
Agar tak banyak bocah serupa dirinya memenuhi jalan kecil di gang ini
Mungkin tuhan akan kerepotan mengatur mereka
Begitu pikirnya

Tapi ia lupa bahwa penjahat tak suka untuk menjumpai anak kecil seperti dirinya
Dan ia merasa tak perlu untuk tumbuh dewasa
Ia ingin bertemu dengan orang tua dari wanita yang ditaksirnya
Ia akan memperkenalkan diri sebagai anak laki-laki yang tak takut hujan
Tak sama seperti anak laki-laki lainnya

Tapi ibunya memilih menyekolahkannya jauh dari rumah tempat masa kecilnya dahulu
Tahu akan berpisah ia meninggalkan coretan bergambar dirinya dan sahabat-sahabatnya
Di dinding kelas











Omong kosong

Demikian dengan batu besar yang di jungkalkan
Dari atas ke bawah bukit

Kita hanya di beri waktu yang cukup untuk dikejutkan dengan kebenaran
Agar tak ada yang gantung diri
Lagi saat kau terjaga melaksanakan sholat subuh

Ada yang meraung dibalik tembok sana
Ada yang melirik foto di album lama
Ada yang sia-sia pulang kerumahnya

Kemarin kau menganggap semua tak akan mudah bagi hati untuk melepaskan
Dan hari ini semua terlepas kepada kau saja
Semua pasrah tapi langit tak akan mudah untuk di goda
Dan bumi yang menagih sejak tadi kita sabarkan bersama-sama

Sebentar lagi akan kiamat
Atau lama lagi seorang bijaksana akan berkuasa
Keheningan adalah sumber derita
Di rasuki oleh puisi yang gentayangan serupa spirit tapi kabur karena kurang hujan atau senja



Rabu, 24 April 2019

Waktu luang

Dan dalam beberapa hal menguntit dalam nuansa yang samar
Menipu nipu diri sembari belajar untuk bersuka dalam apa yang di kerjakan

Sebelum ada yang bertanya tentang
Apa saja yang bisa kau habiskan
Tetapi konon waktu yang baik untuk apa saja ada di pagi hari
Dan kau sering melewatkannya
Membuih seperti rindu

Bagaimana ketika malam
Dan waktu itu kau bersembunyi seperti tikus yang cepat saat kucing memergokinya
Ketika kau dengan bersemangat berkata bahwa setiap hal yang kau temui seperti kelereng di dalam got dan kau puas

Tetapi apapun itu setelah nya
Saat hendak tidur kita berharap tak menemukan lagi keesokan harinya

Bersiap siap datang ke pesta
Dan sebelum di mulai ingat
Bahwa kau hanya punya sedikit ruang untuk menyeka keringat mu sendiri
Tak bisa banyak bergerak
Demikian pun dengan serial yang kau nantikan membuatmu sabar berada dalam keramaian seperti ini



Selasa, 23 April 2019

Kepala

Terdampar di pulau kecil tak di huni
Sibuk melangkah kesana sini
Namun yang ada cuma batu dan pasir
Angin dan rumput
Semua bertikai siapa yang paling dapat tempat di pulau yang tak ada isi selain benda mati

Dan aku sebagai satu satunya manusia merasa berhak memiliki tempat ini
Dengan segala yang memenuhi
Seperti crusoe
Namun ini lebih bisa disebut dalam kepala sendiri
Dan kau jauh dari tempatku
Maka aku akan bersorak
Haaaaaa haaaaaa
Dan tertawa hahaha

Tak banyak yang bisa kuajak bicara
Semua memantulkan kembali suara ku
Gema nya membikin ku tertawa jadinya kutenang saja

Sebisanya aku akan bersembunyi dari orang orang yang mencari ku
Dan tak lama lagi makan malam ku akan matang
Dari kelinci yang lobang nya kugali

Esok pagi aku akan berburu
Dan waktu tak ada di sini
Tak boleh ada selain warna di langit
Kalian tak akan suka

Pancaroba

Berjalan lamban dan menemukan
Seonggok timbunan dengan tiang memancang
Seperti kuburan

Bergelut bersama arti namun hidup tak punya tombol untuk berhenti
Berikut seperti menunggu waktu yang pas dan memecah keheningan dengan rima

Selagi menunggu
Baik kita masih diberi waktu
Dan tujuan berjalan kian dekat
Kita menantang untuk bersiap
Menemui kawan atau lawan
Yang setiap hari datang bergiliran
Masuk dan keluar
Silih berganti

Selamanya adalah waktu yang lama
Dihitung dalam kenangan
Yang kita petik seperti keriangan yang kita ganti bersama dengan tenaga dan biaya
Tak perlu mahal yang penting bergembira
Setelah itu bersikaplah seolah kau telah melalui semuanya
Dan semoga diri yang tak pernah lelah mencoba dan terus berupaya seakan kita telah pernah meminta untuk mempunyai hidup yang mesti kita jalani

Senin, 22 April 2019

Potongan

Seorang wanita yang di cari
Sembunyi dari bayangan nya sendiri
Ia menyangka bahwa bulan memberitahu keberadaannya

Seorang bocah yang dituduh sekarang sedang menangis
Ia mengadu kepada tembok yang ia anggap sebagai lawan yang menghargainya

Kesana perginya angin itu
Yang menanyakan dan menungguimu menjawab
Yang padahal kau tak miliki perkiraan terhadap apa yang mungkin akan kau alami

Setiap pagi ia berjalan menyusuri ke arah warung tempatnya akan menyerahkan diri
Dari dosa

Di belakang rumah terdengar kaca pecah
Menjadi kepingan
Kami tutup mata dan diam
Semua menahan kata
Di balik balik jeruji berlumuran amarah
Kita menduga mereka tak pernah merasa melakukannya

Rabu minggu ini ada kelas
Kau sering tak hadir
Jadinya kami membiarkan bangku kosong tak diduduki
Sengaja
Agar kau tak menyesal kami kenal
Agar kami utuh dalam ingatanmu

Tak pernah ada hari baik untuk merasa saling memiliki
Aku akan membunuhmu dipikiranku terlebih dahulu
Setelah itu kau akan hidup selamanya sebagai kenangan

Jawablah

Kembali menuju ku
Suara peluit itu jemu
Dan sahutnya bisa kuhirau
Berulang-ulang kemudian diam

Di rimba raya bersorak kencang seperti puisi yang selesai dalam ruang sunyi
Terbentur kepada tiang seekor capung hinggap
Untuk terbang lagi perlu waktu sepersekian

Penggembala melepas ternak
Di padang rumput mega meriap
Senja menghalang hadir
Sibuk menghitung satu dua

Dari bandar kecil air melimpah
Ke sawah yang masih berupa benih
Dan kata pulang ke pelukkan nya

Kuburan telah penuh
Dan kita bertikai tentang siapa yang patut atau tidak sama sekali

Sebentar lagi malam
Dan kandang telah penuh binatang
Kita tersindir
Bahwa masih ada yang mengaturnya

Sebagian hilang suara suaranya
Sebagian tinggal wajah
Dalam rupa yang terbeli dengan lagu
Dan berputar tanya itu

Kenapa kau masih mau hidup?



