Minggu, 30 Juni 2019

Beri aku arti

Kemudian patah asa itu yang membangkitkan keringatku kala teringat dengan desir dan kau yang urakan

Membekas dan nadir serupa tetesan yang ditampung lama kemudian namun masihkan ada sedikit pula ruang dan antara kita tak berjarak maka rindu itu pada gerak memberi bentuk tingkah yang tak kau rindukan

Malah hanya akan mengingat sedikit lalu kemudian kemana sisanya bergerak atau tidak sama-sama tetap dianggap sedikit saja kemungkinan yang dijalaninya

Sekumpulan

Kini masih sama dengan hari yang baru saja kita dapati walau dengan hanya keberanian sinar itu kita dapatkan dan akan berpendar cahayanya

Cahaya pertama

Dibawah matahariku matahari kita masih matahari yang sama berjejalan setiap mendambakan cahaya pertama

Tak sempat lagi

Bila saja tak kita dapati lagi binar mata disaat masa terlalu berat sangat untuk dapat kita lalui

Namun akan beda lagi jika yang tertutup dan terhempas itu pintu satu-satunya untuk menemukan ia yang dahulu

Sampai ketika kita membereskan sisa-sisa perbuatan, tak di duga saja.
Asap menggumpal dan teriakan bayi yang harus disusui di tengah hari kelaparan

Sekali waktu pun masih kuhargai apa yang kemudian kita cintai

Perlahan

Berhenti itu yang kita simak ketika di radio putarkan ulang lagu yang kemarin masih dapat dinyanyikan bersama namun keras lagi ternyata

Di antara luka dan bisa mana pernah terampas lain dari pengecualian yang kita catatkan

Sekalipun tiada pernah untuk membalas dan lepaskan yang mungkin tak akan terganti

Pada malam banyak cerita yang kita kisahkan sebelum kembali menghitung domba yang kita ternakkan di kepala

Nukilan

Kemarin lagi tak pernah kita menghempas dan kembali usang
Lalu kini mengabarkan yang tak pernah terjadi lalu apa saja kita khawatirkan oleh sebab mimpi

Kembali sebelum ruas terisi teduh oleh nestapa dan apa yang tak pernah tersentuh dari bisikan dan kemudian kita patahkan

Selamanya berdiri sembari terus menguatkan
Disamping itu tubuh dan duduk dalam satu dua hitungan
Pada saat kita tak temukan bukti

Kerabat

Bertanya tentang esok hari.
Masih adakah, dan yang kita perdebatkan bukan lagi soal.
Hanyakah kebanyakan yang dahulu sempat dimulai lalu berakhir dengan kalimat yang cepat datangnya.

Terserah setelah menghabiskan banyak waktu dengan sebisanya untuk tunduk dan mengerjakan dan kembalikan yang bukan kepunyaan kita.

Tapi kini didunia padam dan kepalaku saja lebih berat dari keputusan.

Lalu kita mengendap seakan pernah meraihnya yang akan kita temui nanti dalam kamar-kamar yang kita jaga.

Aku kan kembali dan lebih utuh dari ini
Semisal sedikit yang tak hanya kita ketahui.

Klab

Ada yang hilang saat duduk di beranda
Ketika datang seorang lagi
Mengantar diri

Dalam pekat malam kita merasa lebih beruntung atau tidak pernah sama sekali berjuang mengalahkan
Serta merta diri bergantung dan sekarang mulai jarang sekali untuk mengimbangi hanya kesudahan yang di harapkan yang baik mestinya

Daun gugur jatuh tak memilih tempat dan gumpalan awan berlagu lagi pula kita menemu untuk saling pertanyakan kabar kepada terdekat lalu pulang dengan pesan terselip

Hari depan mengawang di depan mata lalu kemana lagi pertanyaan-pertanyaan ini disingkirkan
Yang kelak akan membawa diri kembali ketempat semula berpijak

Jejak langkah

Dengan gempita menjelang subuh dibuka kemana arus kini
Dan yang hanya akan ditemukan di parit jauh dari kelam surya datang dan terbiritlah beberapa mencari tumpangan ke arah banyu menanti jatuhnya mendung ketika pagi memang hanya akan lebih menakutkan dibanding suara dan rupa-rupa yang tak kita ketahui dasarnya seberapa dalamkah hingga dapat tenggelamkan sebuah kepala atau hanya akan membenamkan yang memang telah jadi penghuninya
Tak ada ucapan selamat selain bergegaslah

Sabtu, 29 Juni 2019

Keberangkatan

Kemudian memang hanya titik dan akan bertemu ke sudut tempat irama bertarikan sementara itu cuaca telah di garami dengan isu apa saja yang tak kita kuasai lain dengan lirikan dari bawah tanah bergeming lalu menimbulkan suara serupa dengan tabrakan sesaat lalu meledak asap mengepul atau memang hanya mimpi yang tak pasti datangnya

Di luar ruangan benda apa saja malah nampak lebih hidup dan bening serupa sperma di lautan aku bertemu dikau yang cemburu bertanya kepada penjaga warung dimana letaknya keberuntungan bagi yang akan memulai meski waktu itu kita lalu cuma dapat permisi dan kemudian berharap lagi

Tetapi masih pagi ketika itu dan yang terang kita redupkan sesaat sebelum keberangkatan

Hijau

Dihempaskan tubuh saat tak lagi merasa damai dalam sendiri
Namun hanya seberapa yang menghendaki dan kita pura-pura menyesal untuk tak pernah benar-benar dapat hidup
Di masa yang masih kita hitung
Tahu dengan begitu kami hanya akan tetap menerima yang terbaik
Dan tak segan meminta untuk tak pernah kembali

Jangan kembali

Kemana saja menjadi redup sekali saja menempuh ujian lalu pulang
Sampai jumpa lagi aku kenang segala dera juga sembilu katanya
Saat menjelang jalan dengan sadar ia bertanya tak akan apa namun hari jauh namun pelan
Pada masa lain ia kembali akan menemui dan benar saja dibongkarnya apa saja yang telah tersimpan disini dengan rapi
Begitu cara waktu mengobati dan lebam yang dibaluri dengan beberapa alasan untuk tidak kembali

Bala

Kemana angin dia berdiri dan menghadap
Dari arah lain sambil bercakap bersualah apa yang ingin ditemui perihal semua yang megah dan indah di pandangi dari sini

Kelak kata akan membatu menjadi fosil disamping ketakutanku
Pelan-pelan bisanya menjalar meraih jantung yang menggerakkan ini semua

Tetapi tak hanya kemudian kemujuran tak pernah terlambat datang
Peristiwa-peristiwa sehabis ini akan kita lupakan
Lalu kemana lagi cuma kebaikan dan lain dari itu sudah kita tepati

Hanya kita dan sebuah cara yang kita upayakan setelah itu habis sudah segala usaha

Jumat, 28 Juni 2019

Ruang di kepalaku

Kini yang ada pohon itu terus saja dikunjungi sementara kita lagi tak tentu kemana mesti di arahkan sementara suasana telah padat tak berhaklah bagi kita untuk menjabarkan keselamatan

Faust

Kini aku hanya akan meminta faust tak kembali dari dulu semenjak hukum dimana negeri
Dan juga hanya akan ada segelintir yang mengikutinya
Bagaimana jika tak kunjung didapatkannya kitab itu
Namun jauh di relung jiwanya ia berkelana menuju dunia bawah

Relung

Sekali pernah mungkin ia berkabar dengan penuh menuju kemana arah suara itu muncul

Tak bakal hadir dengan segera dirapatkan telinga kepada tembok yang kelupas oleh garam yang menguap di pasir lalu dengan curiga ia menatap pada alina tak juga senja itu sampai begitu mungkin pikirnya

Padahal langit yang biru disekitar kanak sedang tak ingin marah hanya saja waktu ia biarkan berlalu dengan memejamkan mata tak kurang kali ini ingatan kepada engkau

Suara di kepala meursault menyuruh menyelamatkan si arab

Dimana kau dapati anggur itu meursault
Jika saja aku tak keberatan untuk menjelajahi ruang ini maka akan aku sempatkan memberitahukan kepada engkau
Elang tak siakan suara dengan diam ia melesat bersama udara

Lagi tak dengarkan kabar dari selatan mungkin
Aku pikir memang hanya akan tetap mengundang keramaian jika kita lenyapkan satu jiwa dari pandangan

Sial

Dan jika memang hanya sedikit kepastian yang asing diantara beberapa yang mesti kita kurangi dengan kesialan

Merasa berhak

Tak juga di rerumputan di balik pagar bersarang unggas itu
Dan mengerami telur yang lagi akan pecah nanti oleh anaknya
Tawa kadang hanya di miliki oleh siapa saja yang bisa tertawa tidak untuk mereka yang kewalahan telah melawan nasib buruk
Selain hanya berkawan sepi banyak pahlawan mati dengan peluru sendiri
Atau juga bajingan yang naik ke panggung yang entah kini akan dikunjungi atau tidak lagi walau hanya pengulangan yang jarang dimiliki hanya agar supaya kita merasa sentosa

Impian

Demikian benar rasanya untuk menunda menang sehabis menempuh banyak yang kita akui sebagai yang telah terpisah atau memisahkan tidak menjadi bagian yang selalu resah mencari-cari alasan untuk dapat bebas atau membukakan pintu bagi yang lainnya agar masuk menghadap kemanapun terserah tak punya batasan

Etos

Melewatkan malam yang akan sama saja sebagai kebaikan yang akan dituai atau pula bersama dengan kesementaraan yang terus kita tunda dan jika tak lagi temukan kemudahan kita malah memilih untuk mengabur bersama bayangan agar besok dapat kembali muncul dan tak sekedar mempertanyakan

Manis

Namun yang terlewatkan bukan pula janji kepada yang sudah kita masih kuat untuk sekedar berjalan kembali

Namun memang hanya sedikit keberuntungan yang telak dan tak berhingga hingga kita nanti ikut membungkam kematian dan segala yang dibawanya
Kesedihan, kehilangan, keputusasaan, kesialan, dan kesia-siaan

Bagi diri yang tak mau jauh jatuhnya membebani hingga kita pantas untuk disebut dan lagi ikut mengambil segala tentang yang di cita-citakan

Nubuat

Kemanapun ia cari arti dari resah ini sebelum tiba kereta ia pusingkan tentang pujaan yang temukan jalan kecuali dibenamkannya keinginan untuk lebih berhati-hati dan berhenti dari segala yang ia tentang kini

Sebelum jelas dan sampai kepada lintang yang mengatur dan gerak yang tak menimbulkan suara lain dari bunyi hanya getarnya yang perlahan menyesap dan kaupun kembalikan hingga batas kini tak lagi kita timbang

Disisian jembatan lain dari dan yang kurang ia dapat pahami selain kehendak itu tak pernah untuk membunuh dan menumbuhkan kemenangan demi kemenangan yang ia ukirkan
Hari baru telah lebih jadi martir bagi lelaki

Menumbuhkan bunga di dada

Mrnyirami ladang dan mengirim pulang pikiran tentang kemarin maupun besok

Kita kemudikan yang patah dan telah kita arahkan kepada yang lebih hijau dari taman ini hanya saja sedikit limau atau goresan sabar

Diraihnya sesuatu itu namun masih ditemukannya kunci kearah semua yang kita kira telah binasa

Seumpama dengan keringanan melewati kepungan dan pulang sebagai hamba menggulingkan ketidak becusan diri lebih dari sekali ini

Lalu agar meriah pestanya kuikutkan sekalian dengan yang hanya terbersit namun tak kurang jua

Kamis, 27 Juni 2019

Membiasakan

Ranting patah dan kebanyakan hanya menirukan suara patah daunnya memanggil sementara itu adakah kesediaan bagi kita untuk menyudahi semua ini yang kita sangka dan lekas datangnya kemanakah segala keriangan yang tak kita punya namun hanya segelas irama yang tertuang dan kita teguk habis hingga lepas segala keraguan

Sehabis itu langit yang masih halus rupanya tak kita sebut dalam pertemuan namun terhempas begitu saja dan adakalanya kita kemudian pasrahkan saja

Ketika kita masih menyimpan dan tak lagi kita miliki waktu untuk berbagi umpama bunga kertas dan yang hilang bakal tetap kita nantikan

Padahal

Sampai hingga kita nanti sebutkan satu persatu dan tak hingga betapa lekasnya siang menjemput pagi yang telah penuh oleh keringat para kuli atau siasatnya untuk lepas dari pertikaian kala itu dengan kamu

Dawai

Dibulan kudirikan kemah dari ikat sajak yang kudapat pemberian paman

Padahal ada jarak yang terlipat oleh ringkasnya pertemuan yang kadang dihindari

Disini kita semakin merentangkan meski terlalu sempit dan hanya permisalan

Namun hari yang kadang payah untuk di penuhi malah intrik semakin rumit atau siang terlalu mudah untuk dilalui dalam mimpi puan kecil

Santai

Dalam sekian detik debu itu hanyut dalam hampa udara yang ia punya selain beku ada ringkikan dan ingin hendak lepas di padang-padang atau segala ia tempuh agar semakin menemukan dan diulang kemudian hanya bakal mengembalikan kemarin pada hari ini

Alinea

Mendiami suku kata antara alinea dan yang akan kita dapatkan yaitu keputusasaan untuk dapat memiliki dan bercerai dari yang memperdebatkan

Berjabat tangan

Memberi kemudian sedikit air di atas pasir angin masih membelai dari puncak bukit kemudian berjalan beriring menuju sungai menghitung laju setiap kita mungkin pernah atau akan menyebabkan duka ini

