Minggu, 31 Maret 2019

Mata pena

Dalam segenap jalan menuju seluruh penjuru
Hujan menggenang daun gugur

Dan telah bertiup ketakutan yang ku lingkari dahulu
Dalam tatap mata penaku
Menyambar getir di pangkal lidahku
Mengubur penat itu

Kita mencari teduh
Bukan dari tempias itu
Sebab rindu sebagai teluh
Sekian aku yang terbunuh

Sebab malam telah runtuh
Dalam tidur seorang budak

Tapi aku pernah benci pada kata kata
Yang kugunakan hanya untuk memaki
Tapi sekarang mata penaku beradu oleh darah dan peluh

Begitu benci seperti likatnya lambung yang lapar
Peluru menghujam jantung dan jatuh mati terkapar

Epitaph

Kulihat lusuh sepatu
Berdebu tersusun pada rak
Telah lama tak terpakai
Gerak tiada
Melepaskan yang berkecamuk pergi

Gertak dalam kehampaan hati
Menanti segala yang akan tiba
Dalam nuansa gelap malam
Kita menjaga lilin terus menyala

Aku akan menjemput kemana takdir menyuruh pergi

Dan diam diam semua telah diambil yang dahulu kita miliki
Seperti diam ku
Membayar segala tanya

Serupa dengan belaian angin pada senjakala kita lekas kembalinya pada tiada

Sabtu, 30 Maret 2019

Bersyukur

Diam nya adalah bahasa
Selain itu pergilah kemana arah angin
Lara kau tuang semisal dengan bara asmara mu kau titipkan

Perih mu kau raih
Laksana mimpi yang kau gugurkan

Ambillah sajakku sepotong
Tolong jangan bagikan

Kau tetasan telur pertama
Dan jatuh lalu kubiarkan tumbuh

Kau luka pertama
Yang kuharapkan sembuh

Di beranda rumahku
Elang seekor mengitari menatapku yang rapuh dari jauh

Cinta adalah kata pertama
Milik adam
Kepada hawa

Dan kita simpan
Sebagai
Kenangan


Rancu

Bagiku pokok segala derita adalah tak mampu memberi waktu pada kasih
Pada setia yang dengannya memikul luka
Pada kata yang tak mau berdusta

Rindu adalah muara
Segala risau pun serta

Seandainya kita terlibat kembali
Sekali sujud
Sembari memaafkan

Menanti hiba
Relungku tumbuh mekarkan mawar milikmu
Terkasih

Dorotea

Menarilah dorotea menari dalam anganku
Di tepian pun aku tetap menggapai mu
Seperti pagi pertama

Datang lah dari merdu nya lagu
Menyelinap lambat menembus sukma  ku

Erang lelaki adalah gemetar tak tertahan
Selagi engkau berpelesir dalam mimpi ku

Pias mu adalah selusin bangau bergerak tak terbendung
Suara mu adalah melodi tertatih dalam renjana ku

Bisik mu angkuh yang membilas senyum para sesepuh
Getar mu kusimpan dalam nyala tidur panjang bahari

Jumat, 29 Maret 2019

Menjadi pohon

Ia tertanam tak berkaki dalam tanah yang berpelindung ia memberimu buah dan kesejukan ia yang mencoba menjangkau pada kekasihnya

Dengan sopan bertanya maukah kau menanyakan kabar
Wanita yang telah kurindukan dan kuhafalkan aromanya

Dan dari sini awan menjatuhkan hujan padanya
Mengaburkan batas antara mimpi dan jaga

Tapi dengan keterbatasan ia mencoba selalu utuh

Dalam gulita pekat menyala lagu yang di nyanyikannya
Ia seorang

Kelak ia akan menjalari tanah ini dengan akar nya
Yang menopang dan mencari

Ia sebatang pohon yang rindu ingin dimiliki

Pagi buta kau membangunkan ku lebih dulu dari batu yang di umban

Serpihan kecil mantra yang tercium adalah yang membicarakan pagi buta dengan doa

Akankah kau menganggap kepala ku seperti tanah lapang dan puas berlarian seperti rusa

Pagi yang terbit seumpama harapan bunda yang ada terus menyisir ragu menghempas pilu

Kau juga akan dapat menduga bahwa kita adalah yang kalah tak berubah untuk sepihak

Irama nafas dalam peraduan mu tak terjangkau kantuk dan sebelum subuh kau mesti terjaga

Seperti puisi hadir mu tak usah kugambar dalam gelayut mata yang sembab takdir yang piara

Dengan semoga lekas kau tenggelam gundahmu dalam raguku



Mencair

Menaiki tepian gelas yang tadi terisi penuh
Sekarang telah habis
Seorang bertanya tentang apa lagi
Daunan pun mungkin bersuara jika kita yang tak belajar arti sunyi pada kata yang terikat

Menangkap gelagat pada bibir yang mengatup tertahan
Bisu
Tak akan ada lagi kah
Cerita semenjak dahulu
Ia yang sekarang kabur dalam bayangan
Dan lengking sukma kala teringat
Dengan niat yang tak sampai kita membujuk waktu agar berjalan lebih pelan
Dan bulir bulir es yang mencair menemukan tempat nya untuk mengalir
Saja pada rima yang kita khianati

Kamis, 28 Maret 2019

Semenjana

Ia seorang saja selalu melewati jalan yang sama
Beberapa hari yang lalu
Ia sudah tak lagi melalui jalan itu
Setapak yang di bentuk nya
Tak sebuah pun dedaunan yang tercabut atau mungkin ia menemukan jalan baru yang lebih dekat sehingga tak melewati jalan itu lagi
Tak lagi aku menemukan punggung nya yang lebar dari kejauhan atau langkah kaki yang panjang panjang cepat seakan terburu buru menuju suatu tempat yang telah akrab bagi nya