Pesawat kertas

Sebuah pesawat yang dibikin dari kertas
Di lemparkan
Di ruang tengah
Melayang-layang menembus langit-langit rumah
Mencapai kepada ayah

Berbelok curam dan melandai
Mengucapkan selamat tinggal tapi tak pandai untuk bersuara

Menikung tapi menipu
Sebelum jatuh ke lantai
Ia tak di sambut
Rapih dan berhenti

Ku ambil lagi
Dan kembali
Kulemparkan
Ke udara

Minggu, 21 April 2019

Sentosa

Seorang telah memberinya luka
Sepadan dengan segenap usaha yang dilakukan untuk naik dan pergi meninggalkan

Dalam lukisan itu ia hadir pula
Sebagai awan yang putih dan menjunjung

Lalu kemana terbang
Sebuah ucapan yang ditunggu dari bibir yang ungu

Sampai jumpa katanya

Bagi ku lebih dari luka
Dan memang kita di latih tanpa pamrih untuk tak tega

Serupa kumpulan tumbuhan semak
Begitu selalu hadir dan akan di cabuti juga

Sekarang tinggalah ia dan malam

Ia mendongak ke langit dan menatap gemintang

Sentosa

Tumbal Pedagogis

Berdesakan terlalu menjejal diri dengan teka-teki
Bergiliran berlari-lari
Satu-satu
Lalu hilang

Kesediaan 'tuk mau ikut asal tak surut
Samakan dengan properti yang di bagi
Yang kian

Telah kujemput kembara dalam rute
Mendadak
Tak terelak

Mengira bentuk dalam singkatnya masa sebagai amatir

Jangan kembalikan
Apa yang kau curi dari kita
Apa yang telah pernah juga ditawar

Sekian persaudaraan yang rusak
Tak pulang
Ini malam makhluk berkehendak
Kelak
Batas antara yang kini mengabur
Berganti tuas peletak apa yang di tabur

Kartika

Setiap berbicara dengarlah suara suara yang menghalangi
Dengarlah ujung yang pedih dari getar nada nya
Dan dari dalam kata nya ia pilihkan untuk kita persamaan itu yang usang dan telah lama

Seorang telah menjadi lebih tahu dari guru nya untuk diam saja saat ada keranda lewat

Tapi di sini dimana langit kami belah dengan suar yang kami dapat dari piring piring sesajian

Kami dilarang pulang sebagai yang  pernah memberi teladan

Kartika kau berpangku tangan
Aku tertambat oleh gemulai gadis seberang

Sabtu, 20 April 2019

Sekali pagi

Alam begitu diam
Entah mengapa pagi begitu cepat datangnya

Aku rindu
Dalam air yang tergenang membayang

Nanti malam aku akan berada di luar rumah
Memanjati tembok atau membiarkan pintu tak terkunci

Lalu bangun lebih pagi
Agar aku tak lagi rindu

Ini kali terakhir
Aku menemukan kau tergeletak di ambang jaga ku

Bukan penuh tapi aku tak punya waktu
Sekali akan berulang semangat ku tumbuh
Berganti tubuh

Remaja yang berjalan subuh hari
Beraroma rumput basah dan tanah lapang

Pelaku

Membelah kabut
Pikiranmu bercabang pikirku
Jemari yang kasar dan dengan peluh sepenuh baju

Seberapa sering berkalung tasbih memisahkan
Dan ada antara kata terpelintir
Maksudku apa

Sekarang tak bisa menyebut nama
Memang tersembunyi rupa
Tapi getar yang kau bawa
Kami hafal serupa diam tetapi berpindah sedang ruang tak bergeser
Mengaburkah batas antara

Jumat, 19 April 2019

Bertengger

Sehijau pokok tunas daun muda yang baru ada
Dalam berapa lebatnya
Bersembunyi burung yang berkicau sedari tadi
Tapi kau tak sadar
Mengamati suaranya sendiri

Mengiringi legenda tentang manusia
Tak berpangkat
Tak sanggup diam di satu tempat ia terbang menembus rimbunan daun ke suatu tempat

Pernah begitu ramainya sehingga tak ada lagi nama nya di dengar atau boleh disebutkan

Kita di biarkan berada antara tanya dan jawaban
Mengerling lalu sahut menyahut dan beranjak ke lain keadaan

Mengira ngira nanti tak bakal terbayar oleh gerak dan perbuatan
Makanya kita suka menunda dan akhirnya menerima
Kita sendiri tak lebih dan tak kurang

Jalan ini masih tetap akan di lalui
Dan tak berkurang megahnya dilihat dari sini
Semua mungkin akan tetap sama saja jika kita mulai bersuara tentang kejadian yang kita ketahui
Dan masing mengambil bagian
Atau kemudian beristirahat

Tentang manusia

Hilir mudik jalan penuh oleh riuh sepulang kerja menuju rumah
Ke kiri atau ke kanan
Pelan pelan mesti sampai dengan selamat

Macet di mobil mengawang gitar yang di petik

Atau mesti berhenti dulu
Disini masih ada yang menunggui angkutan

Iring iringan kendaraan menuju pulang
Dan ada yang baru terjaga
Siap siap nanti malam selesaikan pekerjaan yang tertunda

Menunduk akan sama dengan menolak
Atau berkeringatlah selagi sempat
Penuhi ruangan dengan kerja sekarang

Lalu mesti apalagi selain berharap
Atau bersandar kepada kisah lama tentang perahu yang bocor

Tentang manusia

Teman

Semasa berseragam ia menyusuri jalan sempit
Siang itu menuju ke surau di belakang sekolah nya
Bersama sama dan bergantian mengambil wudhu

Jika telah dewasa nanti
Aku ingin melewati jalan besar sendirian
Aku ingin kau untuk tetap begini saja tak berubah
Tak usah

Demikian ia begitu yakin dengan kanak kanak yang lain

Tanpa perlu berebutan mainan
Jika memang kita di biarkan begini
Mesti tahu alasannya
Dan jika memang lagu itu tak akan di putar kembali
Mesti tahu mana arah yang kau tuju
Beritahu aku
Setidaknya sebelum sepi meraja dalam pikiranmu dan membuang ingatan tentang setapak yang dahulu begitu ramai oleh kanak kanak seperti kita ini

Kemudian sebagian telah berpindah atau sebagian lain memilih menetap
Tapi tak akan merobah

Semua akan tetap dan begini saja

Mengingat jalan pulang

Di dusun yang panjang
Setiap manusia saling menyahut
Aku

Di lembah yang di penuhi bunga bunga tiarap
Kala musim yang mekar dengan bau lumpur dan potongan rumput

Di antara lengkingan kerbau di sawah yang terisi sebagian mengairi

Bocah bocah bertualang dalam masa singkat jeda libur sekolah

Sekarang masih dapat bermain di pangkuan ibu
Sekarang masih dapat berlarian di pandangan setiap ayah
Berpuas diri dalam masa langit yang di penuhi layangan

Atau sisa nya menemukan jalan pulang kembali kerumah
Dan ada pemisah antara kata
Permainan yang bukan lagi
Hirau kan saja kepandirian mengelak setiap kau lewati depan rumahnya