Setelahnya mana saja letak kesediaan saat kita akan menuai dan menikmati sebuah permainan yang tak kita kuasai namun kemana lagi muara segala sunyi setiap yang menyala serupa api

Dan memang hanya akan menuding lalu menjabat serupa inginku mendapatkan setiap kebaikan kau adalah katya setiap orang berhak merasa dekat

Kepada pablo neruda

Semasa kemarau tak henti awan jauh perginya dan kita hanya punya kolam tanpa ikan hanya bayangan berhati-hati lebih baik

Lalu kemudian setiap kita bergerak menuju yang tidak pernah kita hargai hanya kemudi angin menghalau kegersangan lantas segala gerak hanya menggantikan ketiada sanggupan untuk memanggil awan pulang ke padang

Lalu kemudiankah setiap pengecualian kita buat hanya agar nampak menjanjikan yang makin hilang kesini tanpa perhitungan

Seperti bisu dan lagu yang terus berulang melepaskan dahaga dari api dan dasarnya hanya kemilau panas membumi

Lalu diraihnya setiap kerelaan yang tiada terbendung sebab pacarku dalam latihan hanya meninggalkan sedikit harapan

Sabda

Kalian ketahui kemudian dan serahkan semua urusan kepada yang bertindak selain aku

Senja

Arai dan kau ikal berjalan di padang ilalang ketika malam berubah jadi medan di pasar jimbron bersembunyi dari geliat yang surut memandang kedahinya sendiri bagaimana kelak akan terbiasa merasai dan menenggak setiap anggur yang dirawat didadanya

Empati

Hanya dalam kilasan ophelia kau sanggup kutatap ketika itu dan yang terbayang bukan lagi senandung yang dilantunkan ketika gelas penuh kita berkaca-kaca menatap padahal tidak satupun yang hadir lalu abai dengan cibiran kulalui memang dan dalam lirikannya menyembur kesumat itu

Rabu, 26 Juni 2019

Air mata perawan

Setiap ada yang lain berbunyi dan rekah mencari mula dari gemertak dari atas meja kayu yang dipoles dengan bahagia oleh tukang

Di pagar kemudi patah oleh gelisah atau air mata gadis
Mengira bakal datang bantuan di tebing curang menganga pengingat seolah lukisan yang di gantung agar mirip dengan perjudian

Semakin kokoh berdirinya dan yang hilang dari sorot matamu kutemukan mematung dalam diriku

Selesai

Semenjak patah dan lagi tak terhingga jatuhnya ke tanah
Berdebu dan tak lama akan mengaisi ruang dan serpihan ingatan itu atau tawa yang tertahan
Ku ulurkan tangan membantumu berdiri kawan

Gentar

Melalui tengah pematang diantara sawah dan kita kian dekat kepada mentari yang menyambut marilah benamkan wajah pada cahayanya lalu ikut memanen padi yang menguning di tanah yang masih basah

Hilang arti

Semenjak kata kita akui yang keluar darimu adalah perihal sebuah rumit yang kini kudaki sepertinya jauh dan yang diam itu bertumpu di akalmu kau yang dahulu meminta waktu dan yang hilang dari kesanggupan dan kentara dalam kesementaraan hanyalah gerak yang kita akui tertelan oleh pasir waktu bersama jejakmu

Selasa, 25 Juni 2019

Berujar

Sampai batas dan yang akan ada hanyalah kisah mesti yang jauh pun kita jarangkan oleh jarak tak ada rasa sakit saat gagal saat kalah
Sampai semua beradu didalam sebuah kilatan tentang arti dalam misteri dan hanya akan menyalahkan serupa tragedi tak ada yang akan kembali kemudian kita membuatnya yang lebih rumit dari skenario tuhan

Apapun mesti kita sudahi walau untuk itu kita disarankan bertahan dalam sekian warna yang luruh atau buah yang belum sampai matang hingga kita kemudian merasa sentosa sampai habis semua senja dan hujan kentara adanya

Adilkah jika tuan beradu tanya sementara waktuku belum terkait dengan sebab dan sangka saja yang purba dan yang mati karena tersiakan mungkin hanya sedang sial atau kita membikin seperti dineraka karena kita rindu pada yang pasti pada yang tidak kita miliki

Terapi

Kemudian kita mengalah pada waktu dan yang merantai selain itu kita pasrahkan kepada suara yang terus tumbuh kita lalu kalah kepada kanak yang masih sanggup berteriak kita lalu berjalan menunduk membiasakan pada hujan yang tak jarang turun walau masih akur dengan reruntuhan meski yang ada hanya sedikit kesulitan

Tak jemu

Menemukan sisa yang sia-sia seumpama dengan gairah masa muda oleh pelaut dan berlayar adalah kemudi dan pancang yang sejajar itu ingin mengulangi pelayaran menuju samudra tenang tanpa warisan yang menjaga antara kemudahan untuk mencapai keserasian dengan rasi bintang selatan diantara kata lain mengincar cela yang tak ada bentuk selainnya kita mudah untuk menekur dan hanya akan menggoda lagi berbuat yang kita ingini semoga dengan begitu warna langit dari sini lebih nampakkan anggunnya yang walau hanya akan teraih oleh cita dan rahasia

Tarik

Suatu menjelma tarian cahaya yang timbul dan muncul adalah tuts piano yang ditekan pilu namanya

Kemudian sesaat kita hanya mampu untuk berkabar ke arah angin kemana saja kepergian dan semua akan berpulang kepada batu dan air, tanah dan kayu

Lalu semoga saja dengan ringkih yang mengabur sebatang lagi pohon tumbang
Membalut dan menerjang luka adalah serumit kegundahan kita dengan wanita yang dipermainkan dirinya

Maka sembilu pahit pada arang yang mengundang darah dan amarah dimana letak kerisauan dan tabir yang belum lagi pernah terbayar oleh gegap gempita duka dan kesedihan
Disana ia telah mampu dan sanggup menggapai kesediaan untuk memahami kesaksian

Sia-siakan

Kemudian tangkai itu gugurkan daun kelopak bunga yang mekar dan melambai ke arah semakin ia mengintai untuk tidak menyambar cahaya

Lalu kemudian akarnya menonjol dari tanah yang gersang menyeruak semut dan serangga yang tadi akan berpindah ke lain medan

Sampai jika hanya bulan dan malam sungai dan bebatuan atau serigala dan lolongan semua kembali kepada nyawa yang tak terhindarkan adalah secukupnya indera dan pengalaman mengalahkan ketidaktahuan batas dari diri dan kerja yang tiada pedulikan

Kosmos dan rintangan hadir galaksi lagi tak mengikat kau dan bumi tak punya daya aku dan kau bertemu kemudian di ruang hampa semuanya kemudian hanya memantul dan mengalirkan sedikit semangat kita punya adalah waktu itu kau tak hadir dan hilang dari peredarannya kita adalah planet tak bernama

Suram

Sebelum mandi dan terjun kesungai ia kami ikatkan kepada batang jembatan dengan rahasia kecil sebelum benar dan menganggap apapun kini sebagai kejelian dari mata yang memandang kepada sunyi

Hanya saja kiat yang direbut sebelum sunah dijalani menghambat lajunya dan waktu tiada membebani kini selain itu kita hanya akan berkelit serupa jelaga di tepi aku terduduk menghadap ke jendela menatap dengan ragu-ragu

Mata sembab bola kasih piara dan senyawa embun turun melalui celahnya jika kita hanya tengadah tak berusaha mendekap lain dari pada binar kasih

Santai

Selamanya ia akan hanya berlutut menghadap ke arah matahari yang jatuh lagi pula ia sebabkan kebaikan diantaranya maka apapun dikira tak sedang berjalan sesuai rencana

Pasrah

Kembali mengisi jalan yang bahunya menggapai kata kita hanya saja perhatianku terjerat oleh kanak yang mengusung dirinya melalui setiap simpang dan hanya jadi peluru dari selongsong yang diketemukannya dalam buku itu

Senin, 24 Juni 2019

Peta

Bertanya kepada perdu dalam semak adakah lagi kau sembunyikan hangat jauh didalam dan kenapa memang dengan percikan yang sampai dan ada apa saja ketika perjumpaan selesai

Liburan

Darah mudaku yang tak henti mengalir pergi menjelajahi dan akhirnya menetes dari pangkal nadi menuju deru suara yang memecah sunyi kala itu

Sekian pekat dan jelaganya di surau itu menanti aini yang telah terbangkan khayal tapi tak sampai apabila setiap kita menamatkan cerita masing maka tak perlulah tangis itu ada

Minggu, 23 Juni 2019

Ucapan syukur

Merekahlah kelopak mawar itu di awal tahun tak lagi kencang angin bertiup diranting dan berguguranlah pangkal pucuk cemara dibaliknya bersarang seorang duka lara menimpanya seperti telah lama

Kata

Setiap saat menjelma tenunanku di kala keberhasilannya meraih segala kehendak yang tak dapat saja kita miliki dengan begitu aku dan kau dapat merasa lebih nyaman

Bersantai dalam ruangan ini pun membuat kita jadi tak lebih dari siapa kita yang mengantar kepada risaunya atau semoga dengan begitu kau tak lebih cepat untuk mendapatkan ku
Maut kataku

Kekal

Sesaat kemudian kau pamit dan berseloroh tak ada lagi tempat dimana masa dan kini berjarak atau dengannya ku dapati waktu lebih dapat untuk bisa direngkuh tetapi apa bedanya dengan kerancuan yang meledak sebelum kepala dibutuhkan kita hanya menjaga rima tetap bergulir lain daripada itu kita bisa lebih baik dari sebelumnya ucapkanlah rasa syukur itu yang kini ternyata milik kesusahan kita

Sensitif

Demi apa saja dan max tak kuasa menahan amarahnya setelah pak tua itu kembali dengan dahaga yang lepas dan kau tine tak semestinya berada disini bukan kita sempatkan untuk berjalan beranjak dari tempat ini kemudian diam

Jawab

Croeso aku pernah mendengar nama itu diteriakkan dari pelabuhan jauh kerna suatu tertinggal

Sekoci

Kembali itu sebuah perjudian dengan waktu dengan keyakinan untuk tak akan mengulang dengan kesediaan melewati segalanya dan kita pun memilih untuk pulih sendirinya yakin dengan harapan tak ada lagi yang mengekalkan selain perpisahan kemanakah kita menunjuk disana temukan kesempatan untuk dapat merasa melakukan sesuatu yang berhasil dan berdaya

Terang

Menghembuskan asap rokok kepada atap rumah dan lupa bahwa tak ada yang terpenting kita miliki lebih baik menggumpal serupa awan tak berguna dan sia-sia

Alasan

Kuhafal sendiri gerakan yang dibawakan didepan layar televisi namun memang tak ada bedanya jika kita menyamun dan menggentarkan samudra senantiasa meniru badai yang jarang berhenti tepat di depan rumah kita sebagai ganti kecerobohan kita dahulu

Ragu

Dimana angin dan sejuk berpantang untuk mengais dan mengobati lukanya sendiri kau lah yang sebabkan aku tak pandai bangun dari kasur ku sendiri menatap ke awang-awang yang ada hanya keraguan

Siulan

Ditepian kau jenuh dan melambai pada sang sutradara orang lain anggap kau merantai diri pada adegan padahal tak ada yang menyentuhmu selain kehadirannya pada malam itu dan kau tiba mengungguli yang lain dari padamu setelah itu baru aku berhak melipir bersamamu kemudian kemana kita berencana

Sekat

Tuan hank kemana saja kau tak menemui siapapun ini tak dapat kucerna sendiri masih sehingga rasaku untuk menyudahi malam itu dalam lingkaran kecil di pupil ini

Kalau kita bertanya tentang arah apakah masih terdengar rayuan itu di kiri dan kanan jalan namun kau pun datang hadir sebagai henry chinaski yang tak karuan membelai wanitanya hingga lupa hutang masih pada pekerjaan namun bagaimana kelak pendarnya tak lagi datang tetapi sirna

Perjamuan

Kemana kau pergi hamlet menuju kesana bukan mereka menanti di istana yang akan menjadi serupa kuburan

Tak usah disini kau letakkan tubuhmu kau tahu ia yang kau takuti tak pernah merusak melebihi dendammu dan kematian tak datang hingga kau berani menghadapi kesakitan itulah yang kau berikan pada musuhmu

Kembali

Dan lukamu faust yang kau takuti dan juga apa yang kau kejar tidak pada tempatnya kau dapati mestikah aku akan hadir sementara tak kau baluti duka itu

Daku

Tak pandai dengan keributan mungkin kau mau diajak berbicara yang baik meski sekarang ini matamu tak saja silau memang hanya dengan begitu kita mampu diamkan dan lewati segalanya mungkin hanya dengan begini lah siasatnya dapat dilanjutkan lagipula malam tak benar-benar dapat singkirkan kepenatan maka lebih baik untuk melewatkannya dan mengaduk cerita ini serupa kekosongan yang dapat kita isi
Berulangkali aku tak akan dapat mengira bagaimana bentuk cekung raut wajahmu dan yang aku dapati setelah ini kita tak banyak berpikir tentang kesudahan

Sementara aku

Saban hari aku lewat depan rumah mu tapi ada apa dengan serambi yang tak lagi menghadap kedepan sekarang lalu diantara pintu masuk tadi aku tidak mendapati kendaraan kau terletak sampai aku ingat dengan suatu petang yang lalu makanya aku akan lebih memilih pergi atau menjauhi kalian dahulu sebab sedari dini telah ada peringatan dari dalam dri kita masing-masing tak baik untuk teruskan kebohongan aku mencintai kalian