Seperti ada yang kurang setiap hari sebab jalanan belakang rumah ini tak lagi di lalui
Padahal beberapa kali aku biasa menyapa seorang yang lewat di sini dan aku pun sudah mengizinkan nya untuk beristirahat di bawah pohon mangga yang rindang
Seorang sopan itu sepertinya tak akan singgah lagi untuk sekedar berteduh

Dan menemukan dirinya sedang berteduh di saat siang yang terik dan panas atau di kala hujan gerimis
Cukup bagiku yang tinggal di pelosok yang sangat jarang di lewati orang ini untuk ingat dengan wajah nya
Dan berharap nanti di suatu tempat atau suatu waktu menemukan nya sedang tidak terburu buru

Masih

Sepertinya tak perlu menunggu hari lain
Sebab kita selalu saja berusaha bersembunyi dari diri kita sendiri
Sebab kita terlalu berusaha untuk menjadi baik baik saja
Sebab kita tak punya banyak pilihan
Untuk itu kita jadi jarang untuk memahami yang kita rasakan sekarang

Walaupun hari akan tetap terbit dan langkah masih panjang lagi sedari kini telah kita atur dan semenjak dahulu telah kita persiapkan apapun kita hanyalah semilir angin bertiup sebelum hujan
Seperti ungkapan bijak yang tak pernah sampai kujangkau
Kita masih punya harapan kepada hari esok yang belum datang
Dan berniat membenturkan segalanya sebelum itu tiba supaya kita tak terlalu kecewa
Agar kita dapat saling merangkul lagi
Lebih dari kekecewaan yang di dapat dan dengan begitu kita bisa merasa dekat dengan tuhan yang sibuk

Selamanya

Sekali ini ia minta kau hadir dan berada dekat bersamanya
Sebab hari tua nya telah kabur bersama iring iringan musik pilu meraih raih
Sedari tadi diputarnya
Ia pula tak akan lupa tentang ucapan mu dahulu
Tapi cinta tak ikut menua
Kekal
Menguji keterbatasanmu

Tak banyak hari baik yang dapat di lalui nya
Dan kau selalu di bayangkan berada bersamanya
Seperti sekarang
Ia tak akan menolak apabila kau tegur dan kau bawa ke lain tempat
Ia tak akan menolak bila kau tinggalkan

Sebab cintanya padamu di bawa nya hingga kemana pun
Seperti ia tak akan pernah menemui lagi
Ia memilih hidup dalam bayang bayang mu
Dan ia syukuri itu
Pikiran seperti itu yang membawa nya untuk menemui mu lagi
Ia tak suka bila hanya sendirian mengemasi luka
Ia lebih suka mengenang kau dalam gairah nya yang suka terbit
Sekalinya ia memilih kau untuk temani raga nya
Selamanya

Suatu sore

Gadis muda itu berdiri di jendela entah apa yang dilihat nya
Ia cuma tak beranjak
Dan sekali lagi ia rebah pada ranjang

Gadis muda itu menanti hujan
Dan kau
Ia memainkan rambut nya
Sesekali membetulkan letak ikatan rambut nya
Ia bercermin pada kaca yang di taruh di dinding
Dan mengelap wajah dengan kedua tangannya
Ia rindukan temaram

Gadis muda itu hendak keluar kamar dan sekali lagi menoleh pada jendela menuju
Kau
Dari kedua mulut nya keluar suara
Berkata seperti nya
Tetapi angin yang deras bertiup dari pantai kala itu mengaburkan suaranya

Ia tak lagi menunggui kau
Dengan mata berkaca kaca ia telentang pada ranjang
Dan seperti akan meledak tangisnya
Ia menangisi kau

Gadis muda itu menutup jendelanya dan merapatkan tirai nya kemudian lampu di dalam kamar di matikan dan tak terdengar lagi suara suara

Meniti jembatan

Kemudian waktu yang terasa pelan
Membuai nya
Dalam kuat nya sebuah hubungan ia merindukan kebebasan dari jasad yang kental dengan luka
Dilumuri dengan darah kadang air mata
Menjadi jadi tangisnya saat
Ia yakin bahwa telah di lepaskannya keyakinan pada tubuh nya

Semenjak ia di tepis oleh tempias
Di urungkan niat untuk meraih lukanya yang dahulu dan dibiarkan dirinya mengapung dalam suasana remang senja alunan temaram dalam riff yang menyambut kekikukan nya atas kehidupan
Ia telah terbiasa di topang oleh waktu senggang
Yang di pakai untuk mengingat banyak hal
Kecuali dirinya
Ia akan melupakan dirinya
Terlebih lagi ia kesulitan untuk memahami beberapa pikiran yang ia baca dari buku
Ia memilih menjadi halaman terakhir dari sebuah buku yang ia baca
Ia lelap dalam penantian
Tapi tak akan ada yang membaca lembaran kosong itu
Ia putuskan untuk tak lagi membaca
Di bacalah diri nya sendiri
Yang kosong
Ia minta di tuliskan sebuah kisah tentang kebajikan yang telah menang yang kekal
Ia minta di  lebur dalam dongeng malam pengantar tidur sahabat wanita yang tak pernah di dekatinya
Ia pun seorang wanita
Ia tak memiliki jasad
Ia luruh dalam ingatan tentang dosa

Rabu, 27 Maret 2019

Kepada alam

Aku juga tak terburu-buru sebab didepan beberapa kawanan unggas yang menukik membelah langit sore itu
Menarikku lebih lama duduk disini
Dan pula keengganan mereka menengok ke arah bawah membuatku memperhatikan iringan nya menjauh hingga hilang dari cakrawala

Senja saat ini aku biasa tak mengarah kepada langit jingga
Tak ubahnya dengan burung yang di incar bila bertengger sebentar

Kemudian asap kabut timbul sebagai perlak atas gerbang hutan yang dimasuki
Kami hanya menerka dari luar
Begitu alam bekerja menutupi yang sudah dan kita diminta tetap demikian