Adalah siul burung kecil yang membangunkan dari mimpi buruk mu semalam tentang gunung yang meletus
Dan banjir yang meluap luap

Rumah mu kami jagai dari atas sini
Seperti ketela yang di tanam di parit belakang rumah sampai kita teringat dengan betapa susah melaluinya

Dan kita di beri kesempatan menjadi sesuatu yang tak pernah kita ingini
Untuk ikut membangunkan seperti burung kecil yang mengudara setiap hari
Harus mesti begitu

Siang yang terik
Tenang nanti malam masih banyak mimpi yang kau petik

Sebab hujan selalu saja basah
Dan kata kata bermain di antara bunyi nya

Begitu kau menunggui dirimu yang dulu
Kau terlalu sering melewati jalan ini
Hingga membekas dalam hatimu
Wajah wajah yang benar ingin kau lupakan
Seperti batu yang tertanam di taman depan rumah
Sudah begitu saja
Hari akan tetap berlalu dan suatu saat akan menemui mu sebagai kawan di masa kecil
Yang suka  kau tentang habis habis an

Kau lupa untuk terluka butuh tidur yang cukup untuk memulihkan nya

Di lain simpang kau kenali wajah adik mu sendiri
Meranggas minta di tebang

Kita pulang sebagai karib yang telah pernah berjuang untuk menjadi diri masing masing

Dan dengan demikian kita tak akan pernah merasa kalah
Sebab mengalah terlalu mahal dengan sandiwara yang sedang terjadi

Kamis, 18 April 2019

Sendirian

Harunya biru seputih asap terbit dari unggunan entah apa itu
Syair yang kau ucapkan mengukir terbitnya rupa pada pagi ketika reda

Menuju kepada getar yang ada dan sangatlah

Dalam beberapa hari yang kau hitung sudah seminggu ini kelas tak kau masuki meskipun kau tahu kadang tak ada jalan pulang disediakan

Semisal jiwa yang terkumpul dan kau ingat wajah yang menegurmu tak kau tolak bahkan dalam dongengan itu rupanya kau kenali rasa sakitnya

Pergilah sebentar agar kau tahu bahwa tak ada celaka yang bersembunyi di balik-balik dinding

Kau hapalkan jalan agar kau tak merasa sendiri
Kemudian pergi menjemput kemana arah suara menyahut

Kau ada di antara keramaian

Rabu, 17 April 2019

Tetangga

Merasa terusir ia memilih angkat kaki
Beranjak ke suatu tempat
Yang tak akan ditemui dirinya menjadi penyebab segala yang terjadi

Setiap minggu pagi aku melewati kuburan dan selalu melihat bapak nya  menziarahi
Tapi setelah memiliki masalah di tempat biasa kita berkumpul aku tak akan melewati lagi kuburan dan melihat bapak yang menziarahi makam entah siapa baginya
Yang kusukai adalah ia seolah bercerita pada seorang yang telah tiada dalam hidupnya
Tapi aku merasa beruntung tak menjadi saksi kesedihan yang tak terbendung
Kemudian semua kembali seperti sebelum dimulai

Kita selalu merasa meninggalkan dan pergi menjauh mungkin akan menghilangkan beban yang kita tanggung

Waktu bergulir dan berharap wajah yang kita hafal untuk tetap begitu
Tak berubah meski menanggung derita atau menghadapi kehilangan dan juga di terpa kesedihan

Mungkin aku akan bertahan begini saja sedikit lebih lama daripada sebelumnya

Dan semua mengantar kepada rumah


Selasa, 16 April 2019

Seangin

Seekor kucing melintasi jalan
Berlari sekencangnya
Lebih dari kendaraan yang lalu lalang dan setiap terpaksa mengerem atau memperlambat lajunya

Seranting buah bergayut kesana kemari ditiup angin
Beberapa telah menanti matangnya

Di akhir perjalanan ada turunan yang mesti dilalui sebelum sampai pada jembatan yang licin dan bergoyang karena lapuk telah termakan cuaca

Sedari tadi aku menahan diri untuk tak bersuara untuk tak melawan ketika di tawan

Sekelompok semut beringsut menjejali bekas unggun sampah karena sarang nya di kencingi

Beberapa pemuda mengangkat kayu yang nanti akan disusun guna pertunjukan sebagian pulang atau boleh menghilang

Di pos itu kau akan dapati wajah sayu karena begadang dan terkena angin malam
Kau boleh untuk tak menegurnya

Dan ibu-ibu penjual sayur di cegat di gang depan sebelum sampai di rumahmu dan dagangannya telah habis laku dijual

Dalam beberapa hitungan terdengar tembakan di udara
Dan berkejaran pengedar dengan polisi yang beberapa hari belakangan menyamar sebagai tukang telur asin

Temaram

Sekarang kalau mati lampu seorang tak lagi takut merasakan gelap yang tak menimbulkan cahaya
Tetapi diluar beramai menantikan lampu menyala
Dan dirumah telah penuh oleh pendar lilin yang di nyalakan bersama

Atau sekarang seorang boleh memain mainkan bayangan yang nampak ketika menghalangi api lilin

Semua bergantian bercerita dan lebih baik memang jika suara suara yang tertahan ketika terang memenuhi ruangan di saat gelap

Disini ada muncul sekilas wajah yang tak biasa
Keluar hanya ketika ada yang tak perhatikan
Bahkan diri sendiripun dikejutkan dengan keberadaannya

Berupa warna yang dulu mengendap meriak kala gelap
Mematikan yang tak terungkapkan

Melengking lengking suaranya di ruangan yang kita tata agar lengkap
Semua mengambil warna sendirinya
Semua berbahagia

Senin, 15 April 2019

Kontras

Kumbang melekat pada batang pohon pada musim panas yang baik adalah bekerja
Selama beberapa hari bujang tak pulang dari melaut
Sampai purnama depan anggaplah ia pergi seperti daratan lain yang menerima
Ada beberapa tuas yang tak di tarik digudang ini nanti jadi permainan tukang tukang di kala duduk sambil melamun
Sekian saat terhitung ada yang lari dari mimpi saat baru dijerangi belum sempat di semai
Matahari tak tunduk kepada tanah atau batu
Tapi tuan muda lepaskan rompi saat menuju ku
Dengan sengaja
Pelik dengan berita pemerkosaan seorang petugas mengebiri kemaluan  nya
Sendiri dijalan sepi yang lengang samakan dengan mengumpan kepolosan pada biduan

Minggu, 14 April 2019

Himne

Perlahan tumbuhan yang tumbuh merayap dari dinding sampai ke pagar

Pohon di pinggiran jalan mengatapi pengendara dari teriknya matahari
Atau satu dua lolos juga

Siang ini ada siswa yang jatuh melompati pagar sekolahnya

Tadi pagi semua berpacu di jalanan
Untuk sampai tepat waktu

Dan loper koran melewati gang rumah mu
Hari ini tak ada makan siang

Di depan telah berdiri menunggu berpaling muka dan menimbang-nimbang kata

Siang ini langit cerah beberapa burung bercicit menjelajah mengaisi ruang kosong di langit

Permisi

Malam telah lewat
Dentang berkisar antara pukul sebelas
Waktu itu mungkin terlalu berat bagi kepalaku satu satunya tempat yang bisa kau hinggapi