Masa-masa

Dahsyatnya yang ketemu di balik kelambu adalah bayangan kau untuk dapat diraih walau pendar cahaya dan binar mata yang kebal oleh rasa sakit kemudian luruh pula oleh suara jahiliah kemana akan kutemui lagi saat darah menaiki dan kita memulai berperang

Kelabu

Suatu saat hank chinaski dan teguran tak lagi akan terbentuk sebab aku telah lewati menjadi pria atau tidak semua sama dimata setiap wanita

Sama saja seperti perjumpaan kita ini kawan katamu kau telah jauh memulai yang tak sempat kau pikirkan memang tak hanya akan menunda mungkin aku juga akan menginggalkanmu

Hai dengarlah siapa yang berbisik disini selain kita apakah ada yang lain kurasa itu pikiranmu sendiri hank kau sudah terlalu berat kawan mari sini anggur itu aku juga inginkan rebahlah dulu besok kita langsung berangkat bukan

Suatu pantai

Dari sukab tak ada yang tak ia sampaikan pada kau alina yang hanya ia kasihi dan lain lagi tak ada

Anggapanku kau tak saja bergeming ketika sukab sampaikan ia menunggumu di pantai senja ini maaf saja aku sedang tak mau jadi kambing congek jadi kusarankan kalian tak mengharapkan cerita lain dari ku ya memang ada gadis yang dahulu menaruh hatinya pada ku aku hanya tak sedang ingin bercerita

Kabarkan padanya nanti kau sedang makan apa saat ini makanya bilang ia yang tak lagi kau pedulikan sungguh cinta memang ada juga batasnya sebelum ada yang lebih tabah dari hujan di bulan juni kau kuikutkan dengan sukab nyemplung ke laut bekerja sebagai pekerja sudah itu tak usah kembali kecuali kau temukan jawaban pertanyaanmu dalam lautan itu terserah kau nanti akan memilih tetap bersama kami

Sukab adalah pilihan terbaik bagimu sebab tak ada lagi ia kutemukan berjalan di malam buta dan merindukan petang
Selamat malam aku sedang tak ingin mendengar kalian menertawakan sesuatu yang itu memang bagus untuk kalian tetapi tidak untukku

Kembali tidur

Bersama angin kudengar kau tak lagi mengunjungi kota itu
Sukab kota yang dibangun  oleh lelap dan darah bagaimana ini dengan nyanyian dan kelenteng tempat kau bisa meninggalkan aku sebab kau tampak tak mengerti lagi dengan keseharian kita

Memang sukab lebih baik menjauhi daripada ikut menanggung apa yang hanya sesekali kita dengar dan begitulah hidup tak lebih baik dari yang kita jalani

Yasudah aku sedang tak mau mendengar kau bernyanyi lagi pula suaraku sudah habis sukab kau boleh mengambil kopi di warung depan nanti aku yang bayar

Hanya memang aku sedang tak bersemangat jika hanya menjadi batu yang keras dan tenggelam itu sukab aku kau tahu tak lagi berhak berada di sekitar pantai
Yang mungkin hanya akan dikencingi oleh camar dan ataukah kau begitu sangat ingin melihatku pulang nanti dengan kotoran

Sukab aku lebih baik melanjutkan tidur siangku

Rokok untuk meaursault.

Si arab itu bahkan tak mengingat dengan siapa ia berurusan meaursault.
Lalu kenapa kau ikut terpancing menembak kepalanya
Hanya saja kau tak dapat lari dari tuduhan ini dan kami telah maafkan segala kesalahanmu pergilah dengan hati yang lapang dan jiwa telah bebas.
Hingga di suatu tempat kau benar-benar tidak bersalah kawanku.

Panggilan

Aku tak mengelak dari mu tuan chinaski perihal kita bertemu di bawah atap suatu perkumpulan bukan itu yang kau harapkan dariku bukan tetapi yang aku punya adalah yang terburuk diantara guyonan kawan-kawan

Atau memang tuan hank chinaski tak lagi sanggup dengan dirinya sendiri bahkan atau wanita itu sudah menemukan alamat tempatmu sekarang kau ingin lolos dari itu semua tetapi kenapa baru sekarang kau katakan kaulah yang tak lepas dari prasangkaku kau yang memulai itu semua hendak lari dan jelas bukan urusanku

Sebelum tua

Faust lelaki tampan itu yang pertama kenalkan aku kepada suram yang kini kutempel di dinding dan depan pintu masuk kamarku

Suatu saat menjelang siang tengah hari tepat ia menyunggingkan senyum dan ada nana di sini yang kita kira sajalah dahulu tak mengapa merdu memang ketika aku sebut nama itu

Dan kau temani aku dahulu ditelaga yang telah puas kita arungi dan dengan itu aku berani membilang saat terpenting untuk tumbuh dan digarami

Jikalau saat nanti tak kau temui aku dirumah nantikan lah diberanda dan temani ayahku membicarakan kita

Santap

Menakar segala kearah rimbunnya
Sajak tergantung di tengah lapang sebelum sore datang ia merapat ketepi

Suatu semenjak fajar kabur tak datang tepat waktu artinya mendung lagi dengan berbaik sangka terhadap tanah kami yang tak sempatkan gulirnya sebuah upacara yang jauh dan entah yang keberapa kali dan kalau juga kami masih punya itu yang kau inginkan maka tak perlulah kami di pagari biar tak pergi

Apa saja datangnya tak tepat waktu selain rindu kepada batas kepada jiwa yang utuh menangkap gelisah dalam beberapa peraturan

Sabtu, 22 Juni 2019

Kecuali

Dugaanku saja memang sebelumnya kita khawatirkan untuk melepas segala sesuatu tidak baik dengan hanya sekedar percobaan dan yang ada adalah perbincangan hangat di suatu sore yang kita nanti-nantikan

Batas pendakian

Sampai pula adalah kedipan mata kau matang kita memilih kemudian untuk bercerai
Sampai juga sewaktu ada yang pertautkan dan hanya lingkaran tadi yang tidak kita perhitungkan maka aku lebih memilih untuk sabar dalam perhentian
Tidak dengan keberlanjutan kita lalu menamakannya keberpihakan

Menamakan dengan sebuah penebusan setelah ini masih adakah yang patut kita pelihara daripada ikut pula untuk mengabur dan kita kemudian menyangkal kehilangan demi kehilangan

Setelah reda pula yang tak kita akui dari diri kita sendiri suatu saat menjadi mata dari pisau oleh-olehkan sebuah luka

Firasat

Sejak sekarang kita diizinkan memilih kata lalu berpeganglah kepada pilihanmu

Adahalnya dengan kebaikan
Tersimpan dalam kendi
Yang telah kosong kini
Maka kita mematutkan diri dihadapan cermin dan kita terbiasa untuk menyabarkan diri

Dalam masa yang sudah kita lewati tersimpan sebagai kenangan yang usang dan kadang membias

Apakah lagi tak sedang berjalan sesuai rencana waktu yang tergadai kita tebus lewat dan hanya begini kita menghadapinya

Tegak

Dihujani dengan sedikit pertanyaan tak boleh berlari sehabis ini karena kita naga yang lampaui senja dan hujan

Pengulangan

Dibalik lampu layar terpasang sebuah kalimat kau kepada ku yang hanya dapat kita temukan tak kita pilih sebelumnya dari sini terbaca tak usah jika hanya akan mengganggumu

Terlatih

Dalam laci tersimpan rapi dan kita menyampul indah kado yang akan kuberikan kepada diri yaitu masa senggang yang boleh diisi sampai lunas rindu kepada pasangan

Setelah

Dan yang kita bicarakan memang tentang cinta dalam sekolah di gedung-gedung dan bayangkan dalam ruangan yang sepi

Jumat, 21 Juni 2019

Teramat

Sebelum sempat merangkai kata ia terdiam oleh amukkan yang datang dan mengarah kepadanya telah ia coba untuk  menundukkan kepala tak menganggap dan adakah nanti pikirannya meleset ia coba cerna setiap kata-katanya hanya saja lebih baik mungkin dengan bersikap seolah semuanya tak pernah sempurna di matanya

Anak kecil tadi menangis di pangkuan ayahnya ia hanya tak temukan kata yang tepat ia marah kepada dirinya dan atau ia akan lebih menggunakan air matanya untuk membuka jalan bagi suara menemui kata-kata
Tak pernah ia merasa lebih bosan untuk menjelaskan kepada kami apa yang mengganggu dirinya yang jelita didalam keanggunan dan kami akan betah untuk memanjakannya

Kamis, 20 Juni 2019

Tunduk

Percuma jika hanya dengan lirikan tapi kau tak sampaikan atau lain dengan biru yang kini menggantung jauh kau punya rumah untuk dimiliki dan dijaga di dalam khayalmu hanya saja kau berhak untuk melawan dan diam adalah senjata bagi kita melawan dan merasuk malam

Pagi ini tak banyak yang dapat kau gantikan selain pikiran yang sekarang membatu kau tahu kau tak pernah berhak untuk ini untuk berada di dalam hukuman yang lebih baik bagi jiwa yang tak kau miliki sungguh kita hanya diminta tak untuk menggembala sendiri di padang yang dihuni hanya oleh ternak tak ada manusia lain selain kau kau pertanyakan kepada ku kemana arah angin

Kemudian kita jawab pertanyaan lain yang jarang dan tak akan muncul kita merasa lebih sanggup untuk hanya sekedar berbasa basi dan tak mengharapkan yang lebih dari yang bisa kita sentuh

Dimana pun ia akan terus mengaku sebagai kawan dan kau tak akan pernah menanggapinya selain hanya akan menunda untuk pergi bersamanya ia adalah yang mengajarkan kau untuk tunduk kepada zat

Tanda mata

Dan aku akan mengejar layangan yang terputus menuju sawah sebagai bocah yang kemarin terjatuh dari batang pohon rambutan

Tak mengadu kepada siapapun dihidup yang sekian kita coba menjauh dari apa saja dan hanya dengannya kita pilihkan beberapa momen yang mesti dapat dan tak akan lolos

Memang merahnya berapi membakar sisa dan kau pun cukup untuk merasa bebas berpikir bahwa hanya kau satu-satu nya yang akan tergelak jika nanti kau temukan jalan pulang kepada rumah yang kita sebut begitu

Ada benarnya memang dengan saksi yang kita terima atau kau tak jua mengharap kepadanya apa saja akan terasa lebih baik jika ada yang menemukan ketentraman disana diantara jagat kata milik mu

Dan kau sekali saja menghadap kearah laut mengharapkan angin nya membelai mu serupa binar mu dahulu yang tetap percaya dengan keriuhan yang kini kau pendam kau tak pernah merasa sungkan untuk meninggalkan dan aku

Hanya jika kita tak lagi miliki mainan yang akan dihabiskan dalam masa yang ringan atau memang kau akan mendapatkan pilihan dan pergilah kemana hatimu suka hingga nanti kau dapatkan kata yang tak sembarang muncul kau yang hanya jadikan ia mainan ia memilihmu kemudian

Tak pernah merasa lemah

Dan saat yang kau rakit dalam khayal tak pernah menuju selain jemu tengkurap adalah kucing hutan didalam sangkar peliharaan paman yang datang dan kau dekap ia minta jangan kau ganggu kerjanya yang selalu menanyakan kabar orang apakah mereka baik-baik saja

Disini kemudian kau pernah melewatkan perkelahian tak mau lagi kau lerai sebab olehmu mereka jadi tak mau melepaskan kepalannya kau lalui
Dan untuk itu kau berada disini dalam waktu yang jarang kita miliki aku adalah bunyi langkah kaki yang kau hiraukan atau suara buku yang kau pindahkan kau jarang terlihat hingga kau tetap tampak baik-baik saja
Bagaimana dengan bolu madu yang kau simpan dahulu untuk dirimu sendiri tapi lalu kemudian kau lupa bahkan untuk memakannya dan juga kau tak lagi dipermasalahkan oleh sebab kau jarang untuk mendapatkan pengecualian
Kau pulang untuk itu

Dilema

Dan jarak yang terbentang cukup lama hati ini berkeluh kesah kepada angin sahabatnya yang ia kenali di pasar malam atau di sudut sekolah lama sewaktu kecil dulu berjalan melingkar bersama kawan

Di taman pernah ter0dengar ada percakapan tentang upacara tentang betismu yang membiru lusa kau tak datang dan kelas sepi sebab kami kehilangan mu tak mau
Kini kau sebut sedang berada bersama kawan mu awan yang tinggi di langit tak pernah hendak menyapamu dan kami kau tinggalkan dalam penantian kau tak akan kembali katamu yang terakhir terukir keras kau cuma hanya ingin menyingkir agar tak permasalahkan kematianmu

Mencoba

Kami sebut sebagai gantinya akan tak ada yang hilangkan lagi
Pertama dengan harap yang di jaganya namun masihkah kita mengemban suatu yang sama sebelum datang panggilan itu
Dan hanya jika dalam perapian yang terjerang ada yang tak terhangatkan
Malah hanya menyudahi segala urusan tak terpaut oleh waktu

Setelah tuntas segala yang tak punya arti lagi dalam hidup kita masih sembunyikan gerak itu

Dan hanya jika terlambat untuk pilihkan dan kita telah panjatkan tak jauh perginya usaha kita