Jika magis alam yang penuh selubung itu
Dan menyangkut kesediaan segala yang di jaganya lalu mengapa tidak kita yang mengambil bagian
Menjaga kelestarian nya
Agar terus hidup dalam kebersahajaan



Dimana tempat

Sejenak pada hamparan bukit pasir dahulu
Aku rindu
Sebuah kata lama yang mencar di udara
Mencari bentuk kemudian luruh dalam pelukan singkat dan panjang dan hening sesaat
Kumintakan hujan kepada langit yang dipandangi saja dari sini seperti tuas melesatkan panah ke arah langit
Limbung lalu jatuh ke tanah
Dipunguti kembali
Dari tempat lain di layangkan ke langit
Tempat awan merenda bentuk kebal atas makian

Di jumpai nya tetumbuhan yang semarak memagari bukit pasir kemudian ia merebahkan dirinya kebawah menggangap menjadi bagian dari pasir yang menyerap segala yang turun dari langit
Ia ingin juga kebal seperti awan atas makian yang juga bersarang di mulutnya dahulu

Semenjak pagi tak menurunkan lagi gerimis ia jadi suka berjalan jalan sepanjang kota
Kota yang ingin dikenangnya sebagai kawan
Berkali di ingatkan dirinya atau saja seringkali ia lupa kota yang dulu pernah di harapkannya seperti
Kawan

Suatu saat nanti aku ingin dikenang sebagai pasir
Puas ia menjadi pasir dan lupa apa itu orang
Ia seorang saja ingin dilupakan bersama pasir
Yang tak mengembalikan apa yang telah diserap
Lain kali ia akan lebih ingin bersama pasir
Dan ia dilupakan bersama pasir yang digenapinya

Siluet

Tambah ke hulu
Kita jumpai bayang itu memudar
Dan tidakkah kau merasakan tawar yang kau reguk
Saat semua sampai dan kau berpaling   
Kita dahulu seperti dijebak bukan
Dan tak kita hiraukan
Seperti di minta bermain yang tak bakal kita suka

Di suguhi demikian kau semakin lancar mengeluarkan bunyi bunyian yang kau hafal dan aku dari sini melihat mu seperti mengenali gestur yang kubaca
Salah ku sebagai bagian yang memisahkan dari tubuhnya dan kau kumiliki seperti bayangan padahal aku juga bayangan dari kalian yang dahulu singgah tapi kini lebih sering melewati

Kita di ajarkan untuk menghafal tapi tak diberitahu bagaimana untuk merapal cinta yang kita miliki sebagai bayangan
Terlintas sekilas di kepala tetapi merampas segala

Kita diberitahu untuk tunduk tapi untuk begitu kau mesti dilupakan atau meninggalkan aku

Dan kita dibiarkan menjalani hidup yang demikian

Kau

Disini tak ada hari lain untuk mencemaskan sajak yang dahulu kau tulis saat kau memilihnya dari pada mendauri setiap kata
Akan jadi apa

Akan ada yang lain kan datang
Karena saat seperti ini kau telah menyerahkan kata pada nada yang dahulu menemani mu mengatur beberapa langkah kecil
Kedepan

Dan kau seperti pernah mencoba untuk tak bermain kata kata
Sebab kau begitu takut dengan dia yang terpelihara di jasadmu
Yang kau pernah mendengar rintihan nya kala hujan deras

Kala itu kau menyambut setiap pikiran seperti pecahan dari sebuah beling yang tak utuh lagi
Dan kau berharap kau tak kan pernah menemukan nya dalam kata kata

Tapi sekedar untuk diam dan menikmati momen yang kau ciptakan kau pikir tak akan butuh kata kata selain
Memberi jarak dan akhirnya kau tertinggal
Persis seperti saat kau mengisi lembaran ujian saat kau berpikir dalam hidup tak banyak yang kau pedulikan dan kau menyelinapkan dirimu kepada pikiran lain
Agar kau tak mengeluarkan sepatah kata pun
Agar kau redam
Agar kau tenggelam dan hanyut kepada makna
Dan kau di lupakan dalam redup remang malam
Hingga nanti kau minta waktu untuk memulihkan diri dengan sabar dan kau akan

Selasa, 26 Maret 2019

Sepi

Setelah fasih mengeja namamu ia yang sungkan
Pamit tak minta diantar
Mencoba sebentar tak mengubah deretan pikiran di kepala nya
Yang dia atur sebelum tegak dan beranjak
Dia pun mencemaskan arah yang akan di tuju nya
Sebab sebelum kesini ia telah menemui banyak tempat dan sama
Ia tetap merasakan sepi

Lain juga waktu yang ia hitung dan ia tabung lekat lekat dalam ingatan nya yang utuh
Semasa kecil dahulu bersepeda sendirian dan mendapati sepi lagi
Terus ia beranjak kelain tempat dan juga ia yakin sepi adalah ruang kecil di dadanya yang tak terisi
Semakin kesini ia seperti minta izin kepada mu untuk membawa mu kedalam mimpi malam nya dan turut mendoakan keselamatanmu ia tak lagi memilih pergi

Menguap seperti menjadi yang bukan kita sukai

Membantu awan menurunkan hujan
Itu tugas ku
Biar disini tak terbaui sepi dan kesedihan
Merajut beberapa kata menguntai nya jadi serupa lulabi
Kau kuhantar tidur
Dari serambi mimpi milikmu
Kau di peluk dongengan
Dan kau kulepas sebagai semangat
Yang kekal

Seumpama indah beberapa potong bunga yang tumbuh mekar dan kita menanti warnanya menyentuh kisah mu
Kau pilih teruskan langkah
Ke lain tempat dan menghidupi yang bukan

Penat yang kau bendung sendiri
Tanpa menduga lain bahwa akan datang masa kau melabuhkan diri kearah semua berasal
Dan kau di lepaskan dari tugas panjang yang kau angsur sendirian