Diam diam berselimut dingin malam terasa sangat membius ku untuk pura pura tak sadar sementara kau menunggui di depan pintu kamar

Tok tok
Apa kau akan melarangku untuk masuk
Dan menuang kasih di dadamu
Apa masih terasa sempit

Sehari tadi aku tak berada di rumah
Dan adik telah menyulap kamarku menjadi milik nya

Di jalan orang berkumpul
Seorang wanita menabrak mobil
Berdarah darah

Ada pegawai yang berlindung di kedai  kopi dari bos nya yang marah jika tahu pekerjaan yang tak beres

Malam ini aku tidur di kamar milik adikku
Dan kau berdiri di pintu

Masuklah
Kataku

Sabtu, 13 April 2019

Pulang ke sarang

Ombak mengalun, menerjang
Burung terbang lengah
Di bawah pendar bayang nya turut mengikuti

Untuk sampai tentu dengan bantuan angin
Dan badan telah lembab oleh percik air
Arah tak akan berubah selamanya
Dari jauh batuan semakin landai

Berputar putar
Telah berkabar badai
Ditengah
Sementara untuk surut telah lebih dari setengah jalan

Disana awan membelah langit
Dan mega meriap
Terbanglah si burung melandai
Ke sarang tempat bernaung betina berpandai

Pematang

Siasat terbentur pada tiang tiang pembatas
Tanaman yang berkelit
Menjangkau jangkau cahaya

Kilau pertama pagi jatuh seperti mantra
Menjalankan kerja yang separuh tertinggal

Kemudinya berbelok sampai pada tanjakan jauh tak tampak lagi punggung nya

Rebah ditengah sisa panenan padi menghalau ternak untuk tak tersesat kembali ke kandang

Rumah yang dahulu tak berhuni kini telah tersentuh jalanan dan ramai oleh muda mudi

Kelana
Waktu sempat menjawab sebelum cahaya redup

Dan kita kembali bersuara

Jumat, 12 April 2019

Puncak ke altar

Apakah burung berkenan jika horison kujadikan lambung bagi khayalan

Menyingkir lagi dari kekaguman
Dan berahi pagi ini

Siang begitu menyilaukan mata
Yang sembab sebab habis karena sesal

O angin yang bertiup dari benua
Yang kering
Memisahkan gagu dari igauan

Lembah penuh tanya
Semusim semua berkumpul
Berlindung dari petaka

Lalu di manakah altar tempat obornya kunyalakan

Jauh diatas tebing
Kita merayap dahulu sampai ke bukit bernama nelangsa

O lautan dangkal benamkan muram pada cucu mu yang kelak menikam pahit kerak sembilu
Yang tujahnya berkilat selebar curam dasar jurang
Disana berkepit angsa betina mati rebah beserta pejantannya

Anak samudra

Derik atap yang bersuara resah
Binatang malam
Mengintai jauh
Kami datang dari masa depan

Cahaya bulan yang jatuh kepada batang batang pohon sesudah ditebang
Membayang
Lekas membasuh luka anak muda

Ia berdendang dengan garis garis hitam pada wajah
Dan ombak menarilah
Lenyapkan ratapan dari kami

Seorang berduka
Tentang hari yang dibeli
Dengan ratapan digantinya

Dahan yang sudah kembali di isi
Burung hantu
Tak berkurang dahaganya
Kepada darah buruan
Malam itu

Samudra lepaskan
Sebagian terpaku pada palung
Sebagian lain mengira luasnya
Dan bintang jatuh
Tempias asa ketika itu
Kita menatap
Diri yang tak berguna
Merasa lega

Kamis, 11 April 2019

Hanyut ke hilir

Sebermula adalah kabut
Dibaliknya api unggun menyala
Kita berkemah saja
Sampai pagi
Tapi malamnya kita isikan dahulu dengan cerita

Lusa entah apa lagi yang kita perbuat
Tetapi rimbun sajak mengantarkan pikiran kepada kebebasan
Untuk terbang melebihi buram atau sayu tatap mu

Perihal dosa kita pertimbangkan sebagai kesalahan
Dan lagi dapat di betulkan

Begitu gelap pulang
Dan hari telah terang

Di aspal dimana kepahitan di buang
Sepanjangnya bergejolak rasa
Berbalik saja lebih baik

Ini dia selendang mu nona
Yang tadi tertanggalkan

Ricik tawar sungai kecil
Tempat rusa atau yang lebih buas lepaskan dahaga
Kita lebur dalam sejuk nya air
Yang kau sirami kepada tubuh yang rentan

Setelah itu selebar dahan
Kita bersandar
Dalam pohon luar hutan
Melingkar lengan pada gemulai nya

Selamat tinggal

Ke aliran yang memanjang
Sebangsa ikan berenang renang
Semua berlipat tangan
Dan kau akan tahu oleh siapa
Semua mengulang ulang perkataan seorang saja
Yang mereka puja

Sebagian waktu itu
Memesan jemputan untuk berangkat saja
Sebab kau telah berjanji

Meski pun tempat tak lagi mengikat kita
Tetapi kekal yang kita jalin
Membakar ingatan tentang jalanan yang padat

Ini bukan lagi kau yang dahulu
Yang begitu jahat
Meski waktu terpaut dan kita bisa mengulangnya dalam memori

Entah sebagai luka
Kami kemasi juga
Ia tak akan pernah kembali lagi

Dijemput

Mengendap di tikungan
Belakang rumah
Adalah jalan lain menuju
Simpang menunggui angkutan
Disana ramai siswa berangkat ke sekolah

Gang pertama terdapat rumah lama
Kosong
Tak berhuni
Jelas dari sini
Berkelok menanti tamu
Tanaman bersemak
Sebagai kau saja
Apakah mampu memasukinya dan tak kembali mungkin akan lebih baik lagi
Jika orang lain tak mendengar kabar tentangmu

Di warung menjual rokok ketengan
Lebih pagi dari mu
Ada teman mencorat coret seragamnya
Dan kau melewati nya
Dia tahu itu kau
Namun ragu dengan langkahmu

Pukul sembilan pagi kau diantar pulang
Lebih dahulu dari yang lain
Sebab kau diam saja mematung tak menyahut ketika ditanyai bu guru

Pelosok

Beberapa ekor itik beriringan lewat pematang sawah yang di gadaikan

Alap-alap terbang rendah mengitari pekuburan
Dan malam menjemput maghrib hadir melerai percakapan di warung

Petani pulang melalui jalanan beton diantara sawah

Lampu dari rumah mulai dihidupkan
Tangis bayi tak terdengar lagi
Berganti adegan dari televisi

Dijalan besar kendaraan di pacu
Atau yang memilih berjalan kaki
Berteduh dari gerimis
Sebab mendung sejak tadi

Nanti malam ada pertandingan sepak bola
Warung telah dipenuhi
Adik kami menghafalkan pelajaran besok
Terlalu larut ketika malam
Lampu rumah dimatikan

Suara jangkrik bersahutan
Dipinggir kota yang selalu riang
Akan berkabung jika ada kematian
Entah itu siapa
Atau kapan saja