Derita

Pertautkan di kering kini telah bergulir masanya
Sampai kemana arah angin
Tak disangka saja

Dan juga saat gelap itu
Remang mengaku
Tak untuk di sambut ia menjauh

Maka hanya sedikit yang sisakan
Selainnya adalah
Ibu yang terpaku
Selambat suara adzan pak tua itu mengayuh sepedanya menjauh dari kerumunan

Tiba-tiba angin datang dan kita sambut
Agar tak ada yang merasakan kosong
Hanya tetap kita lupa untuk beramah-tamah yang punya rumah lebih sering dianggap
Agar tak banyak yang senasib atau merasa sama
Kami kemudian pecahkan dan tak lagi menanggungnya derita

Kemana

Dalam jumpa kita tiada tersebut ataukah tercecer kata itu entah kemana jatuhnya

Semakin jauh dan naik tak mengubah pandangmu kepada hidup
Sekali saja kau bilang ada apa dengan hari kemarin ataukah esok yang belum ada aromanya

Sebab diantara kita mata memang jumlahkan hanya kaki dan tangan tak mampu sembunyikan kemana ia meraih

Jarak

Payah dengan tubuh ia memilih bangkit dan bunyi pertama ketika terdengar tak lagi yaitu muara segala sungai bertemu sebelum jatuh ke laut dalam apa rasa yang kau tahankan

Perihal jatuh dan kembali mengatai aku tak lebih mampu dari siapa aku sebelum ini tapi tak ada salahnya mengulang dan jumpai

Malang benar berada di antara kata yang belum terucap dan rindu yang tak sempat di sampaikan

Sementara

Melawan arus dan tenang
Ataukah itu setangkai bunga yang dipetik di kebun sekarang kosong hanya ada lebah yang turun mengintai madu

Ataukah masih ia mengurung dengungnya
Sebelumnnya memang
Tak kabarkan kepada angin mana yang mungkin akan sampai jika kita tiada berkawan hujan
Pecahlah teriak itu seperti sebutir telur yang kini terhidang di meja makan sebelum santap kau habiskan

Selamat dan kemana pergi ku tautkan
Jalan adalah takdir yang ditempuh dengan semoga
Dititian kawanku dan aku
Menarik batas setelah terlukis garis diantaranya
Kita akan biasa untuk mulai dengan yang kita tak sempatkan

Labirin

Kembali kesini
Suruh ia berhenti mengelabui
Dalamnya tak disangka saja
Di jembatan lama tak dapat kita
Mengejar surya

Sampai lupa dengan siapa ia kini
Pilu kah yang terganti
Mawar tak berani lagi naikkan kelopaknya
Hingga yang tertawan oleh pesonanya
Hanyalah impian yang jadi ruang bagi mimpi lain

Aku hanyalah tepian di antara dalamnya
Danau-danau purba
Dan rasamu tak kau beri jaminan
Kuyup dalam labirin dan teriak benar sudah tak berarti lagi
Padam kan hingga usang kemana kau kini

Psiko

Pada apa saja ia mengambang
Menarik keseluruh aku
Padahal tak pernah dititipkan
Pada kami yang lebih dan tak kurangi
Pulau itu dalam jangkaumu

Dan sisian menepis gulma sampai gertaknya ributkan suara angin
Menjawab tanya atau kini berpaling kepadamu yang hanya bisa
Sebelum malam ini
Sebegitu rajin mengulang takdir
Tak pernah mendua kepada selir
Perginya sebelum runtuh langit dalam doa yang dipanjangkan
Di lorong biara ia lewati bayang-bayang
Mengejar tak perlu untuk berhenti
Kemana saja kau ku kawani

Rabu, 19 Juni 2019

Xy

Sekarang persis jadinya kita seperti dilupakan zaman

Melangkah

Sehingga kita pun alamatkan kepada hingga tak berbentuk lagi kesunyian itu sembari ia kibaskan apa yang kini hanya jadi hiasan kami menarik petik diantara kata dan teranglah lagi pelita yang sebabkan kesengajaan namun sebelum benar ia merasuk dan kedalam bumi menanyai hari nanti

Kau kah yang tak pernah sampai kesini walau untuk itu kita dipilih dan hanya sekali saja rasa itu membeku dan luluh hingga kita lupa bertanya tak ada memang pertanyaan itu selain langkah yang kau hentikan sebelum benar merantai bumi

Tak ada

Dalam kurun yang sampai bagaimana mestinya untuk ikut merasa beruntung
Dan juga apa saja lagi tak berguna dimasa ketika ada yang tak sempat terbawa padahal dukanya tercium hingga kesini
Bila saja ketakutannya itu muncul dalam dan lagi tak jelas kemana lamunan ia tujukan sebab petikan dan sembilu yang dahulu barah tak kuasa ditahannya ia rubuh telak di pangkal batang itu
Yang dahulu sempat ia torehkan nama kalian

Dimana saja akan banyak atau semakin tak ditemukannya detik yang semakin ia hafal jika mulai melangkah tinggalkan rumah yang kosong sebagai kekasih yang tiada memilih ia ributkan apa saja jadinya jika tak dapatkan jiwamu utuh

Selesai

Padahal telah ia arungi laut dan kembali sebagai yang menang hanya ketika tak mudah jika menghilang kembali seperti judi begitu hidup

Berbalik seperti kalah dan modal telah habis kembali kemana lurah ia tujukan tapi tak akan sepertinya ia menunda mencapai yang jauh dari jangkauan

Bagaimana hanya jika peluru itu ia sambut kemana pergi suara semua jelaga surut adalah iringan yang diikuti hingga sampai kesini kemana bisa ia kan singgah hanya saja tak pernah menagih terlalu lama

Manakala kesedihan tak berpantang lagi dan kalau saja ia ributkan yang hadir sambil berkata tak mau mengambil tempat manakala kami tak sedia jiwa seorang jadi gantinya

Parau

Musim ini akan utuh dalam misal yang bertopang pada gelombang yang datang menyisir

Padanya memang aku tak surut atau di dermaga tadi kau sebutkan tak ada yang begitu pernah lewati kita hanya saja dalam tariannya ia tak bolehkan untuk berada dekat bersama

Padahal tak sama dengan keliru yang terhapus berkat segala kusut kita temukan yang hanya akan kutarik semakin kesini bila kata tak tentu lagi atau kah kita sudahi saja melambai lama hingga lupakan tentang segala arah dimana kau tentukan kini

Sehingga kutarik selimut lagi jika senyumnya tak pernah hilang berkat nanar matanya

Lagi kita tutup dan banyak telah naungi tenda-tenda dalam perang terhitung nyawanya hilang

Sakit

Sebelum datang dan bergantian peneluh itu menggoyang yang tak ia punya dan sebutkan mantranya

Dimana saja api tak kurang panasnya dan tak bakal menyentuh seperti diri yang kita latih terus menerus serupa ladang yang sekarang terisi namun bagaimana dengan kemampuan

Iramanya mungkin akan tenggelam kalau kita pelan menyibakkan dan yang bakal nampak dan tetap berkilau pedang di mata seorang raja menganggap prajurit begitu mudah dan anggun

Kini hari kita tak punya kata lain selain sembunyi dari kilahnya semoga saja esok kita tak ketemu lagi atau bagaimanapun masih sempat untuk saling mengunjungi

Peragu itu titipkan sekian sabar dalam rusuk yang dihindarkan hanyalah sebutan yang ia pendam sekarang ia terkurung dan wajar menganggap apa saja tak kurang meriahnya

Apalagi kita mesti bisa menjaga dan satu yang kuatirkan tak pernah hujan membasuh dan sekalian saja kesakitan kemanapun dan dimanapun

Kuldesak

Ini kita miliki takdir walau hanya gubahan dari pesisir tak banyak hanya akan mengganggu tidurmu yang kemarin tak kau gubris perih milik siapa saja tak akan meminta ampun walau telah kembali perantau lain

Guyonan

Dan hutan yang penuh oleh suara malam yang dihuni tak pernah risaukan hadirnya sesekali bintang jatuh dan bergerak naik turun yang ada kisah dan pelukan

Kemarilah walau sebagai yang belum dikenali
Walau keringnya suara hati meringis untuk membantu dan kau sempatkan untuk mengabu dalam jelang jelaga itu

Kemana segala yang tak memiliki segala curiga pernah kita miliki atau dengan begitu gadaikan meski belum warnanya tuntas dan kau selidiki
Kita ulas dalam bahasa ibu apa yang bersarang dibenakmu mungkin hanya begitu kasih tak titipkan jalan lain menuju senantiasa

Perca

Sampai juga masanya ketika embun terperhatikan dan yang jauh jatuh hanya saja badan lagi tak lurus tegaknya semua akan sama atau kita saja tak dapat memilih
Atau memiliki sekian ribu arti yang terpancar dari aroma basah kita boleh saja bertindak dan tanpa banyak lagi suara-suara yang menghimbau kita lalu kosong
Warna kearah mu lah

Bayangan

Diamnya yang tak perlu cemburui adalah sedikit risau yang tak pasti kita dituntuk untuk itu dan sebabnyalah walau sekarang nampak peluru berbunyi satu patah lain terganti

Fisik

Dan yang hilang dari tatapanmu adalah kita tak pernah beralih kelain lobang dari percakapan

Oleh peluru ia letih dan masih habiskan banyak sisa tak ada yang melonjak hari ini lagi kita sampai terperangah dalam hadir yang kita cekal sebab selalu saja mirip dengan upaya kebanyakan

Tak untuk dibilang hanya akan dibicarakan
Dalam ini kita dahului ia yang pandai menyimpan dan lalu bersuara jika tak terdengar

Tak janji

Sebutkan kidung itu tak lagi terpengaruh diam kami menjadikannya asing dalam penantian dan sabar adalah kunci tak ketemu jika diperlukan

Katanya adalah biji padi sebelum menguning dan utuh janjikan maksud baik dibalik rekaanmu
Kembalilah walau hati masih letih kepada tempat kau mengadu

Diantara resah kami menanti pula dan dengan siasat walau ketika itu malam tak tentukan perihal dengan tatap yang tak jemu halau dan hembuskan sebelumnya kasih kita bertemu diantara rumah dan tembok menanti teguran lama yang masih kau miliki walau tak ada yang tahu pasti kemana jalan ini berhenti
Undanglah kami nanti

Selasa, 18 Juni 2019

Kusut

Biarpun bicaranya tak terdengar lagi tapi siapa yang punya tegak dibalik pohon sedang perkara lain lagi yang darimananya tak pernah hadir sebagai kita mumpung hari belum patut kita kuasai serahkan saja kembali pada yang mengatur diantara belantara
Yang menagih hanya betul letak yang tak pernah terasa sebelumnya perang itu usai setelah tahu tak akan ada banyak tempat yang patut dihuni hanya saja perhentiannya yang kusut dan memar walaupun memang warna tak pernah luput dari sasarannya

Suara

Dimana saja angin dan bertingkah
Sekali lancung dan kita tak susah
Bagaimana untuk mengulangnya sampai segala indah merasa juga dengan segala mimpi mirip benang halus kutenun menjadi pakaian
Apasaja yang keruh kita hafal diluar kepala tak ada sebab rintik suara menyapu datangnya

Sampai begini segala arti telah rusak dan yang tunggal menjadi jamak
Segala sebab merindunya sebab kentara terasa sebagaimana kita punya hak

Hidup jauh namun terasa kian gersang dan pagi ini es jeruk terlewatkan begitu dengan kesegarannya pula memikat dengan warna putih

Pajangan

Kubiarkan ia merasuk mimpi itu
Namun masihkah akan ada segala yang menemu tidur panjang berkelung serupa dengan nestapa

Dan telah alamatnya sampai ujian yang konon tak ikut memakai tempat dari yang biasa hingga terjawab sudah

Diantara bantaran hanyutkan dan juga ada yang tenggelam ketika suaranya muasal itu menggapai tak hilang
Kau hanya tinggal bentuk yang remuk oleh kisah
Daripada mimpi kepadanya kita menanyakan apa aral

Sampai lagi di telaga itu tak pernah sebelum ini namun kah kemana lagi kaki kita pelihara langkahnya dan bunyi sebelum itu

Jangka yang berjarak hanya supaya dapat menindak dan kabur dalam helatan kemana gantinya kucari

Suatu saat mimpiku tak akan dikenang lagi dan sayup getar langkahnya dikenali namun sudah begitu dengan rayuan untuk kembali tak pernah begitu kusukai

Sanggup

Diam bukan bahasa yang kau gemakan hanya suara-suara dan pelan menetap menyanggupkan dawai nya yang kerontang dan melebur bersama kiasan lama tetapi tertahan adakah hari baik di masa depan

Di segara dan bunyi kita pula tak mesti untuk ribut dan menyanyi pelan yang hanya akan sampaikan peristiwa yang terulang lagi kental dalam naungan yang hangat kawan ku tak inginkan pergi meskipun jalan telah terang dan hari telah naik meninggi

Sepagi buta ada yang mabuk melintas sendiri dibopoh dan rumah yang janggal baginya ada apa dengan kesekian kelahiran kematian sebelum menjelma hujan langit-langit pada gulita atau cempaka

Merah saga bola matamu

Ucapkan

Kembalilah kemana arah sebelum datang kau tak kabarkan bagaimana setelah ini sebabnya kita membagi berat beban yang tiada terduga ataupun suara-suara awan itu yang beriringan dan menancap kepada langit malam yang menghampar
Di lamunanmu kau mainkan gita tentang ketika hari jatuh dan kita tak pikirkan serupa unggunan juga rimbun pepohonan kemarilah jika kau punya sesuatu untuk dibicarakan kemana saja hantu tak pernah bisa menyingkir dari kita yang baru kali ini merasa bersama menempuh jalan yang telah pernah menjadi angannya