Senin, 25 Maret 2019

Setegang sarafmu

Dibalik rerimbun pohon
Bertunas bunga seuntai
Ia terbawa jauh

Telah lunas dan selesai setumpuk kerja
Tetapi yang lain menanti
Dan pulang dilapangkan
Kau berdiri seperti
Menanti menanti
Kau sembunyi di balik bayang bayang yang semu
Membutakan matamu
Dan kau tak boleh pergi sebab disini
Sepanjang jalan ia menanti
Berjaga jagalah sebab di hari lain kau dengar suara dari batu yang diam
Dari daging yang di incar

Gila

Siang terik yang panas
Udara bertuba
Seperti ini aku akan bisa makan
Sementara kau menghitung yang tak kau punya
Kita berjalan menuju keniscayaan
Kalau kalau kau disembelih sebagai kurban dan aku semakin menagih apa yang telah kusaksikan
Bagaimana ini
Kita tak bosan bicara diantara bilangan selain itu adalah magis
Dan mantra untuk menyulap diri menjadi jadi

Gila
Kataku
Dia bahkan tak bisa membedakan debu dengan kotoran dari badannya

Silahkan tuan berandai andai
Sementara hari telah terik
Dan tuan mengira mudah untuk menjangkau musuh di balik balik setiap lelaku yang punya gerakan

Bulan penuh

Kemudian yang memelihara selain ibunda
Tak ada lagi karena kau lebih setia pada kelana
Kau bertanya arah jalan kepada siapapun yang kau temui
Dan ternyata malah hanya menolak
Kau memelihara diri sendiri
Dan ibunda tertanam sabagai pokok dari segala muara
Kau adalah anak nya

Suatu petang yang aku sebut begitu
Kita beradu tuju dan berpadu
Meraih nya dalam nota belanja

Kau bayangkan bulan menyerupai wajah nya
Yang kau rindu dan tegar

Seperti jatuhan sekilas saja
Embun ke batu yang mengikis dan meninggalkan bentuk

Telah arif dan hadir anak ku seorang
Yang ku timang selalu
Dalam mimpi nya ku rawat dengan lekas dan semoga
Kesana arah kau tunjuk bulan ?

Sesaat

Seperti kelam dan kau melintas
Menumpuk kerja besok
Sepagi ini kita pergi
Kelain mana yang belum di tuju
Kesana kaki melangkah
Mengarah ke dusta yang dahulu
Kau selami aku

Di unggun sajak
Mereka menahankan pilu
Selain kalian tak boleh tahu
Bahwa hidup juga merenda kasih
Tak bisa sepihak
Kita mendua dan menjadi jadi
Dalam awam ku melihat kau seperti yang telah lama merasuk

Tetapi sekali masa hujan datang sebagai penagih yang menghasut
Tak usahlah di bayar dahulu
Selagi kau masih hilang di kenang
Dapatlah tempat mainkan senandung kala hujan

Jalan pulang

Seperti akan pergi ia meraih kata yang tak pernah sampai
Coba beralih ke lain suara
Namun ia juga
Terperangkap di pikiran nya
Yang seringkali menerabas tentang keganjilan yang ia lupa
Ia suka untuk tersesat
Dan hanya jalan menuju rumah yang di ingatnya
Lain pula waktu ia telah sampai pada padang rumput tempat dahulu ia berkurung hujan
Dan bersorak pada muara
Meminta waktu untuk menunggu
Tapi dengan jaran ia berangkat kemudian
Ia yang jarang di kenang kini telah tertahan
Dalam dalam
Di memilih pergi ke lain tempat untuk tersesat sekali lagi
Jauh disitu yang ia ingat hanya jalan pulang

Sebelum itu

Menjagai hari
Putih dalam beberapa tisu
Dan kau kan mencapai
Begitu gerak kau rayu

Putus dalam sekali anganan
Ia yang panjang kau patahkan
Tak tertembus bayang nya mengabur
Dalam untaian
Dalam sekali masa kau pikul
Wajah mu topeng bagi mu

Sebelum subuh kau berangkat
Pada kaki dan tapak jadi perekat
Segala doa kan sampai
Sebelum kau lepas malam nya pekat
Kau telah menjadi pandai

Minggu, 24 Maret 2019

Selamanya

Kukirimkan dalam alunan langkah pulang
Kita yang mengayun peluh
Kita yang kian luruh
Terbata kita menyebutnya kita tak apa apa
Memang singgah sebentar tak butuh tandu
Padahal pikiran telah menerawang ke masa dahulu sebelum perang
Bagaimana jika langit tak mengirimkan warnanya
Mungkin aku tak lagi akan mengenali kau
Dan sedu sedan itu milikmu sendiri

Kemana kata bergantung kemarin
Hari ini mesti sampai nya
Keluh kesah anak adam dan hawa
Dalam  piutang masa singkat kita terus menuju
Jalan tak boleh lupa
Selamanya adalah alamat
Kepadanya seluruh mengayuh

Halimun jauh II

Biru lautan beriak berisi ikan
Dan kita berlayar ketengah
Seperti akan menjumpai matahari bisu
Harum tembakau yang cerna dalam beberapa ingatan
Dalam malam
Pasir berbisik
Yang bukan sembarang
Tak takut lagi
Jembatan kita jalin melandai
Di tengah hutan hujan
Yang pasti kita akan lekas sadar betapa dalam lautan jika badai mengancam
Yang pasti kita akan lekas sadar jika lebih baik berlayar selagi angin masih rendah
Dan siulan camar penuhi nuansa
Kita biasa berbual tentang yang tak kita capai
Kita berusaha untuk ikut tenggelam ke laut dalam
Juga memang ikut terbang ke angkasa luas
Dan kita menimbang sebab tak punya sayap tak punya sirip
Cukup bagiku
Membagi gerak tapi nanti diartikan sebagai usaha lain untuk menghidupkan yang bukan sembarangan
Sebab asal nya kata dari gerak dan mendiam kan yang bergerak
Kita bebas untuk mengartikannya
Karena bahasa ku dekat
Karena rasa ku luas dan dalam
Seperti angkasa dan lautan
Dan kita cuma kepingin dekat