Rabu, 10 April 2019

Ephitap II

Dibatu terpahatkan garis garis angin yang telah coba membelah
Disini istirahat seorang yang diam

Dari langit turun hujan yang basah
Tanah berubah jadi lumpur
Dan mencoba menenggelamkan batu berikut pahatannya

Di sini telah berkumpul
Dan disini akan selalu terukir tentang kisah

Satu dua rerumputan atau ilalang
Merayap pada tanahnya
Dan disini akan selalu berbekas
Atau susunan batu dengan lukisan zaman

Disini telah pernah datang senja yang dihakimi
Bocah bocah bergantian terjun dari atas jembatan

Dan disini semua semarak
Ketika malam
Pada pulang

Batu yang tak bergerak
Menampung hujan menanti senja
Begitu saja

Kawan

Menderu ngalir nya air
Menuju muara tempat ikanan berpisah dari tawar ke asin
Tempat sampah tersangkut

Jembatan menyatukan yang di bagi alam
Tanahnya tempat cerita di mulai

Dan ada bekas bekas perkelahian

Di bukit rendah itu dahulu kita memimpin antara siang
Melibas belukar dan sampai di atapnya
Melihat pematang diratakan dengan kota

Demikian kau melempar batu
Sejauh

Menyalak ketika kau lompati

Teruslah begitu
Nyaman nya hanya ada ketika hujan reda dan permainan kita kemasi
Lalu bertentu tuju
Selamat di hari lain lagi

Padang

Deras dari tangga
Berderap naik perlahan
Di atap hilang timbul suara suara
Namun hari begitu jauh
Meskipun senang untuk disoraki
Dari sini

Kemudian bersisian pria dan wanita
Mengepung waktu
Mengaraknya
sidang pertama di bulan ini
Di depan matahari jauh
Kita menatap dengan pelipis ditutupi
O masih kah ada terang bulan itu
Nantikan malam kawan bintang nya kau hitung tak jatuh

Lebih pagi dari ini kau sanggup membuka mata
Yang lain bahkan melewatkan mimpi
Demi gita yang membangunkan kelak
Semua berbahagia

Terik siang ini
Semua larut dalam lingkaran yang dibikin seperti semut yang di jebak
Berputar putar mencari nafas melewatinya

Seringkali melihat nya terjatuh
Beberapa terpaksa mengatur diri seperti gembala yang terombang ambing oleh cuaca
Kalau tak hujan
Kita bisa pulang dengan perut penuh oleh rumput

Bekal penggembala telah habis
Dan ular membujur telah di halangi nya

Sementara itu kita dapat bermain main seperti sedang digembalakan

Siluet

Keras di langit menerjang
Tadi sehabis meraih beberapa batang pikiran yang ia simpan yang ia sisipkan

Lantang serupa ombak
Ia menepi sekali ini
Dimanapun bersembunyi
Ia selalu memilih berada di antara terang atau gelap

Yang mungkin tak seorangpun dapat menggodanya
Atau dengan begitu ia jadi merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri
Yang menyalakan cahaya

Ditutupinya tirai pada jendela yang terbuka
Semenjak tadi memunculkan bayangan
Dari luar tampak sinar atau lirih suaranya
Ia yang gampang dilupakan

Menarik narik ranting pohon
Yang lembab dan daun daunnya berganti warna kemuning
Seperti tempat yang di lewatinya atau dilalui saja karena terburu buru
Yang beberapa tahun kemudian tidak akan pernah sama
Sebagian yang dikenalnya tak sanggup menunda ajal
Atau sebagian yang lain telah menjadi bagian dari yang lain pula
Ataupun telah menjelma makhluk kecil yang di cintainya

Ia memilih menjadi siluet pada tebing di lereng bukit
Agar kekal dan dilupakan keberadaannya

Selasa, 09 April 2019

Berpura pura

Kemari kah kau kembali pada tunas yang bergayut
Dan ditunggui berbuah
Satu persatu temanmu sudah mulai berumah ditepi kanal selebar jalan

Atau kau kah itu yang memilih menetap
Dan bersedia di lempari dari biji sehabis di kelupas

Bagi kami akan sama saja dan kelak semua nya akan berlindung tetap kepada beringin tua yang bergelantungan akar padanya
Terukir sepasang nama yang disingkat
Terlalu malu untuk saling mencintai

Atau di masa depan kau temui serupa pintu pada hari ini
Dan semua telak
Kau merasa sengaja di pisahkan dari jalan besar

Sebab mendung hari ini menutupi kesedihanmu
Yang berpangkal kepada kehilangan
Atas tubuh yang ingin kau miliki
Sebagai tempat menambatkan hati
Dan semua telah lewat telah berlalu
Temuilah dirimu yang membisu
Dibalik tembok almamater mu
Dimana saja tempat mu dahulu mencoba menyalakan bara
Yang tersisa adalah kepura puraan

Ruang kerja

Selasar tak berhuni selain derap dari yang lalu lalang
Terbayar letih menghapus sekedar tanya yang kadang terbit begitu saja

Menopang dalam bahu yang kadang linu
Dalam ilmu yang kurang
Tapi waktu dapat di akali

Bertahan sebentar dalam hiruk pikuk
Ada yang tertelan dalam kesunyian
Kemarin tersurat bahwa hari baik tak akan kemana
Sementara kau tertahan oleh  pilu mu pada surya
Percayalah tak usah kau tuliskan pun semua akan tetap dan begitu saja



Bagaimana ini

Semilir angin
Aku menunggui bukit
Untuk basah

Lain kota aku terkenang jalan yang penuh
Dan riuh

Dan dalam berapa petang
Aku dapati
Teras telah rapih kembali

Pagi ini kelabu di pucuk bukit tadi
Kemaren aku berada di sana
Diantara mendung
Atau langkah kaki
Diantara penat

Mengantar pulang
Dan menolak untuk berangkat lebih cepat
Sebab semua yang kita miliki telah pernah di coba oleh orang lain
Yang tak meminta izin
Dan untuk itu kita belajar untuk tak marah

Anjing galak

Ia seorang saja sementara beberapa ekor anjing yang terlepas mengejar dan menggigitnya

Ia merasa bersalah karena memilih jalan melewati kandang anjing yang tak di ikat

Ia terluka
Dan tak ada yang menyalahkan anjing-anjing tadi
Atau sengaja di lepaskan

Dagingnya koyak dan darah berlumuran
Pakaian nya hancur

Suatu saat ia tak akan mau melewati jalan itu lagi

Terserah anjing nya yang di pindah kan
Atau tuan mereka yang begitu marah pada orang seperti dirinya

Ia terus memaafkan dirinya
Sementara anjing anjing tadi di biarkan kembali pada kandang
Menjagai dirinya sendiri pun mereka tak akan mampu
Begitu pikirnya

Lebih baik tak usah
Karena anjing pun tak akan suka di permasalahkan
Atau mereka lebih buas lagi mengejar dan menggigitiku

Tak apa batin nya
Besok mungkin aku akan jadi pemilik anjing yang lebih galak tapi tak suka mencelakai manusia

Ia memutuskan mengambil langkah selanjutnya
Dan menyerahkan anjing-anjing tadi pada tuan mereka

Aku akan mengobati luka ku dahulu
Selanjutnya memastikan tak ada yang lewati jalan ini lagi