Menangislah anakku

Entah dengan berapa kesaksian musti dirumuskan yang kelam dari piala siapa punya menerawang dan menerjang batas antara sukma selebihnya kita sama menang setelah lama

Atau tujumu juga yang kaku seumpama betis dan kilaunya tebing cuma menggantikan dan tak sempurna juga tegaknya wajar saja untuk sedikit lebih percaya pada para yang menunda

Suatu ketika hentakkan tak sebenar bisu ada hanya sedikit lagi dan walaupun dengan segera mereka minta jangan dulu turunkan hujan sebelum petir nanti mengganggu kanak kami yang tidur dalam bedongan pelukan kami

Mata yang kembali pandangkan dan arah itu tenggelam juga kita terkurung oleh cuaca kita bersama naik ke bawah dan tak terpaksa untuk melanjutkan yang telah tergelar bahkan tak mudah memang hanya memulai

Terakhir sebelum kami utarakan saja ya begitu adanya
Tak ada bahwa yang nantinya menyangkal dan lain lagi rusa nya yang cemerlang memantul dari padang ke padang begitu polah kita tiada menjumlah hanya menarik sampai tiba waktu untuk pulang

Melayu

Menyeka keringatnya mata tombak itu ia layangkan ke danau yang biru
Hanyakah nanti ia akan mampir
Dalam impian yang masih menunggu dan langkahnya
Betapa galuh dan dalam renjana kami kau mau hutangi nyawa sebelum jatuh tanggal dan kau tahu pasti nanti kemana ia akan menuju membasuh di antara liang dan tanah yang pernah sekali kau rindukan

Benar memang hanya dengan kelakar kita di besarkan antara leluhur dan rembulan itu kita tarik khayal menuju nirwana tempat bertahta dewa dan dewi yang kita duga

Seperti cintamu bukan
Dan kau tak mau berpaling tak pernah bergeming kau hanya takut untuk memulai yang tiada pernah kau mulai

Suatu saat nanti debur ombak ini yang nyatanya pisahkan kita juga pertautkan dan memberi arah untuk kita kemana saja
Yang selamanya tak akan terhapus
Tak akan pernah sampai pula dan noda berkah diranjang ketepi segala rimba mengaduk kau pahit dan pergi lagi bawa kesini tuak dan tuan gembala kerbau belum terjaga dari lamun nya

Risau

Menjelang kita temui
Bukan sorak di ujung
Sebelum taman berakhir sebuah lagu dari yang ingin kau kenal nanti dan hanya ia tak mungkin akan gunakan lagi ataukah misal saja dengan rupanya kita piara rasa kagum kepada yang memberi kau bukan dan hanya dengannya
Teriakkan saja lagi tak punya arti
Dari balik gua di hira

Sebutir nasi jatuh jadi lenyah kau melangkah
Kemudian sisipkan kepada
Dan malin kundang kemana kau arak awan dan langkah ketika tambatkan hatimu tak kau raih kembali petang
Semoga dengungnya hiraukan satu yang kita tuju yaitu pulang

Apa pernah mendengar risau di puncak bukit itu
Seperti golgota bukan
Kita hanya peziarah yang tak inginkan seorang lagi mati karena kita

Dan lakunya tinggalkan kuncup yang nanti menguning masak
Kau tak hiraukan sebab hanya pematang yang patah oleh pandang siti rubiah melantunkan dendang ketika pagi belum lagi menyentuh lembah dan hanya siulan bangau yang menumpang di petakan sawah

Sampai juga ia kepada hilir tempat yang berjuang gantungkan dan akan mengabaikan terus
Serupa dosa pertama itu saat kau tinggalkan kampung dan biarkan namamu tergantung

Biologi

Membunyikan awan kita sembunyi dibalik lirik yang lirih empedu pecah dan pahit menjauh kau sepi

Dan dunia kelabu digapai mengapa memang sempurna hanya punya ketam yang bersarang dipinggir sungai rasa hanya milik burung yang terbang bebas menukik di langit itu

Sampai kita yang tak tahu
Atau hanya akan membalik sebentar ia seka dalam pahit itu
Serupa amygdala

Dan cacian itu menjelma naga-naga kuno semburkan api dengan nafasnya dan lirikan tajam itu berubah cakar yang mencengkeram jasad seorang pejuang

Kemilau

Pernah ia menunda jatuh dan akan mesti waktupun kita kira sengaja ikut pertaruhkan
Lupa adalah bahasa kanak yang mintakan mainan pada bapak

Lain diri yang menjatuhkan harga dari kenangan yang tak di bingkai
Oleh makna

Sekali sudah aku penuhi dan gaya yang penuh oleh ilusi bayang-bayangmu

Sekali waktu itu ia tak kembali
Persis seperti luka
Dan ngilu barah hadirmu

Malin kundang

Di buritan dan yang diam tak ada
Selagi angin berbisik pelan
Ia hiraukan
Mana kearah dusta lebih lagi
Pelihara luka ini
Samakan dengan ratapan sebelum pagi
Subuh masih boleh
Sebelum berangkat

Kita kaisi makna diantara usaha kejepit
Diri menarik dan yang ada
Hidup baru dimulai setelah
Batu dilempar tak kembali
Atau suara yang beku lalu linu
Perihal apasaja kita tak sarankan
Selain pulang
Menuju sebuah rumah
Yang dekat dan terisi penuh dengan
Dan yang membalik
Atau

Tak lagi menjanjikan
Ia kutepuk pelan
Ibu tadi orang sayur mencari kau

Semalam kulewati lagi dan akan
Namun masih juga
Awan meninggalkan dan tak akan mau berpulang
Kuderetkan ia di kursi panjang
Tubuhnya yang tak sadar
Adalah rupa-rupa air yang mengalir di sela jemarinya itu
Atau mungkin kita mengarah kepantai
Di muara sepasang camar bertengkar
Kelahi tak merasuk ke tangkaimu
Yang hitam dan jelaga karib
Malin pulanglah malin

Sisi

Kutemui pertapa itu yang dalam tak punya mimbar
Apa saja kita torehkan
Dan kita balut
Seperti pagi lainnya
Ia pergi tak kukira kan kemana
Dan yang terbatuk padahal siang ini tak panjang hanya saja kita tak sempat berkilah
Menumpang kelakar
Ajal yang bertandang

Pos

Direngkuhnya takdir
Diusapnya selir bergiliran masuk
Dan pernah sekali ia rubuh dalam dugaanku

Frame 12

Dan yang hidup dari padamu
Yang menanti dan bakal nanti kesini
Menghirup udara pagi yang lembab
Menjejak tanah basah kerna udara
Yak kita cerna karena udara tiupkan sesuatu yang lebih serupa dengan kau dari sini

Duduk tak bergeser lagi
Dan khayal kemana kau jatuh
Dan usaha untuk
Ceburkan diri
Kembali lagi
Sudah terbiasa untuk

Semisal pasar yang tak diisi
Curiga yang terkelabui
Makin kesini kutarik kau menuju sesal
Diambang dermaga
Kita redakan
Kesumat

Walau untuk jatuh
Layak kebumi
Piara masih ku patutkan juga

Hanya saja suaranya tak pernah terdengar lagi

Psiko

Air mengalir sedang dan yang lembab
Warna biru tetapkan dilangit
Apa saja bergantian
Bersama menaiki
Dan kusebut ia kisah yang lama
Kita kira walau tak pernah ada yang samai
Tak usah diperbandingkan
Waktu itu belum lagi pernah
Dan hanya saja pekikan dan getir
Penuhi kamar ini kenapa kah
Warna hijau dalam pelangi
Tak kuhitung ia sebab hanya akan basah jika hujan
Tak ku gemari ia yang tak pernah

Senin, 17 Juni 2019

Kopi

Dipilahnya beberapa lembar uang yang mengisi dompet dan sesaat berpikir untuk menimbang yang dihabiskan nya untuk kopi selama ini
Keinginan untuk mendapat kopi yang lebih enak dari yang pernah ia coba demi apapun juga ia benar benar telah tergila gila pada kopi dan pada akhirnya ia jadi memberi toleransi pada dirinya yang menyukai harum kopi ia pun rela bila nantinya menghabiskan lebih banyak uang demi kopi

Magis

Kemudian ia mulai beranjak saat aku akan ikut duduk di kursinya
Sendiri tapi masihkan kau beri seperti peluang pada dirimu sendiri
Kau kemudian hilang suara dan menengok kepada ku nanti saja begitu kata kau
Perlahan pula aku membelah senyap dengan rokok yang kuhisap sehabis meminta sebatang dari kau
Begitu aku mulai mengucap terima kasih kau membalas dengan anggukan hanya anggukan itu
Mungkin aku salah mengartikannya sebab kata kau lebih baik aku diam saja dan menikmati rokok yang kau tawarkan diam begitu magis bersama asap rokok di meja kafe ini sendiri tapi

Sama-sama

Dimana angin berhembus tak sedang
Ada kau
Seorang mati dalam kenangan
Itu berarti dikubur hidup-hidup
Atau ikhlaskan saja
Berita tentang kemarin sebelum angin dan pesta ada bukumu belum kau baca
Setelah habis beberapa teguk ia tegak dalam tegaknya yang kikuk ia menghitung bintang bila menanti untuk sadar lama lagi
Maka di ucapkan salam perpisahan pada dirinya yang dahulu
"Terima kasih",
"Sama-sama". Jawabku,

Isolasi

Yang tak dipahaminya dari terang saat merasuk ketika jendela terbuka dan aroma pagi beserta dengan udara dingin dan lembab

Tanpa kecuali ia pun melempar pandangan kearah tumpukan dan gelas yang berisi kopi tinggal setengahnya tadi malam

Ada yang tak perlu disampaikan sepagi ini
Tak mesti juga dibicarakan apakah hanya akan baik jika habis bersama teh hangat dan biskuit

Berangkat sekolah sepanjang jalan ia terus mengulang hafalan nanti akan di ujiankan tentang pembuangan yang paling disukainya dari politik yaitu pengasingan ia suka seperti anugerah

Melangkah dan menghitung sepanjang trotoar jalan telah dilewati rumah yang berjejeran tanpa halaman di hiasi oleh pot berisi tanaman kearah menuju persimpangan ia tersandung

Menjelang siang ini ia telah niatkan kalau matahari sampai tinggi nanti ia akan bertahan saja tak akan keluar kemana saja

Menjelang sore ia telah sampai di rumah duluan
Ibu kenapa aku selalu melupakan yang terpenting

Minggu, 16 Juni 2019

Titik sebelum garis

Ia kepalkan tangan selagi hari belum tinggi lagi dan berujar tetapi rasa kantuk yang selalu datang dan mengikut kepada nyanyian datangnya tak pernah tepat ia mungkin hanya akan mengaburkan dimana yang ditemukannya adalah kejadian yang ia pendam dan direkam jelas dalam ingatannya. Tak ada hari yang lebih baik setelah dijalani

Rumah

Ia meminta awan sebagai kawannya yang dekat dan tak terasa menyakitkan nanti ia akan memilihkan beberapa buku atau potong pakaian yang masih layak
Ia tak ingin kalau hanya bercerita ia dendangkan lagu timur tentang perang tentang yang tak pernah selesai
Pertama kali didengarnya sendiri apa saja yang tak digubris lagi melainkan ngilu yang tak tertahan kemudian ia pilihkan suatu tempat dalam pikirannya yang tak jauh baginya
Apa saja sekarang ini dibuatnya terang seolah ia pernah dirindukan di suatu tempat ia mungkin berada disana

Jujur

Sebulan hanya tinggal hitungan dalam masa peralihan menuju perang keadaan yang kian mengarah lalu kau pulang sebagai alfa dalam hadirmu kau tak juga sisihkan dan yang akan ada hanya kilasan-kilasan baik dan buruk kau tak juga mencintai sebab terlalu takut katamu dengan sia-sia yang nanti bakal kita ketemukan dan hisap hingga matang

Malamnya tak pernah ada yang mengunjungimu selain mimpi yang rapat dan akan jatuh jua tepat di keningmu
Pelan ia suarakan bisikan yang tadi didengarnya tapi ia takut untuk didengarkan menjadi hantu sekarang untuk hanya takut kepada ketakutan

Berbaris

Sekali keras mengguncang pundak
Rebahkan pinggang dalam hawa yang lantang
Padi tumbuh tak berisik
Ia yang kekal dalam suasana membatu dan hujan sesekali mencernanya
Merah adalah lahirnya dari tanah yang ia rengkuh sebagai ibu
Dan kemudian pamit kepada siapa saja
Apapun tak pernah menggantikan nya di hadapan roti kering dan teh panas dalam keheningan ia habiskan santapan

Gersang

Lebih dari ini kita dinanti dan di timang jadi anak tiri dalam zaman yang serba kaku lumrah saja untuk menjadi yang bukan kita yang bukan siapa-siapa
Abad pertama dalam hidup yang menipu menjagal apa arti dari yang mengikat segala bentuk
Malah dengan hanya kilasan baik dan yang paling ditunggu untuk hancur untuk tak bisa terpakai dalamnya kemudian jatuh ke sumur kering di padang gurun yang tak pernah dihujani

Performa

Di iringinya langkah dalam pacuan ia kekang lajunya sebelum masuk putaran kedua ia telah lebih dipahami namun laju yang tak sembilu ini pun panaskan udara sekejap ketika kita waktu itu mampu dan sanggup meraih petang untuk menemukan diri ketika kalap di tepi ranjang memaklumi setiap isak yang tertahan adalagi sebelum ini kita temukan permainan serupa dahulu

Terang

Sepengetahuanku abu yang sekarang dan banti bakal terkenang di balik-balik lagu seorang kekal melebihi ilusi yang dahulu pisahkan keberadaan antara kau. Warna memang lazuardi yang kaku itu dan kalau saja di matamu kutemukan ladang-ladang dengan persik yang kau curi dari ku. Malam nanti kita makan dadar bikinan ibu yang sekarang tenang. Punya anak seperti kau dan di tanganku ayahmu lah. Satu-satunya yang memberkati hidupku memberiku terang.