Sekali pagi

Semua boleh mengincarnya
Dan aroma lekas pudar
Kita kehilangan kawan
Sekali pernah menemui pagi dan aku akan membasuh wajah dengan air yang dingin
Karena semalam tidur tak nyenyak
Aku boleh untuk bersuka sebentar dengan pagi
Panasnya bagai di iris sembilu perih itu dan kau lekas melupakan
Kita jarang untuk menuai apa yang telah kita tanam dan kita pulang untuk meminta restu menuju kepergian berikutnya

Realita gang sempit

Pipit membisu telah lelah dengan permainan langit
Yang menurunkan hujan dengan lama
Kemudian tak lagi turun
Sepanjang tahun
Agaknya ceria nya yang berkurang karena berkawan mentari tertawan risau nya kala petang

Sebagian pulang lewat jalan yang sama saat mereka kesini
Burung akan terus bertengger
Memantau siapapun yang akan berpindah dan mengisi
Pergi atau meninggalkan
Sebagian kita tak akan apa
Sementara sebagian yang lain dengan mu mencoba menerima segala kekurangan
Dalam hidup akan indah jika miliki tempat untuk berbagi
Dan untuk itu kita mesti berjaga jaga
Jika awan terbuka dan langit mengungkapkan rahasia rahasia kecilnya

Kita tak menahu selain hukum rimba
Bagaimana jika waktu dalam porosnya dan kita tetap mengira
Esok pun akan tetap menyambung hari sekarang
Kita tiarap dalam alunan bimbang

Dibalik gedung lama membayang ke bumi
Seorang ibu menunggui sayuran yang dijualnya dan kau lewat
Dari sekian kemungkinan ada kalanya dia menganggap mu sebagai pembeli yang tak mau menawar
Makanya ia memilih menunggui pembeli yang lain lewat
Yang mau menawar
Begitu kemungkinan dan anggapan jika beradu di dalam gang kecil yang di penuh kepentingan
Lalu lalang
Setelahnya ia tak berharap pembeli menawar dagangan nya
Karena telah di lewati saja sebelum nya
Lahirlah kesempatan
Dagangan si ibu laku dan kau dibiarkan lewat tak di pedulikan membeli atau tak membeli

Begitulah peluang lahir di gang sempit yang di usahakan
Begitu terus hingga kau dan si ibu berhasil
Tanpa anggapan yang keliru
Tanpa penjelasan yang panjang

Histeria

Kita adalah doa yang di titipkan
Bukan seperti tamu yang tak diundang
Datang memberi selamat dan pulang
Kita ada di sela sela hujan berbaris menunggu giliran
Di senggang nya waktu kita bermain sebagian mengobati luka

Tapi hujan membasahi dan semoga kata kata ku menyembuhkan
Kembalilah
Pada arti yang kita cari
Dahulu
Dan beri kutipan

Sebagai kau yang datang merasuki
Aku
Memang bukan apa apa
Atau siapa saja boleh nanti menemukannya mengambang silahkan antarkan pulang
Ke rumah yang dahulu dihuni

Sekarang kita bisa cermati
Wajah wajah yang menghilang
Di kerumunan orang ramai
Mereka akan biasa saja
Dan kau akan bisa
Melewati nya sebagai diri ku
Yang merasuki mu

Pokok derita

Semisal derita yang mengantar kita
Tak boleh ada pagi selain ini
Mengalah pada rasa sakit sama saja dengan berhitung mundur
Setelah itu
Setelah itu

Tapi setidak nya setiap aku buka mata masih ada roti dan kopi yang bisa disantap tak berkurang nikmat nya
Lain luka lain pula dengan erang nya
Perih memang tapi tak lama

Sedekat ini kah hidup dengan segala
Mungkin saja
Aku masih dapat bernafas dengan lega

Selayaknya

Sekali pernah aku keliru
Sekali juga lidah ku jadi kelu
Sekali lurus sudah
Tak ada simpang menanti

Menyambut kau yang jatuh di depan
Masa itu
Datangnya tak dapat diduga
Adalah rahasia rahasia
Meninggalkan bekas namun alir nya deras terus menghapus
Seperti air mata yang disekanya

Bergantian dalam lajur
Meraih petang
Semua siap dan menyangka saja
Dalam usaha kecil
Tak seberapa memang dibanding bala yang kita tolak
Sedang kita adalah degup yang mengundang
Bila sempurna kucup terakhir maka yang pertama dilupakan

Sabtu, 23 Maret 2019

Sejati

Aku belum selesai mengaisi kenangan demi kenangan
Satu persatu berangkat menuju pulang
Sedang ia menunggu ku di depan
Dan apa saja yang membekas tertinggal dalam bangku yang kosong
Waktu adalah memburam

Demikian juga palung nan menjagai ku dari bala demi bala
Kuisi terus dengan doa
Kita sebelumnya dilarang bertanya
Tapi sebelum kau pulang boleh sampaikan pesan
Tentang menjadi sejati dalam romansa yang patah meskipun gairahnya suri

Jumat, 22 Maret 2019

Jembatan

Kepada susi yang tak mau mengindari tatapan dari setiap lelaki
Aku setia menunggui mu di sini
Di pojokan kedai yang belum di buka
Tertutup karena beliau masih belum terjaga
Kau antarkan aku pada suasana yang mengubah deretan potret lama tentang kau
Sudah usang tetapi susi
Kita tetap kan
Dan tak bisa tidak kau mesti pandai untuk tak pandai
Memilih adalah keharusan saat ini
Sebelum kau menjawab
Aku mau pergi menuju bosan
Dan kau tak boleh begini
Tak boleh begitu
Kau kureka dalam imajiku
Sebagai dahulu kata adalah jembatan
Antara  kita dan dunia yang sangat lapang ini
Kemudian berdosa kah aku membangunkan jembatan buatku untuk sampai ke seberang dan mendapati persembunyian mu