Senin, 08 April 2019

Intermezzo

Di depan angsa mengumpul
Lepas dari sarang mereka mengisi jalan sempit
Bermain genangan

Di lebat rimba selalu hadir bayangan yang tak di sangka saja

Ia permisi sebentar
Ke arah piket kelas yang menjaga
Keluar bermandikan cahaya mentari
Yang panas menggigit

Di dalam sebagian bersuara tentang hari baik
Seperti pengalaman pahit semua akan di lewati saja

Jauh dari api unggun
Sisa sisa bara kemaren dipadamkan

Dan dari arah angin datang
Mereka menyulam jalan kecil
Keluar dari kesibukan masing masing

Masih kah ada kita temui ajal
Masih kah ada kita jumpai kelahiran
Dalam sebentar purnama bulan
Kita tak dapat mengira

Dengan perasaan damai mereka coba rebah
Dan tinggalkan segala yang baru saja mereka dapat
Dalam berapa usaha
Sia sia

Pagi di lereng bukit

Terus naik ke punggung bukit
Di ladang kentang kau tenun
Dan terbangun lebih baik untuk menemui pagi

Dari sini kau merentang jarak sejauh tuju mu
Bahwa kelak
Juga akan sampai musim penghujan itu

Dan siaran perihal musik bagus yang kau pilihkan sebagai teman tidur malam nanti

Dalam pandang mu yang sebuah saja
Kau selalu salah mengira peta

Dan sejenak merayu tubuh
Untuk kembali berpatut pada cermin
Di hutan pada akar yang timbul keluar
Pada gores yang tertinggal
Kau biarkan  dirimu dibawa ke ruang yang tak ada dalam cerita dahulu
Kau sekarat
Tetapi dalam sekeliling awan yang nampak dari puncak
Kau memilih tak melibatkan hati untuk melihat
Yang telah lemah
Agar kau masih dapat mengingat
Serunya satu persatu
Dan kau akan memihak kepada nya

Mendung di pantai

Dialah resah
Dan kukira senyum yang terbit seakan dasar sukma menggamit
Melebur dalam derap yang ku atur
Menjumpai sunyi yang dijual menumpuk

Di ujung lorong kesembilan
Dia menunggu seperti batu dan mengajak kau untuk terbang

Lompati jurang yang kau pilih sendiri
Sesampai ujung selanjutnya
Kau di sebut telah tiada
Dan kau berjuang untuk menyeru dalam badai yang datang
Sembari tertatih  bilakan kau teringat tentang debur ombak menyatu dalam
Pilu ratap kekasihmu
Dan kau sebut ia kenangan
Yang terbirit dalam pitam sebuah khayalan

Geram

Seingatku tak ada kata yang mewakili diamnya elang pada puncak pohon yang menjulang
Angkasa juga ranahnya
Atau curiga yang bergeser bersama dengan irama ciptaannya

Berderit menguak tanya yang sekelebat hadirnya
Di palung bisu kau menduga
Tak ada lebih nya maka cakrawala kau lukis

Kilau selubungi citra dan hilang sirna lah sekejap mata

Kelam mengungkap siapa yang memulai
Meredam gerak waktu yang kau bagi dengan duka mu

Kau artikan sendiri sebagai bayang yang terbit 
Maka kau bangkitkan seruan dalam peristiwa yang beranjak
Yang mengajak

Dan dengan itu kau kirim kemarau sebagai ganti bualan yang kauharap habis dalam jatuhan pasir
Menggema dalam ruang rindumu



Minggu, 07 April 2019

Kedatangan

Berkejaran ombak menyapu ketepi
Angin yang disanjung semalaman kau tak nampak
Terpatri kuat di hati
Sekali ini buih terdampar dan karang dipecah

Pada purnama nanti
Seroja dan penantian di hidangkan agar kau dapati jiwa yang kau dekap dalam buruan
Akan kau ingat sebagai
Selamanya

Dan mentari yang naik meninggi
Serupakah dengan
Cerita dalam rengkuhan pertapa
Dalam berapa ujian kau lewatkan
Dalam berapa angka kau saksikan

Tujahmu dalam lagu dalam berapa nada tersimpan rupa
Kekasihmu

Jerih

Belum sempurna rukukku ia terhiba oleh ringkikkan yang datang melebur dari sukmanya

Datangnya terkira sebagai angin yang berhembus datar di april yang selalu saja pengap

Sebab dari sekian pesan yang sampai ia di lukis sebagai mesra
Ia tertawan sebagai waktu yang di curi dari kekasih

Dan mimpi yang kerap berdesir halus menemaninya membalut pedih

Tabik,
Tunas muda telah di sabit dan diceraikan dari akarnya

Kelak dimanapun bernaung temuilah dirinya sebagai lelaki

Luruh

Mengalir terburu buru pada sungai yang melandai
Mengisi dan mengangkut setiap ruas bibir berpasir
Menunda nunda untuk di sambut dan di kurangi

Mengunci bunyi pada susunan batu yang berjejalan bagai pasak

Membiasakan kalian dengan bau tawar yang di bawanya

Kelak sebelum lara menyumbat
Bisikan  bisikan pada kecipak yang larut oleh lirih kelam yang bergombak seperti gitar tanpa senar

Kelak semua memintas dan dedaunan mengulum udara yang datang tak terbeli oleh buainya

Sendiri berkemul resah dalam dada yang minta kau singgahi
Setia setiap surya jatuh

Sabtu, 06 April 2019

Oleh-oleh

Menyerupai pohon adalah bayang yang bersembunyi
Dari balik balik jeruji

Mendekam dengan diri sebatang
Masihkan lorong kau lalui

Besok atau hari lain lagi
Menebalkan garis garis

Diantara baru sebait lagi
Setajam gertak dan sehelai saja kilasan

Jatuh bulu terbang melayang saat udara telah bercampur asap

Terbilas muka dari mana arah nya
Sementara batu bisa dijadikan lantai
Dan kita dimiliki sebagai oleh-oleh

Jika

Diamlah puncak telah tergapai
Oleh rentetan peluru
Menandai bakal rumah mu

Denganku kau seduh
Malu yang kau jaga
Sendiripun sehabis ini
Kau akan tetap kumiliki sebagai alasan untuk terus bahagia

Jumat, 05 April 2019

Sempoyongan

Siapapun nanti dapat memilah sayuran yang telah digarami

Tak sia sia
Menemukan sabit ia menebas sisa-sisa ilalang

Ia menggores nama
Tak boleh lupa tentang asin keringat
Atau pekat liur

Sebatas gurau
Daun kering alaskan langkah
Tapi siapa yang bercerita tentang malam yang habis di seduh pengelana
Rindu ini miliknya

Ia menggelar sekarat
Ia melayat pada derita yang muncul di bilik
Melalui celah sukar di kenalinya wajah pongah itu
Ia menempik gambar neraka
Dengan segera ia berlari menuju dermaga
Membasuh diri dan luka

Akuarium lama

Seringkali ia bersusah payah agar bisa mendiamkan rengekannya sendiri
Barangkali prasangka yang kemudian muncul dari tebing tebing penyesalannya