Bengkok

Anjing yang setia mati hari ini semalam jasadnya dikubur di belakang rumah antara batu besar dan kolam

Tak ada kesedihan yang sanggup dipelihara sebaik kehilangan
Dan kita memilah sebelum menikah manakah yang lebih menikam dari diam di ujung malam ini

Setelah sanggup kebanyakan orang tak tersinggung jika tak kau kenali kecuali
Perihal menyakiti atau meninggalkan apa ada yang lebih ahli dari ku

Pokok batang ubi dicabut ketika makan tak lagi makan
Atau bisu sia-sia membunuhmu
Meradang luka mu menyabit kerak dalam lambung mu

Abaikan prasangka setiap yang merasa berhak dapat tempat di sekeliling meja makan ini

Selain diam yang kupunya hanya ingatan

Leluhur

Di gugusan dan kelopak bulan antara basahnya dan lembut rerumputan ketika dosa dan batu keras berbenturan
Sesudah selesaikan peperangan dan ego meraung luapkan girang manakah dari ini kata yang kian kita endapkan

Batu lebih tahu cara untuk diam
Bersuara adalah bikinan makhluk malam di hutan-hutan

Garis-garis yang disambungkannya merantai mengarah kepada kamarnya  yang masih berbau lipstik pekat yang melimpah ketika yang lain bukakan firasatnya menduga ada yang telah lebih pernah menghuni ruangan ini sebelum dia

Dan sebelum rubuh pikiran yang dibangun dengan material yang dicatutnya dari buku kiriman ia tanggalkan tanda yang hanya dapat diperoleh tetapi ia tak bisa bedakan yang bukan dirinya

Sabtu, 15 Juni 2019

Magis

Terbang merpati itu kearahnya suar
Sesekali ia bakal hinggap dan merekam kau
Tapi jarang sekali

Dimana saja
Dan yang bilang
Seranting dengan pilumu kau bawa hingga
Yang telak dari sekalian
Adalah bukti
Dan tindak
Dan tanduk

Mencar

Di awal tahun sebelum punah
Kami dirikan tenda dari
Sisa usaha yang gagal dan sia-sia
Di semaknya kami tuai rindu dalam
Dan sisa

Sebelum tiba tadi ia tahankan
Menggapai sumbu dimana
Pelita akan di nyalakan
Pendar yang jauhkan

Semakin kesana jauh
Dan agaknya
Ia pulang dengan buruan

Beberapa

Dan lain pula di masa yang datang
Ia bagai petir
Ia hanya begitu sungkan
Untuk masuk dan menemui kau
Kepala kita beradu letak
Mungkin panas yang ketemu puncak
Marah dan ingin sekali
Menimang kasih dalam kisah
Kita masih mampu untuk cairkan
Beberapa lagi
Sebelum ada yang mendahului
Kita sengaja untuk tak
Menyudahi

Jubah

Ia bergerak perlahan mematikan yang keluar hanyalah bisa
Hades penguasa bawah tanah
Tak terpercik dan santun
Ia terbakar oleh bisu
Kalau merah dan hitam bertemu ia serupa jelaga itu yang merasuk dan membusuk
Demikian ia semakin permainkan di bawah gelap makanya waktu yang datangi tempat ia berkubur bersama kenangan

Dibalik epitaf terpahat disini bersemayam dalam damai ia yang kelana singgah dimana negeri dan bersua

Sabar

Sebentar lagi hujan turun
Tak mengira lebat dan sampai
Jauh kedalam kanal ia mengalir pelan menuju laut
Yang tertinggal hanyalah kehendak pada malam untuk turun lebih jauh lagi makanya ia pilihkan sedikit gertakan yang tak lagi perlu di bantunya akan hanya ada sedikit kemungkinan untuk dapat lebih bersabar

Orang asing

Pernah sekalipun kami akan memanggil
Sampai ia menoleh kemana datang suara
Di sekanya rambut yang terurai
Dan ketika itu ia pamit
Menagih kepada waktu yang akan mari saja ia pilih lalui setiap lamunan dengan beragam proyeksi yang dapat ia perjuangkan
Makanya pelan ia bangkit
Ikut mengantri bergiliran
Namanya kupanggil
Orang asing

Sangkar

Di pucuk angsa menari
Pagi ini
Ada kisah dan tak adapun
Di lumbung sementara itu telah basah
Sepasang tubuh rebah

Diantara hari dalam bolong kita hanya sisipkan kiasan
Kata dalam remang setelah ini surya bisa jatuh ke pangkuanku

Hari petang dan kau tak akan peroleh walau sedikit yang kupunya
Hanya akan ada dalam kalam dalam kilau tak lagi menyingkirkan
Umpamanya malam ini kita hanya akan setia dan dalam lagi makna tak terhitung betapa balas jasa

Silau

Dibujuknya diri yang tertawan dalam tubuh bukan pikiran
Ia kemudian meraih lagi
Yang tak mampu dikiranya adalah
Kau yang pernah atau bahkan ia tegur
Sekali kemudian

Yang walau tak di kehendakinya
Suara itu
Sesaat sebelum
Mereka berkehendak
Tetapi adakah

Dengan pelan kami lalu
Menghardiknya
Yang tak mau dihiraukannya

Suatu kali walaupun
Ia katakan kepada orang asing
Wajah yang kasar
Atau mungkin saja kelakar yang mengarah kepada

Jumat, 14 Juni 2019

Selalu

Melewati hutan
Dirimba yang tertanam
Dan topi ajal
Masih jauh kan

Ia mengira hanya sebutir atau bahkan
Yang tak pantas disebutkan
Dalam hal
Masalah yang datang terus dan bergiliran
Matanya mata rimba
Harimau yang mengaum
Ikuti aliran sungai yang melandai carikan bayangan yang tak tersentuh oleh riak

Malamnya ia mengeluh soal siang yang terlalu panjang
Atau ninabobo yang tak lagi mempan
Maka kini ia pilih untuk mengganti waktu dan searah dengan beberapa kepastian
Ia bungkam itu aroma darah dengan taring
Tapi ia tidur tak tergaduh oleh bising rusa yang berlarian mengejar ke arah pohon rendah

Latihan

Seukuran dengan pil yang ditelannya rasa sakit
Dimulai ketika tak ada seorang yang menjawab salam
Di pintu depan rumah terbuka
Ia kembali dari
Ingatan yang seram
Ia kemudian hanya akan perselisihkan tak lebih dan tak kurang
Makanya kemanapun beranjak ada sisian yang tak berisi
Semakin ia sentuh semalam itu
Beban yang ia bawa semenjak lahir
Ia mengira semua sama saja
Tak ada bedanya
Kemudian ia lalu memilih untuk mengubur dirinya
Dalam sajak yang datang dari timur atau barat
Yang tak ia yakini
Perihal waktu lain
Sengaja ia pilih suara yang bukan suaranya

Berterimakasih nanti

Mestikah
Kita lalui jalan yang kemudian kita hafal
Setiap rumput dan ilalang
Di pojok pondok kosong
Digiringnya kembali asa kepada tiada yang berarti
Hanya hidup tak ada yang lebih berarti
Kemudian dilepaskannya suara yang sedari malam mencengkeram lajunya
Kemudian ia pilihkan beberapa kemungkinan dan untuk itu bagi siapa saja
Tak akan mungkin menolak untuk mengiringi langkah itu pulang atau hanya menggubris sedikit dari yang ia bisa atau ia hanya akan kembali kan kembaliannya

Histori

Sekenanya ia jawab
Dan ketika itu
Mujur saja
Manakah letak
Besar antara
Dialog yang terisi penuh
Di sisi kiri dan kanan
Jalan yang terpampang atau langit turunkan tuahnya

Bumi masih miliki
Kendala yang dikekang atau dikenal layaknya
Mata pisau itu berkerlip ke arahku
Lajunya tak kutahankan jua
Ia mengira saja
Lantas darah terpercik kedinding
Dan tertinggal bercaknya

Apa

Seumpama roti yang tersaji dan yang ia tunggu tak lain kegagalan yang sama ia perjuangkan agar merasa tak lebih dari selinting tembakau yang ia gulung sendiri meski tak di habiskan sepah di mulut
Ia hanya bisa untuk memastikan dan sesekali ia berujar bahwa apakah telah pernah ada yang benar-benar di tolong
Apakah ada yang benar-benar mampu
Apakah ada ia pikirnya

Hantu yang berkuasa di kepala
Ia itu yang menggerakkan kepada kehancuran
Ia itu yang serupakan kita dengan
Sisa ampas makanan
Yang dan terucap hanyalah
Selain dari ini
Dan yang utama berkat hanyalah seperti guyonan
Ia yang tak pernah
Menemukan manusianya
Ia yang terus mencari bentuk di tiap zaman ia yang kita kira
Ternyata bukan apa-apa

Merasa

Selamanya akan ada yang menahan dan terus senantiasa seperti hujan turun jatuh ke bumi basah
Tak pernah ia lebih dari pesan yang disampaikan lebih dulu
Paginya ia berkelung resah dan terbit pula kehendak dari yang ia jalani jalan panjang yang telah di hafalnya dalam igauan dalam ketiada berdayaan selain untuk menyeka apa dosa yang di kerjakan
Sekali pernah ia menjauhi biara terlebih untuk mengerti pun yang di ingatnya hanyalah kesempatan untuk menjaga kulitnya agar terus merasa dingin atau panas

Matahari

Ketikanya akan sama ada yang bahkan belum terkerjakan berpaling dari kemudian
Kita tak pernah mendapati kemujuran bersemayam
Kita tak pernah merasa lebih beruntung daripada

Suatu saat matahari ini matahari kita juga
Yang menjagai dan tak pernah menuntut untuk menjadi sempurna menjadi seperti apa yang ia inginkan
Hanya senantiasa menyinari dan tak pernah merelakan cahayanya sia-sia sampai percobaannya menenggelamkan tubuh dalam pijar

Kelak

Suatu saat kata-kata menjelma kunci yang membukakan indera kita
Menjelma matahari pagi yaitu nafasku yang semalam yang tiada hanya sedikit jaminan untuk melewatkan hari demi hari lagi
Sampai tak akan ada yang mengira dari mana datangnya keajaiban
Cepat sirnanya pula dan aku akan kembali terhitung saat digembala
Atau memamahi rumput
Daun tak pernah jatuh sebelum dipetik oleh angin yang cepat datangnya
Makanya hari bisa saja berganti
Pelan kearah yang kau suka
Lebih berat lagi untuk menakar segala kebimbangan yang pantas merasuk sebelum kita
Tak ada yang pernah mengalahkan kesia-siaan

Berdaya

Melulu soal gema yang kebanyakan memantulkan batu di atas permukaan danau
Dari atas nya elang bersarang kemudian hanya ada batas dinding di cakrawala lembah yang mengabut kala terlalu dini

Di cengkeraman hari
Masih bernafas bocah
Yang kemaren ditabrak
Hari ini masih akan sama dan sepertinya tak ada yang lebih baik dari prasangka untuk di singkirkan
Setelah tahu manakah yang terbilang diantara setiap nan diangkut
Hari masih terang lagi ketika itu kita menyisihkan jalan untuk kelak menjumpai

Pertama dengan seberapa kaidah yang ketat
Atau polah yang mengemasi sendiri
Hari ini pesan tiada terkirim kepada dan diri tiada terikat
Sebelum punya
Dan teranglah hanyut
Sampai kita menyusun amsal
Dan yang terpetik adalah
Masalah-masalah yang dapat terselesaikan

Pesimisme

Pun jika mengelabui hanya butuh waktu sebelum semuanya terkuak kita tak akan sampai kepada tujuan jika hanya merapatkan diri atas apa saja yang ada setelahnya akan ada proses panjang untuk kembali mendapatkan apa yang tak bisa kita terima kita yang terlalu menunda-nunda untuk jatuh kita yang terlalu lama berusaha untuk gagal

Sialan

Diajaknya dirinya berkeliling saat dimana yang diketemui atau mulai dicoba ialah dengan sedikit banyak teori tentang tuhan

Saat kita mengajari diri padahal tak ada yang boleh nanti menuntut banyak
Demikian perlahan dengan asalnya waktu yang semakin memberi sekejap saja untuk beralih dari mimpi kepada lamunan

Suatu saat matahari pun mengantarkan kepada kita bias yang sangat memberi kejelasan dari terangnya

Padahal ia sama saja dengan gelegar tawa pada musim dimana tuan sembelih anaknya
Dan dengan itu pula ia lebih banyak meminta untuk putuskan saja

Lebih dari itu kita mengira dan padanyalah kembali derita bermuasal kepada suara-suara sebelum malam maka menyesalkah saat ia lakukan walaupun waktu hanya sisipkan sedikit peluang untuk bergerak dan dengannya kita pulang