Diantara

Berarti aku harus hidup sebagai yang menghidupi
Tak hanya menumpang
Dan lena dalam penantian
Bagaimana hancur dan melebur
Setiap perhentian adalah kesempatan
Menerima diri sedalam dalam nya
Dan menunda nunda berarti kini dengan segala yang dijumpai
Menumpas segala penat
Dengan rima dan alunan gerak
Suatu saat menjelma genta yang beraturan saat hujan mencapai genting
Dan kita tetap meneruskan senggama
Sebab luka dan kita tak punya tempat
Selain mendamba kisah semata demi mencapai kau aku akan disebut dan di kutuki haram

Sebagai kasih kita ikhlas untuk berbentur
Atau kosong dan tak terpakai
Sementara hutang mendesak agar dilunaskan
Atau hidup sengaja mengulur pedih agar sampai ke hulu dari muara yang penuh luka
Kau tak bisa lari dari kencan kita dengan kefanaan dan seakan membantah dirimu sebagai seorang perawat jiwa sendiri yang di incar sepi
Atau kau dapat mengeluh tentang siapa tadi menjengukmu padahal kau sedang ingin marah kepada dirimu
Yang lucu sekaligus menjijikan

Sembuh

Selaksa luka yang kita timbuni
Semasa muda atau kau
Bisa saja
Dalam gerak
Waktu tertahan
Kutahankan
Kepingin bertemu
Kau disini saja
Sebentar
Aku akan kesana dan
Menunda ajal

Kota kata kita

Kota kita
Menjalar berbagi nafas
Kata kata
Teredam amuk
Selagi bercinta kau boleh lupakan
Dalam dalam
Badan remuk
Pikirku kau mendua
Sementara
Sebentar saja kita dibolehkan memberi jeda

Bekas luka

Ada pertanyaan perihal waktu dan kau
Yang tak akan mampu terjawab oleh ku
Sepasang sepatu yang melangkah kian
Kita tak akan bisa menunda
Tapi biasa untuk mengalah
Sekarang aku rindukan badan
Katanya pada seorang yang berbisik kepada telinga sendiri
Adakah kita sanggup menolak kebahagiaan yang tiba

Tapi waktu yang fana dan kita abadi

Sementara ku ikuti dalamnya luka
Kalau kita tak bisa bersama
Di dalam hati
Berulang ulang nama nya ku sebut kuinginkan luka itu
Yang kekal menyembuhkan
Dan sekalian percobaan kurekam dalam sajak lama tentang pemberontakan

Kolong langit

Biru adalah langit yang sebentar berubah warna
Kenapa begitu rela sebagai kanvas yang setiap saat di lukis oleh nya
Dilukis jingga
Ungu atau merah saga

Langit begitu selalu menghampar lapang
Saat malam datang bintang selalu menghiasi
Sentosa

Langit tak serupa benda
Yang di miliki dan akan berkurang harganya kalau tak terjaga

Langit menanamkan sifat sabar padamu
Dan langit yang sudah sangat lama
Menyembunyikan wajah seorang yang begitu kau rindukan begitu ingin kau dekap dalam dada

Hembusan angin membelai seorang yang menyelamatkan diri dari dirinya
Tapi bahasa langit tak bisa ditawar
Akan hujan jika ia ingin menurunkan hujan

Sebagai pasak kita berlarian dibawahnya
Sebagai makhluk kita tak mau menggapainya
Langit akan selalu setia kepada mu
Esok atau lusa membawakan warna yang berbeda


Kamis, 21 Maret 2019

Di pagi yang biasa saja

Ketika aku masih memelihara beberapa ekor kucing kecil
Yang tumbuh besar setiap hari dan satu persatu menampakkan gejalanya
Satu persatu mengeong memanggil induknya

Aku pulang
Sebagai siswa yang taat dan patuh selagi muda di ajarkan beragam hal

Dahulu mengkhianati pagi adalah hal yang paling sering ku lakukan
Membolos dan melupakan tanggung jawab sebagai pelajar

Tak kurang dengan sekarang menjalani hari baik dengan kadar keangkuhan yang kukikis terus
Semua berakar kepada ketidak tahuanku

Di setiap kelopak nya bunga
Beraroma khas membuat betah berlama lama
Seandainya waktu dan tempat tak saling berseberangan
Kita yang tak pernah benar benar memiliki apapun tentu sanggup untuk bertahan dalam hidup yang biasa biasa saja bersama orang orang yang luar biasa

Jita telah lalui jalur yang biasa dilalui
Terus hingga beberapa generasi
Kita mendiamkan dan menjadi saksi
Dalam hidup kita tak boleh memihak kepada kebodohan
Kita terus hadir sebagai manusia yang telah diluruskan
Kita tak pernah mencoba untuk menyerah bahkan sekali saja
Untuk itu aku titip kan pesan pada angin yang berhembus kalau kalau ia merasa bosan dengan tempat dan suatu hal

Tapi kita tak boleh merencanakan kepergian sendirian
Kita di latih untuk lupa bahwa kita masih menginginkan kebebasan
Menjadi diri sendiri dalam hidup yang cuma sekali

Berandai andai tak boleh di pagi hari semua orang mesti berangkat kerja

Senja, hujan, gadis,

Hijau daun turun kita melihat semut menukik di atas nya menggapai gapai kepada batang pohon yang tumbuh diantara kaca dan bata yang bernomor di sepanjang jalan aku bertemu harimau tua yang meraung raung mencabik cabik membakar jiwa ku
Aku telah berhasil menjadi seorang yang gagal ya gagal bersembunyi dari takdir
Tak mungkin ia seorang saja
Lalu aku sengaja sendirian dan kami berhadapan kemudian tanya itu terjawab sudah
Untuk apa semua
Kami diam
Semua melebur dalam sore yang indah secangkir kopi dan aroma ketiak mahasiswi
Kami berada diantara maut yang menepi
Menekan mendesak
Tak mudah untuk membiarkan ketika itu
Jelas terdengar oleh ku makan lah ini memang mangsa mu pak tua