Sebab malam adalah kurungan bagi jiwa yang mencinta petang
Dalam hidup yang demikian ia tergoda memainkan nada riang membelah sunyi
Menertawakan kesendirian

Dahan bercabang
Ranting tergantung mematah
Sehisap rokok habis di malam buta pagi serasa di ambang pintu terbuka
Adakah kita sanggup menggapai makna

Di teras penuh oleh gugur dedaunan yang menyentuh lantai

Dari benda tiruan disusun seolah akuarium yang penuh sebelumnya telah juga di hiasi dengan makhluk serupa

 

Pohon asam

Berbaring di bawah pohon tumbuh sejak lama sebelum aku ada bahkan
Mengais derita sebelum datang panggilan bahwa kau punya seribu alasan untuk diam
Sedangkan aku berdiam berarti kembali pada gelap yang datang mendahuluimu

Sebab siang ini semestinya kau berangkat dan aku akan berkata seperti berita singkat tentang esok yang bakal menahan lebih dari sekedar ingatan dan kita dibubarkan agar tak ada yang seperti kita

Hari datang sebagai musuh dan minta di tipu
Sedang aku di bisukan oleh perkiraan sebab dia yang dekat lebih memukau untuk kuselami dan membawa jauh pergi derita
Ke tempat datang nya semula

Adakah seorang lebih dahulu memaku bingkai potret lama di dinding yang memagari setiap keluh kesah ku
Atau aku akan dapat lebih memberi arti daripada senyum dan kekurangan yang di sumbal dengan berkas seperti kesakitan

Kamis, 04 April 2019

Suatu siang di pasar lengang

Perlahan dengan kabut ia ikut menyisir pagi
Sejauh

Ia minta didoakan saja
Tak kurang

Sekali di hilir angin sampai menuju pundak nya
Ragu di sapa nya bayangan itu

Masih di ingat nya letak batu penanda tempatnya mengubur benda miliknya
Yang tak di sukai

Kemanakah kucing kecil yang ku pelihara dahulu
Besok hari dia tak kembali

Lekas seperti bapak
Ia beranjak tak pulang rasanya dingin sekali malam itu
Ia tak apa

Di curinya cahaya yang tersimpan milik seorang yang bersebelahan dengannya
Ia minta di lupakan saja
Atau dikubur dalam ingatan
Sementara
Karena selamanya butuh berlari atau tidak sama sekali
Mengejar bayang bayang
Begitu orang kampungnya menamakan
Ia tak lebih dari si bisu yang berteriak dalam medan perang
Ia pandai untuk menyimpan pedang
Dan pulang sebagai yang telah mengalah

Penuh

Diambang kesadaran yang kutemukan adalah anggur yang setengah mengisi gelas tak ku habiskan memang setia untuk sedia

Kubahkan tak siapkan jawaban
Diri risau dan penat
Karna kau cukup kuat

Sembilu rintihmu dan kulatih untuk tak peduli lagi pada mata yang menagih
Lunaskan segera

Dan curiga seperti elang yang menyingkir dari cakrawala
Miliknya

Kita hempaskan hitam putih dunia
Dalam temaram yang kau pinta cuma hiba

Lentera

Tak berkurang rindu nya pada alam
Ia membagi rima pada setiap ketukan
Dan ikut
Mungkin saja ia mengira
Dari mata air itu mengalir pekat
Seperti
Darah

Dari tubuhnya sendiri
Yang hitam

Ia berjalan menuju pusat
Dalam rimba

Ia adalah sebutir diantara ribuan
Cuma tak di kenalinya dirinya lagi
Dalam setiap kengerian yang di lalui
Terlihat wajah naif yang membujuknya sebelum ia bertakhta

Tak banyak waktu yang di habiskan bersama kesenangannya

Tergolek
Sebisanya meraih pangkal akanan
Dan menembus gulita dengan pelita yang di rakit dengan kayu atau pilu

Memeriksa bekas luka sendiri
Jauh dari ini telah dicobanya melepaskan

Rabu, 03 April 2019

Sebelum siang menjelang

Pada benalu yang tumbuh mengakar
Di batang pohon menua
Karena waktu
Atau siapa saja bisa jelaskan

Mengulang ulang kenangan saat kita masih dapat memilih ketika kaki tak berat untuk di langkahkan

Berada bersama angin berhembus pelan tiarap ketika itu hujan

Beberapa tetap bertahan
Atau pulang saja memutar jalan

Adalah kelapa yang ribut di puncaknya
Sewaktu malam menjangkau bulan
Tapi sinarnya tetap membilas setiap malam
Bermandi cahaya rembulan
Begitu kau sebut kenaifan dan kau tak dapat apa apa lagi selain bersuara seperti hewan saat malam

Sebelum tidur kau rapihkan ranjang
Dan pelan sekali sampai kau tak mengerti doa yang kau ucapkan
Dengan semoga
Bermimpi tentang lanskap yang kau curi sendiri dan berharap besok tak turun hujan

Dan kau masih bermandi cahaya mentari yang menyengat seperti siasat
Wanita yang kau curigai
Apa aku pernah begitu mencintainya
Dengan sungguh kau bongkar remuk dadamu sendiri
Kau cuma tak sabar dengan jawaban yang sudah kau ketahui dan kau tak pernah lupa untuk berangkat lagi lebih pagi

Ibu dari manakah semua ini berasal
Tapi kata seorang tua yang aku ziarahi kuburnya
Dari muara bernama kesalahan
Dan kau bertugas membetulkan anak muda
Sementara dari atas langit doa doa ditangguhkan
Serta sebagian pulang sebagai yang terkutuk
Atau sebagian lain menyumpahinya
Aku tak mempercayai perkataan
Dari dia yang mati karena laras nya sendiri
Tapi ibu bukankah lebih baik di akhiri saja
Dengan menjawab pertanyaan itu semula

Di parit kami bercinta dahulu sewaktu awan beriringan sementara kalian tersibukkan kami minta di cukupkan

Selasa, 02 April 2019

Pak

                               Don't leave me high
                                 Don't leave me dry
                                             - Radiohead

Sempurna sebuah pagi
Dada ranum
Paha lekat
Kau rebah
Dan aku hitung
Kalian belum juga beranjak

Kepada deretan angsa
Jika suara tiada
Maka berangkatlah kalian

Tak terganti lagi
Ciuman tergesa dan banal
Kalian orang piutang
Mesti lunas sebelum ajal

Anak ku

Kalian yang kubesarkan dengan dongengan
Tentang subuh tentang matahari terbit sebelum pagi
Harimau melintasi lembah sekawanan rusa muda mencegah

Dan telah kalian beri kami dengan cinta yang menghasut malam dikala muda
Patutlah sekarang merasa sentosa
Sebagai apa dan kelak kalian terbawa hingga ke hulu

Kembali menuju tiada
Meski begitu aku yang tua dan telah ragu
Cukupkan kelana mu








Sepasang II

Sepekan berlalu saja
Dalamnya siapa sangka
Telah ada
Nubuat Nuh di parit kesekian susut nya

Telah sampai sepasang lagi tuan
Yang papa dan fana

Dalam rentang sekian
Ia mencabik dada nya
Marut yang dulu di gembar gemborkan

Dari kasih kembali ke kasih
Bunda biarlah kami telentang
Jadi alas jaman sekarang