Istirah

Dan apa yang kita sebut sedalam baris
Apa yang hanya ada di ilusi
Kita tak apa-apa
Namun kemana saja

Ataukah mimpi-mimpinya bermuara
Dalam laguna
Sedalam igauannya

Merayakan hari

Ia sibuk melayani
Aku bergabung dengan kumpulan
Asap mengepul
Tak ada lagi atau resah berganti belum lama
Ia sudahi
Berdiri kemudian

Pada awalnya
Dan setelah tahu diri
Ia mundur
Ayah dan ibunya pernah kami beritahu
Tak mudah untuk menjalani
Walau kebetulan

Disisi lain
Kemudian datang pagi sekali
Dari arah pelabuhan
Seorang teriakkan
Kapal telah penuh
Ia telah berlayar

Umpama

Diam-diam diliriknya
Hingga ada seberapa
Ketukan pelan
Beberapa kali

Tetapi ini bukan semacam undian diantara ribuan bahkan seseorang telah ditakdirkan

Tetapi sebanyak nama yang membandingkan ada yang tak cukup mapan jika hanya

Seperti kerisauan tatkala letih ia rebah juga kepada unggunan yang padam
Sebelum fajar ia sadar

Semalam suntuk

Sedari pagi ia bermain dengan
Arah yang tak pernah berubah selamanya

Suatu menjelang dini hari masuk beberapa orang melewati pagar rumahnya

Dimanapun berkumpul akan ada yang kibarkan temuan
Berkobar-kobar

Seumpama sekian tagihan sebelum lunas dan kepanjangan dari namanya
Tapi adakah diketemukan setitik itu

Dimanapun gula semut berkumpul memenuhinya dan tak ada yang menghalau

Diamnya

Di inderaku menamainya serupa titik basah yang berkumpul sepanjang laguna  dan ada yang telah mencatatkan rupanya
Amalan kita

Sebisanya

Didahan hinggap seekor elang entah telah penat terbang atau telah basah kuyup terkena hujan sedari tadi

Dan dari balik himpunan daun tupai meloncat-loncati dan akan ada yang kehilangan buah yang ditunggui matangnya

Selain daripada bahaya yang di takutinya hanyalah beberapa tuas dan selain itu tak akan lagi ada yang coba di hilangkan
Semua waspada

Remedi

Setelah ini hanya akan ada perjudian dengan sedikit modal dipinggir telah berkumpul yang kalah dan baru saja seperti dahulu tak pernah ia mendahului bayangannya yang karib cuma sunyi sedang sepi enggan di akrabi
Kitalah sebelum sedikit udara dan yang memang bersuara sekitar perhentian sebelum capai dan nanti mengulang lagi

Usang

Disebelahnya berkemah serumpun
Kata yang diternakkannya
Maka tak lebih lagi dari
Ujian yang ia berhasil lolos
Tak pernah

Padahal sehubungan dengan
Retak yang kini diisinya
Retak yang sia-siakan saja
Malah kembali ia mengejar
Kearah bayangan tiada berbentuk
Ia merunduk dan mengeluh rasa sakit yang tak dikenalinya lagi
Rasa sakit yang diam-diam menjauhkannya dari duduk yang ia bentuk

Masih jauh lagi tak pernah dikirimkannya kabar itu
Mana pernah

Pendakian

Ia yang pisahkan
Setiap saat bergulir sebagai beludru yang menyatu atau bakal kembalikah lagi di masa yang akan datang

Malah hanya mencoba ringankan segala rupa yang dirias dalam kiasan kembalikah ia

Akan kembali sebagai keramahan yang pergi untuk tiada utuh masih miliknya

Perahan kata yang kita unggun di malam hanya awan hitam menolak masuk lebih jauh lagi
Kata dibiarkan kembali kepada arah datangnya

Kamis, 13 Juni 2019

Berkelung

Menunggu teriakan
Dibalik pintu dan ruangan
Kami abaikan
Perihal dan yang keluhkan
Ialah gemar untuk pelihara sujud
Waktu kita kian tidak sanggup untuk meminta
Padahal jauh tertanam cahya
Sebelum bulirnya dan ingatan tentang kekekalan yang tiada
Menutupi hadirnya
Hari kemarin adalah
Entah siapa atau bagian dari apa
Makanya
Warna selalu saja berubah atau kita tak pernah letih untuk melebih-lebihkan keriangan walau untuk itu akan ada yang tertunda atau malah hanya bakal
Menunda
Untuk hidup dan yang berkurang dari kemegahan
Ialah kesimpulan yang kita sembunyikan dari takluk
Tak pernah menahan lebih dari beban
Dan hidup yang sekali ini minta dibukakan segala pintu
Selain menerka
Kita masih bisa sekedar mengingatnya

Alibi

Terang serupa teguran dan yang malam hanya siapkan yaitu rentetan yang kabur
Linu itu berita yang berikan
Maka hanyakah selebihnya penghulu yang lalui jurang yang curam

Terlebih dengan seruan kepada butir dan angsa yang pongah dengan paruh penuh oleh rumput

Tetapi selebihnya
Karangan yang tak sisakan tempat
Bagi waktu untuk menangkap gertaknya
Tabiat adalah keengganan dan yang tak mampu mengira selebihnya yaitu isyarat yang terpendam

Kerja

Sebelum usai perang dan masalah
Dari hidup yang majal dan pekat
Ditawan bersyarat
Bahwa kita tak berhak
Suatu saat terang itu kita sambut lagi
Dan gelap kita sibakkan oleh pendar lilin yang sengaja di pasang
Geraknya samar tertangkap oleh waktu yang membentak
Dan bunyi tak tertangkap sebab hanya sedikit yang bisa walau untuk itu tiang-tiang telah terpasang

Serang

Sebelum usai pesta merasai
Dan hanyalah
Gelayut bayi yang timbul dan wajah yang pasrah

Untuk hidup lebih serupai dengan susunan saja selebihnya adalah serakan yang tak beraturan atau masih dapat melakukan barangkali ada usaha yang tak terperhitungkan

Menapak sebelum senja adalah lebih baik ketika hari telah tinggi dan tinggal dalam reka imaji

Persis

Garis pada daun
Tulang yang membentang
Ruas yang mengikat
Atau beberapa kata terakhir sebelum usai
Ada dalam
Perkelahian yang kita mulai dengan hinaan
Atau kau turut pula meludah
Ke arah mana pulang tak terpakai
Walau kita akan sementara sengaja
Warna merah di ufuk suatu ketika itu kita sama membantah waktu dan tak ada sebelum detiknya menyingkirkan
Pedih
Sekali lagi

Warna merah di ufuk itu
Pagi yang berdenyut walau tak ada kesiapan
Hanya berapa ujaran ada yang tertahan oleh rambutmu yang terurai
Maka sisanya kembali mengulang baris untuk tahu dengan warna umpamanya

Namun ketika hadir tak sempat
Manfaatkan hanya cuaca selebihnya usaha yang sia-sia

Tigris

Itulah tigris
Mengangkut persediaan
Jam pasir mengukir
Itulah seruan yang mereka katakan
Sampai

Dan yang terpenting
Seraya menyegarkan jaman ia tetap membahayakan
Alirnya yang tenang
Dan diam

Tepat

Ia tak ikut campuri
Pekerjaan malam
Ia hanya memilih
Pagi buta untuk sementara
Ia belum mendapatkan naungan
Darinya berasal
Dan yang terpenting
Hanyalah saja beberapa kata yang mampu ia pilih
Ia memilih sebelum semuanya di mulai untuk merasa sentosa

Rabu, 12 Juni 2019

Hijau

Sebelum risau
Daun yang menguning yang telah memohon sebelum ranting mengenyahkan pandangan dan yang terbit cuma cuaca dan yang tenggelam hanya matahari kita tetapi yang kentara tetap

Jasmine lucilla terbangun sebelum matahari terbit dan bereskan sisa-sisa not yang belum sia-sia jika dituliskan menjadi tembang keesokkannya

Sebab apa saja telah diam dan yang terpaku kita tak hanya untung sebutir
Kita yang telah menyiapkan diri untuk temukan pengganti

Busur

Dan juga mata panah ini
Sekali pernah menemui punggung rusa
Telah terkapar berdarah-darah

Bisiknya tak pernah sampaikan
Husss
Semua diam
Tak ada yang boleh bersuara kecuali
Busur

Siap

Kemarin tak ada
Sekali ini hari masih dapat dilalui
Dengan keras
Dan banyak sekali

Begitu susah untuk kami gunakan
Dan banyak
Tak pernah ada yang sanggup gantikan

Atau kita yang kian untuk memasrahkan segala urusan
Mata penamu asah dan tatap

Muda

My spirit feels so young again, its shaken
-goethe

Dalam tenunnya
Awan sebelum hujan
Ia yang telah tiriskan panas sesaat setelah membara

Tak bisa ia
Mengawani dan lapuk
Beserta rindunya keatas
Menangislah ia hanya sebelum itu

Dan

Sebelah tubuh

Menanti dan menimbang
Suara
Pernah datang beberapa
Mereka menanyakan tentang
Kasih patah dan tak untuk dikembalikan

Diunggunan tersisa bara terakhir
Mereka menyambut dengan senyuman
Betapa hakiki makna kesendirian
Dengan keseriusan memulai hidup tanpa embel-embel
Semua yang pernah pulang tak kembali
Atau pergi kemana diturutkan

Meyakini
Seorang pemuda mabuk dipapah kawannya
Di serambi kini ia telentang
Bintang berputaran dikepalanya

Hari biru itu kukira
Malamnya kami
Selanjutnya markah pilihkan sesuatu yang terjal dikeningnya
Ia pantas untuk dilupakan

Ketika itu malam rabu
Paginya ia tak bergerak dari tempat tidur
Karma baiknya bicara banyak
Dijalanan tak ada yang menyangkal lagi
Ia lolos dari kejaran dan yang tak dipahami adalah kenapa orang-orang ini

Sisa

Sebelum petik ia kutip
Sejumlah yang ia katakan melawan kata hati
Sejumlah pikiran menggenapkan
Dan ucapan milik
Yang ia rahasiakan

Suatu saat sebelum di geladak bergelimpangan para kelasi
Dan ia yang punya
Dibalik sini
Hanya saja

Dan adakah kita temukan
Ia jumpai bayangan yang memantul di cermin
Berganti tiap sesaat ketika ia terguling hanyut
Masihkah ada
Hanya sesaat memang
Setelah ia sadar

Upacara setelahnya
Hanya akan ada
Yang jamak bagi kita ketahui
Dan dirumpun sajak ini

Siapa suka

Mata empat sebelum siapa jua dan yang datang sebelum berkabar
Ia kabur dan sampai sekarang
Tak kembali jua
Masih tersisihkan
Seukuran dengan kepalan

Kabar pemantik kepada solusi
Bukan ukuran sekarang
Malam tiada bersuka
Sekelumit pikir
Dibalik dusta
Siapa suka

Serumpun

Semenjak kita miliki yang tak banyak bahkan jarang
Waktu hanyalah perihal yang serupa
Sedikit sekali yang inginkan
Tetapi ada yang tak malu sembunyikan dan sedikit saja seperti bualan
Sampai-sampai kita bukakan yang tak terucap lagi
Adalah gema dan bunyi langkah kakinya

Adakah serupa dan layakkah jika hanya mainan angka-angka
Banyu biru masih terdamparkah kisah
Rekahkan imajinya
Walau waktu pun jauh untuk di selami

Sampai

Dan ia bertempur seperti serdadu semut
Merangkaki lantai dengan bayangan sebagai lawannya
Kelak yang ada hanyalah
Serupa iman yang kelak
Semula adalah kecewa yang sampai batasnya
Pilu itu bercampur dengan dustanya
Ia mengais dan memang begitulah cerita tentang musuh-musuh yang telah ia kalahkan

Jika memang yang tahu dan telah ia sanggah
Jika saja kepulan tak pernah hilang
Dan apapun tak lagi punya harga
Dimana letak istimewanya
Setiap yang diketahui sebelum itu tertutup bersama doa

Membatu adalah rasa takut itu
Mengalahkan cemas dengan serpihan-serpihan puisi
Yang mana ia bergerak sampai batas usia
Kemelut yang terus membuatnya menjadi semakin ingin ketahui batasan dalam hal apasaja

Setelah ini

Malam mendoa

Yang hijau dan tak pernah ada hanya saja kiasan di masa depan
Kemudian setelah rebah dan yang pasti tak pernah menjumpainya kemudian kata atau semisal kecurangan
Semacam kesialan yang ia tepiskan oleh rindu di malam buta oleh siapa kita tak pertanyakan

Makanya lain pilihan lagi dan senyum tercekat kata terpelihara dengan baik

Malamnya lagi serukan setiap
Apa-apa yang kita bantah adanya
Ada banyak pilihan
Dan hidup mesti tertuju sebelum sampai hanya sesudah mati kita tahu rahasia-rahasia kecil
Untuk itulah aku masih berjuang

Bahagia

Akhir pekan dan hal yang tak terduga
Seperti impian
Yang berlabuh dan yang hanyut
Seperti kesakitan
Menamakan kepedihan
Dusta dimasa muda dengan erang di tepi ranjang

Setelah bergiliran merasuk
Tapi dibalik selimut di balik kelam
Sebuah suara tersimpan rapi
Apa ada haya sedikit tanpa keraguan dan yang hilang setelah maghrib adalah kesepian