Sebentar lagi akan hujan

Diguyur oleh hujan basah kau membuatku tertawa kenapa tak coba berteduh dulu
Sepi memanggil seperti kau yang tak beranjak saat hujan
Aku mengambil jarak siapkan pertanyaan berikutnya
Hati hati saja semenjak kau pun memilih mendiamkan tak menjawab masih ada keakraban yang datang menagih memilih mu menarik segala impian yang kau punya
Dan kita berpadu dalam sebuah jawaban yang ketus bagai petir
Kau terkaget dan mengelak berlari mesti begitukah padahal kau tlah miliki keberanian untuk melepaskan mimpi mimpi mu
Berjaga kembali dan siap sedia akan kemungkinan yang kan datang

Belahan jiwa

Pagi ini aku kira aku terbangun di ranjang yang bukan ranjangku
Kau kah itu
Yang semalam
Setelah tahu dengan pilu dan dosa yang menggunung
Kita jadinya pulang bergandengan

Ketika itu waktu masih atau bahkan
Tak terbiasa menolak
Kau menyerahkannya sebagai hadiah
Bagi ku yang tak bisa membandingkannya dengan yang lain

Sebentar lagi hujan turun
Kita tepat berada dalam naungan

Seumpama kasih mu yang jauh namun telah pernah pula menancap ke jantung ku

Seumpama rinduku yang mendalam pada mu kasih kita kukenang sebagai anugerah

Ketemu

Sirine meraung raung di tengah jalanan aspal membelah kemacetan
Dibelakangnya berbondong bondong masyarakat dari beragam
Semua melongoh tak tahu siapa semua sama mengira

Tak baik jika berlalu sementara jenazah lewat
Dalam anggukan lama waktu berulangkali kita melepas curiga kepada batu pun yang tak bersuara itu

Kemudian kita memilih jadi lekang
Berkabar terus sebagai penanda kepada yang baru saja mendahului
Baru saja menuju keabadian

Dalam bujukan takhayul kita sama mengemas untuk mendapati tempat sendiri
Memasukinya sebagai pemenang judi yang telah diakui
Tapi tetap tak boleh menyombong sementara kalimat akan dikembalikan
Pada guru yang mengajarkan untuk tak memiliki kekurangan

Semua jadi sama saja kita tak mau dimenangkan dalam perkara ganjil
Dalam hasutan makhluk yang tak tampak itu

Rabu, 20 Maret 2019

Dosa pertama

Hitam adalah alas pada tanah lempung yang kita dirikan pondok di atasnya
Bermukim
Berteduh dari cuaca yang menahan untuk tak beranjak
Sedang di pesisir angin bertiup berlebihan dan ombak mengganas
Kata yang kita gantungkan dahulu terlepas
Begitu saja
Memilih bunyi nya sendiri sendiri
Dan kita tak bisa untuk menghakimi seorang yang hanya mencoba berlaku adil kepada dirinya terhadap dongengan yang membesarkannya

Zat itu kau putar dalam sebentuk lagu yang menimang me-nina bobo-kan
Kau yang sekarang ini susah ditemui

Zat itu kau awetkan dalam ingatan dalam sebentuk sajak yang kentara hadir dalam qalbu seorang pengelana
Yang hanya mengantar nyawa

Kita tak lagi bisa menyangkal perihal dosa dan cinta dan cita
Kita telah berkorban dan untuk itu kita masing masih mencari ampunan
Dalam jalan semasa dahulu kita suka untuk tak hadir membela diri sendiri

Karenanya kita bersujud bersimpuh kembali kepada adam

Kesayangan

Kita yang pernah marah tapi kini tak perlu berusaha berpaling muka oleh lelaku
Kita telah dan lebih payah dari nenek tua yang menegurmu
Kita memilih lain arah untuk berpisah
Kita yang telah pernah mencoba mengalah dan selalu begitu
Karena nasib baik aku perturutkan hingga nanti mati dan di usung ke pemakaman

Semangat yang tak gampang goyah
Tetapi getir jikalau terlintas wajah terkasih atau yang kau coba sayangi
Serupa dengan yang kau ingatkan sebagai kawan
Di pinjam awan dan tak di kembalikan
Kembalilah pada gedung yang sama dahulu tempat kita memintakan kebaikan
Kita ingin dikenang sebagai juara
Yang tak mengasingkan diri tapi bakal tetap kembali pada yang kita kasihi atau yang kita coba sayangi

Kita tak pernah lelah untuk berputus asa
Untuk itu kita selalu berharap dapat terlahir kembali tentu dengan ingatan tentang perjanjian yang ditangguhkan

Teruntuk

Sekali waktu aku terpikir bagaimana burung yang terbang sanggup mengawani matahari yang serius
Bagaimana ia menganggap kawan sebagai yang hidup dan hidup dengan memberi yang baik

Tapi burung selalu saja terbang
Dan matahari selalu saja menghangatkan
Siang ini seekor burung berlindung kepada matahari oleh dingin nya dunia
Ia berharap suatu saat dapat mengenali matahari sebagai sesuatu yang dahulu ia maklumi dengan malu malu
Sebab jarang terjadi di kehidupan seekor burung
Matahari yang menyilaukan tak berkurang indahnya dari sini
Kelak burung pun akan menjumpai sarang dengan matahari yang lama yang selalu dikenangnya sebagai kawan

Rindu

Selalu merasa berdosa bila terasa hening di dalam ruangan
Waktu yang ku kejar kita pernah selalu berdiri dalam penantian
Dalam masa singkat menimbang
Dengan semoga

Tiba saja kita tak menolak apabila diberi nasehat
Karena memang dahulu kita jarang atau sering meninggalkan

Sekalinya bersuara aku menirukan cericit burung yang sama terbang melintasi atap rumah kita
Atau matahari yang sama menyinari hari kita
Dan kita sama berlindung dari badai yang datang
Dengan apa rindu agar terbayar lunas
Seperti kau yang kurindukan