Dan cinta nya abadi
Menetes umpama keringat kuli

Kemana bertandang
Zirahnya terpasang

Ia ringan untuk terkenang
Likat kau lupakan
Tenunnya majal dalam kepit rindu temaram bulan penuh
Ia milikmu

Selamat lah sepasang lagi tuan

dan

Dia berpura ada dalam suasana
Sesekali menengok ke luar jendela
Perhatikan langkah kecil pejalan kaki
Yang di senangi dari dirinya
Ia tak pernah merasa jadi bagian dari apapun
Murni
Seperti kasihnya
Sayangnya ia telah berada dalam dekapan ku

Sekali ku beritahu ia minta dilepas dari pelukan
Ia malam yang panjang
Dan kawan pamit duluan
Ia sebuah kolam yang tak ada ikan
Ia sebuah tanya
Iaitu cinta

Hilang

Di kostum itu tertinggal bercak darah
Dalam logo permai yang sebuah rebah sebatang tubuh yang sepanjang menit meneriaki dari pinggir lapangan
Tanpa pamit beliau bergegas menemui maut pada ibu dan bapak nya lewat sambil bertaruh angka di raport semester depan dan uang jajan yang di lebihkan

Sesaat lalu berkerumun malaikat malaikat maut bertubi tubi kepada badan yang seorang
Angkara di luap luap kan sengaja seperti akan biasa saja setelah ini

Di sorot si mayat tergantung ujung kalimat
Bagaimana jika,
Ah hilang lagi sebuah kepala

Sementara ku sambung kalimat nya
Hewan ternak kian bertambah saja
Ah buat apa
Selain diumpan pada pemangsa

Suatu pagi yang indah

Pada pagi yang dingin dipaksanya untuk membuka mata
Yang masih terasa berat oleh rasa kantuk
Terhitung tugas dan pekerjaan
Ia bergegas menuju kamar kecil dan serta mengambil gadget dan menyulut sebatang rokok setelah nya

Saat setengah terjaga atau tertidur
Ia mengatur posisi di toilet
Dan menunaikan hajat
Mengingat perkataan seorang teman nya
Yang beberapa hari lalu dikunjunginya pada sebuah kota
Ia memikirkan untuk meninggalkan apa yang telah dilakukan nya
Apa yang telah mempengaruhi hidupnya selama ini
Ia yang dahulu terlalu bergantung kepada sebuah bidang yang ternyata telah berhasil merampas dirinya dan cita cita nya
Ia berusaha keras untuk mengambil setiap kebaikan yang pernah singgah di hari yang telah di laluinya
Tapi ia terlalu berat untuk tahan terhadap goncangan kenyataan yang menampar nampar wajah nya
Ia masih lajang

Meski begitu ia masih sanggup memisahkan sia sia yang di usahakannya
Memang semua akan sama saja
Karena saat itu ia terlalu naif masih sangat hijau dalam mengambil pilihan pilihan dalam hidupnya
Kelak yang akan di sadari nya sebagai sebuah kesalahan yang membuatnya bersikap seperti sekarang ini

Senin, 01 April 2019

Lain kali

Sepagi ini kau mesti berangkat dulmajid
Sebelum diriku menemukan kau mematung di pojok bilik dadaku yang telah remuk
Kau tak boleh kuberi tempat lagi selama nya
Sebab sama saja bagi ku
Susunaan beton ini di cipta agar kita di pisahkan sementara saja sebab kemudian kita lah yang memilih untuk tak bertemu

Kalau demikian aku mungkin lebih senang mendengar kau merasa sakit dan mengetahui kau memanggil manggil ku seperti dulu

Seperti kata orang kita tak dapat di satukan tetapi mereka memilihkan pilihan pilihan kita supaya kita mendapat luka
Agar lebih mudah menyombongkan diri
Agar kemudian merasa sentosa

Itulah irisan kalimat pertama menjelang kita berpamitan

Telah usai sebelum di mulai

Sebelum dan sesudah nya

Dari sini terus saja menuju rumah yang sempit karena patung gajah
Di letakkan di depannya
Ingat di depan sebuah gapura melarang untuk kau masuki sementara didalamnya berbaris manusia berseragam seumuran dengan saudara saudara ibu mu
Menghapal mantra untuk tak melewatkan doa bersama sebelum makan siang
Hari ini

Selepas ashar begitu seorang piatu menembaki dinding kayu dengan sepucuk pestol yang di dapat dari paman nya
Menyuruh mengurus dirinya sendiri
Agar tak terngiang lagi panggilan ketika kecil dari kupingnya yang di bisiki teman wanitanya seorang yatim
Mereka puas bercerita
Baru saja
Hari ini

Melewatkan jam sekolah saat siang ia berpikir bagaimana jika angka yang ia putar di kepala nya
Atau susunan kata yang di bolak balikan
Menemuinya sebagai guru yang kelak di jumpai nya dalam setumpuk buku yang di dapat sehabis berkompromi dengan parfum atau deodoran atau sabun muka yang akan di belinya lain kali

Ia seorang saja tak apa
Tetapi guru gurunya meminta agar berdua saja
Sebab tak apa bagi mereka
Menghadapi keduanya
Biar kata kata kami tak di hapal saja

Deras seperti sungai kecil yang di belokkan mengairi sawah yang di rancah oleh kaki tuan-tuan di kota kecil ini

Klise

Dipucuk gedung yang mengambang hitam
Menumpuk jelaga
Tunas yang dibawa dari kampung telah di tukar dengan detik yang dapat di simpan dalam lagu atau cerita
Sebagian butuh pulang atau yang lain memilih untuk terus berjalan ke arah teluk dan memutar menuruni bukit kebawah

Bertambah usia sama dengan meminjam tempat untuk larut
Hibuk saja biar tetangga tak terganggu tidur siang nya

Kilometer di tempuh harus sampai kalau tak di jemput saja agar raga dapat bersua

Tanah seperti titian yang di sesaki oleh kabar demi kabar
Kita bisa peroleh hasil jika tak saling melempar dan terus memekik bagai kelasi

Di semenanjung itu angin telah berpusing dalam sepuluh malam tenda didirikan

Dicabang cemara angin tertambat perpisahan yang mesti di sambut seperti menerka letak ujung pelangi
Kau ikut tidak
Kemana hembusan angin disitu tanah kita berlabuh

Tiarap

Percik api dari gelora unggun
Adakah kita terbiasa dengan tarian nyala
Nyanyian petang pada merdu biru laut
Yang kau jaga
Menamainya tanjung dari sana terbit gentar yang menarik noktah
Dari jejak kabut pertama pagi itu
Dari sekian hari yang kau tunggui jatuh pada genggammu

Menamainya parit penuh belukar
Kau mundur dan berpikiran
Loncatilah seperti perih luka itu

Menjaga nya agar tetap berkobar
Dari sekian resah kau beli dengan rintihan pelan
Rasakan kemudian dan kita hilang penat hilang kesumat

Pernah sekali ada yang datang
Menyerupai dirimu
Menyapa
hai kau menggapai mimpi
Minta di taruh dalam ruang penglupaan kiranya