Dibawahnya berkelung serupa dengan jerat kita pertanyakan tak lagi hanyakah

Dan laju di tikungan semakin menipuku
Hanyalah sedikit saja yang mampu selebihnya memilih tak mengingat
Dibalik durga dan bahgia kita rencanakan

Selasa, 11 Juni 2019

Sebagai

Pernah sekali ada
Dan juga apanya tak ia sentuh
Dalam noda yang basah sedikit saja kali ini
Semoga dengan kiasan dengan kilasan
Ia yang tak bernahu
Sampai lupa kepada gerakan
Sesaat menjelang subuh ia rapatkan dirinya

Sisa

Kini ia hanya berkabar melalui telephone atau sisa-sisa cerita semalam yang habis dan untuk sementara waktu apa yang terserah katanya
Dan diam pun berbunyi kini tak tahu dengan permohonan

Hemat kata

Tapi tak ada yang bakal menyarankan selain daripada diri yang kini tertahan dan basah serupa doa

Hijau

Sejauh embun dan yang ada kecuali darah adalah kulit dan tulang ia bakal kesana tapi tak bisa di tepatinya
Tentu saja tak ada yang pikirkan tentang apa itu kelahi

Sesuatu

Mana pernah ia dapati atau pertanyakan kembali apa yang akan usang dan tahu kemana arah langit mengabur tahu batas dan yang berkelit darinya hanya mimpi
Sesulit ini kah

Setiap jemarinya mengetuk dan ia hafalkan jalan untuk rebah nanti dan pelan memaafkan kondisinya
Tahu dengan bawaan yang kini tak lagi memberatkan
Ia hanya akan mengulang dan lagi

Mencoba

Suatu dinihari ia teringat dengan dadu yang coba dilemparnya
Ke tanah
Ia sekali saja ingin berhenti bermain

Kehilangan

Sampai saat yang ditanyakan tak lagi pernah mencumbuinya
Malah hanya akan menggodanya lagi
Melalui jalan tanpa sabar yang sudah ia lalui mana pernah sekalipun ia temukan dalam rebah persendian yang membuatnya cukup merasa pasti untuk menua dengan kebahagiaan
Tapi ia tak pernah merasa bersedih ia yang telah paham apa yang telah dicuri darinya ia yang tahu kehilangan apa

Tertuju

Terasa sebelum linu
Atau menua sehari tadi tak berkata apa-apa
Jika memang belum dan tak usah menamainya sebab ia akan terbiasa sebelum dengan tanah atau temaram
Dan nyenyak tidurnya

Selagi belum sampai kepadanya amsal yang ia susun sendiri selagi belum pernah ia mendengar namanya diserukan dan jikalau hari lapar dan maha tulian nya tak bisa ia sentuh ia turut untuk berterima kasih
Lebih jauh dari ini sudah pernah dilakukannya

Menjemput

Ia meminta segera saja kepada siapa yang berpapasan dengan nya
Apa ada hari barukah
Tetapi dengan semoga
Ia tetap bergelayut
Di akar pohon yang tumbuh di lereng
Semakin ia telah memaafkan yang teringat baginya cuma sedikit saja dari bekal yang ia makan
Sisanya ia berikan kepada yang lain bergiliran menanti dan tanpa kata berlalu melewati timbunan tanah yang terkumpul seperti tanggul

Malam jauh lagi tapi ia telah hafal jalan turun dari sini yang di keluhkan cumalah
Dan tak berapa lama ia berada dekat dalam antrian panjang dan hidup memang hanya akan menunda sebelum kalah

Baginya hanyalah waktu

Sekeras apapun tetapi yang di daki nya ialah cuma bukit
Dan telah terang baginya
Sampai juga ia di puncak itu
Menatap kebawah seperti ada yang di laluinya
Sebuah jurang
Ia seperti baru saja lolos dari maut yang tertawa cekikikan baru saja ia sadari dan tak pernah lagi menengok ke bawah

Sumber

Dibauinya aroma tanah yang basah
Bukan karena apa-apa
Ia hanya tak punya lebih dari keingin tahuan
Di ujung jembatan ini
Menanti seorang tubuh
Yang kaku karena terus diteriaki saja

Apapun tak pernah mewakilinya
Sekalian
Ia tak hanya ingin untuk melepas

Sampa ketika ia tahu
Tak ada yang bakal lebih di waspadai
Untuk tahu
Dan adakah
Sedikit kesengajaan

Ia sentuh juga daun terakhir di ranting itu
Sebelum mencoba
Tapi tak pernah ia bertahan
Hanya melawan dan kami pun jadi sasarannya

Usai

Sementara waktu ia hanya akan menempuh
Dan tanpa perhitungan beberapa kali ia harus lebih sadar
Tanpa
Perbuatan pun kita meski hidup

Sekali saja
Walau yang hanya ada kemudian ialah
Tanpa hanya
Sekali saja walaupun

Untuk hidup tak ada pernah tanya
Yang mesti dijawab
Disini

Menghela noktah

Sekali ini ia akan
Menawarkan segala pun
Yang meski
Tak pernah ia memberikan
Hanya saja
Beberapa kali
Ia risaukan
Dan memang hanya
Sedikit yang tak ia miliki
Walaupun untuk itu
Kita meski
Diberitahu dengan
Keseriusan demi tahapan

Senin, 10 Juni 2019

Seru pemintas batas

Sampai pula kepadanya bahwa seringkali arus tak pernah membawa namun meninggalkan apa yang tak dipedulikan kini hingga kita kelak kembali menempuh jalan lain yang tak pernah kita jaga sekalian arti dari apasaja miliknya kini waktu tak pernah berpihak kepada siapa yang menyia-nyiakan

Malah lagi akan ia baui aroma potongan rumput yang bakal jadi alas rumahnya kelak dari igauan dan mimpi yang kemudian ia ingin wujudkan semoga saja dengan begitu ia mendapat berkat atas apa yang sampai kini ia perjuangkan

Akhirnya mati

Untuk paham atas apa yang ditemukannya tak pernah ia pikirkan sedikitpun saat terbaik dari hadapan bayangan di telaga itu yang memancarkan kembali sehingga sampai padanya bisikan yang ia terima namun tak pernah ia paham gerak tubuhnya yang sekarang kaku

Tak ada harapan

Yang ada hanya sinar dari wajahnya atau ia tampaknya akan merakit sendiri sampai tiba waktunya adalah menerima saja perihal siapa pun yang tak pernah pahami apa saja akan berubah menjadi pelipur laranya
Kembali semakin ia teringat dengan keterbatasannya semakin ia bersyukur untuk itu
Pagi yang panjang di lembah yang menunggu hanya orang mati

Amin

Demikian juga sampai seorang akan lupakan namanya tak ada yang menyebut sampai bosan itu serupa batu besar yang di naiki
Serupa dompet kosong yang dibawanya hanyalah kematian yang di tolaknya

Matari tinggi menjelma pendar yang mengiringkan bayang-bayang menjauh yang mengantarkan terik kemana di terangkan

Sampai ketika yang di dengar hanyalah tembang hanyalah nina bobo tak ada yang persis tahu mengapa sebab hanya kepasrahan yang ia harap tiba setelah amin

Tak usah risau

Yang ia tahu dari lukisan ini ialah kesempatan dalam menjalani yang lebih dapat di maafkannya ketimbang untuk muncul lalu tenggelam sebagai zaman

Maka saja suatu hari baik ia diminta pulang atau tak usah saja menjalani kesia-siaan atau apa saja yang ia sesali suatu saat nanti hingga yang nampak hanyalah kesediaan yang ia biarkan tumbuh seiring kecemasan yang sampai kepadanya bak lantunan gema suara yang ia teriakkan adalah namanya

Maaf saja

Mendahului langitnya yang beku di malam ini yang panjang ia habiskan berkelung kepalsuan walau yang ada ketika suaranya naik tajam tak pernah ada yang lebih ia hiraukan serupa di saat ia mengerti bagaimana

Takdir

Sedangkan perkataannya bercampur dengan kekagetan ketika itu ia mengetahui bahwa tak ada salahnya jika hanya mengganti dan mungkin saja ia lebih pernah pikirkan tentang hal ini suatu saat matahari tampak baginya sebagai bola api yang pijarnya menyentuh lubuk hatinya
Pikirnya ia tak akan sampai ke pada tanjung yang memberi nya jalan terang selama ia sadari tak pernah ada yang mendahului takdir

Badani

Sehingga apa saja tak akan pergi sejauh mana ia pernah melempar tuju
Telunjuknya
Sekarang telah ia arungi kesedihan dengan suara yang sementara tertahan namun biarlah ia tak pernah menjauhi apa yang telah pernah dahulu ia hindari
Sehingga apa saja tampak mungkin baginya padahal dari rabu ke jumat hari tak pernah pasti kecuali lentera yang ia padamkan

Praduga

Sampai kau menghitung bintang hingga bahwa tak bakal ia sadari kau di puncak bukit itu tiada memberikan roti bagi jiwa yang telah tetap dan hanya akan ada sedikit tersisa kehampaan
Suatu saat ia menjadi jejak yang abadi yang hanya terbitkan nestapa dari balik tembok hatinya yang menggunung selain itu ia bakal memberi salam seakan esok tak pernah tahu kemana kaki dilangkahkan

Genap

Sebuah bintang yang hilang dan kemilau cahya nya pijarkan atau dilain hal kita hanya akan bisa menemukan jiwa yang bersandar kepada retak tak ada yang pernah menemukan penenun dikala hujan semula ia membentuk dan lalu mencederai yang ia bilang itu luka

Suatu kesempatan ia di hadang banjir besar pak tua itu nuh membilang yaitu menggenapkan yang ganjil

Sebuah perahu besar nuh karam tanpa alamat yang kita kira sebuah nubuat tak lekang juga walau akhirnya ia bisa di lumat zaman

Gadis

Sejak tadi ada yang telah bergelut dengan hari tanpa basa-basi
Lagi pula ia tak pernah miliki keberanian untuk masuk lebih dalam dari luar sini telah terdengar kata-katanya disambut dalam keretakan ia bercermin

Seorang tua pernah lebih dulu menjadikan tanah ini kental dengan aroma perpisahan
Dan yang terakhir ialah nasib yang ia pilih tuk dijalani
Dengan sekali perkenalan kami panggil ia dengan sebutan gadis

Percikan

Semakin dekat dengan
Puncak air jatuh kebumi dan basah
Dimana akarnya pohon menggantung rupanya

Memainkan pilinan rambutnya yang bisa basah karena hujan
Untuk sementara waktu ia hanya akan memilih untuk bertahan disini saja

Sebelum benar punya arti tapi dalam gerak yang dibentuknya hanyalah sedikit yang ia punya

Maka untuk dapat menemukan dirinya ia bilang saja bahwa ia bukan dari sekitar sini tapi yang ada orang tak lagi membahas asal-usul

Serambi

Setelah mendapati dan yang kita perkirakan hanya kemungkinan terbaik yang tak pernah sampai sebelum berdarah-darah
Hingga suatu saat fajar menjelma suara-suara dari balik ufuk kita yang telah membagi dan menerima akan mendapatkah
Manakala segala kelebat bayang yang mengincar kesedihan dan tak apa jika nanti kita tak lagi dapati apa yang memang hanya akan singgah dan pergi tak pernah menetap
Sebelum kau biarkan benar sampai beritanya padamu dan tak pernah terdengar lagi serupa buih itu yang ada dimana saja dan akan tak pernah benar-benar hilang
Kita belum menyerupai lagi dengan pengandaian yang tak kita miliki
Kita hanya sebuah ungkapan lama yang di cetak dan disebarluaskan dan tak pernah menyangkal

Minggu, 09 Juni 2019

Taubat

Selain dengan sungut yang melekat diwajahnya kelak ia akan menyingkir sendiri sambil melupakan kejadian yang ia alami pernah tak sekalipun ia mengira akan mengenai sasaran setepat ini hingga kelak suatu saat ia berdoa untuk dapat terhindarkan dari mimpi buruk ini

Setelah menerima pengakuan daripada wajah yang terampil mengikuti gayanya di cermin
Ia sendiri mafhum dengan benda yang tak pernah ia pahami gunanya
Sehingga akan percuma saja baginya untuk menikmati apa saja darinya

Sekali hingga terasa terik sekali cuaca yang menggantung di kepalanya hari itu
Ia berujar akan menyelesaikannya kali ini sendirian saja
Dan ia telah bertobat untuk itu

Sekian

Sapa saja dan jangan kembalikan duka mu
Serupa ampas dan sepah samakan
Bibir mu ku kecup sampai, sampai.
Malah waktu hanya akan mengetahui bedanya saling menyakiti

Suatu gejala demam menjangkiti
Asmara yang terperdaya
Sama saja jika kita mengandaikan
Dan tak
Berusaha untuk
Berterima kasih

Sikap

Segala pernah menggembirakan sekali bila kau dan aku tak punya keinginan untuk tetap saling menaungi hanya saja ketika kita mencoba arah yang selalu tak menggamang

Jikalau waktu yang hanya seranting dengan seketika hanya saja tak pernah menyudahi makanya kita sampai kepada ke tertarikan dalam suatu kesetiaan

Capai

Jikalau petang menyingkir lalu kemudian teranglah
Walau kentara hadirnya
Dan mungkin akan tetap menggamang

Menyoal dan sekali lagi
Akhir kata tak pernah ada yang kabarkan
Kepadaku
Yang tuli

Sungguhpun jika hanya memang keraguan yang terserap oleh derita