Jalanan dipenuhi orang
Sepi menikung
Sekali berkabung orang akan berkumpul
Aku biasakan dahulu sebagai kau

Selasa, 19 Maret 2019

Dia

Langit yang agung
Jangan kau basahi dahulu bumi yang mengering bersama asap knalpot
Di jalanan tak pernah lengang
Anjing anjingan riuh
Aku pulang saja
Mungkin begini jika memang tempat yang lapang tapi tak pernah muat
Gaji yang besar tapi tak pernah cukup

Atau kalian saja yang mengatur semesta begitu sabda angin

Kubiarkan angin berlalu aku terkenang kemudian dia terpikirkan

Kita tak pernah sama
Tapi sama-sama menua nanti sama saja dengan kepingin

Gemintang

Siapa ikut menerka
Kita tak mempan oleh dusta
Mata yang melihat debu terbang
Partikel kecil
Sentosa penghias langit malam

Kembali kepada kau adalah pengecualian di lain malam tanpa bintang
Mengganti sebagai yang telah pernah mengabdi
Kita sama sama berujar
Tak ada waktu lain
Meskipun malam
Datanglah sebagai kawan

Sekali aku lupa pernah mendaki dan tak sampai kepada puncak
Sekali saja kau ingatkan
Aku milik mu
Maka malam sentosa dengan bintangnya

Gang sabar

Bahasa burung adalah diam tapi terbang kemanapun
Sesaat singgah bertengger kepada sudut atap rumah mu mendengar berita tentang cuaca
Baginya rindu pada sarang yang telah lama ditinggal sama seperti rindumu kepada kemenangan begitu pula kau ingin tetap mampu untuk bersinar dan terbang
Jauh kemana tiba badai menghadang
Mungkin kita hanya mampu bergerak seperti kiasan kiasan
Setelah lidah tertahan

Aku bercerita pada teman bagaimana biola yang tak terpakai lagi berdebu dan usang

Seperti lukisan tua bercabang menempel ke dinding membayang
Kita telah pernah dan mencoba
Hingga lelah melapang lapangkan dada
Mengapa tak ada hari lain untuk bersedih
Mengapa memangnya kesedihan selalu datang saat kita tak bersama

Di hari yang ternyata juga menua
Kita mengutuki betapa sombongnya dahulu
Kita semestinya bersabar dengan diri
Dan sabar tak ada dalam hitungan kesepuluh cuma ada dalam sekian peluh
Dalam kenduri ramai orang beringsut kedalam pura pura hadir tetapi pikiran alpha
Kita menyanggah keberadaan satu sama lain
Dalam masa ini kita mesti bersabar

Kemalangan

Ketika itu kita membayangkan tentang suatu hal yang mesti kita kejar
Hingga sampai pada batas dan berbalik lebih baik
Begini saja semua berbalik arah secepat saat kau menerima keputusan yang baik bagi dirimu sendiri
Dan butuh sedikit keberanian memang untuk menghadapi kebenaran
Atau untuk itu kau lebih memilih untuk menyingkir dan kita dapat menjadi seperti apapun yang kita inginkan

Menua dan tumbuh
Berkembang bersama setiap yang mungkin saja diperbuat
Dan kita kembali sebagai apa adanya

Memberi arti pada hidup yang sangat indah 
Semata membangunkan diri yang lama terlelap
Di hamparan lapang banyak tempat diperuntukan bagi hati yang malang
Tak menolak sebagai yang telah kalah

Senin, 18 Maret 2019

Sekali pagi

Dalam ruang yang lapang
Adalah hal yang paling disuka selain bernafas
Selain memilih kau untuk duduk berseberang
Ada kata jangan
Tapi kita kemudian memilah
Sebab cita cita
Cinta cinta kadang melebur dalam himbauan soal kerja

Dan dalam pagi
Yang belum terbangun
Masihkah hari akan baik
Di mayapada nya kemudian kita tak boleh sungkan untuk meminta setiap yang baik masuk
Menahan asal jangan keluar

Melirik dengung jam yang berdetak
Ke arahmu
Aku seorang saja
Bisa

Ke jalan yang kita ziarahi
Telah penuh oleh ibu dan bapak dari siapa saja
Mengayuh
Peluh masih bisa diseka
Tetapi untuk dekat
Terlebih dalam waktu yang berkurang
Tenggatnya
Kita memikul kata

Peziarah

Selesai arus menimbun yang tinggi pun termaktub dalam agenda nya
Tak dapat bosan
Andai tuan meraja
Dalam sukma meramal waktu itu

Embun mencapai getirnya
Dalam hidup mengganti bunyi
Arti dibalik lansekap yang kabur
Kesemua mengandaikan kosong agar kembali terisi

Ular membelit tubuh seorang
Yang kau guyur dengan harapan
Serupa liur mu
Meniti lilitan jembatan putus dan menyambung
Dalam genta bergaung nama yang tak kan di lupa

Senja jakarta kita

Matahari bisu saat senja dengan asing nya jakarta
Membelaiku masuk ke jantung
Siapa kira jakarta bisa begitu mempesona
Saat semua letih
Saat semua mengatur langkah kepada rumah
Saat kita menjadi dekat
Dengan arah yang sama
Menuju pulang

Dimana tersimpan renjana yang mengalahkan kecongkakkan
Dimana tertinggal kasih

Tapi kita dapat menggapai satu satunya iaitu ketulusan

Lebam dalam tanya
Diam dalam luka
Aku tak akan pergi kecuali menyembuhkan

Melawat kepada karib jadikan pintu selalu ada
Dalam ketiadaan sebagai yang masih berjuang untuk menjadi manusia

Setelah kita berjabat tangan dengan masa depan
Tak perlu mengundang maut



Minggu, 17 Maret 2019

Ampun

Seingatku tadi ketika berpapasan kita telah berpelukan
Kendati kita bermain yang bukan khayal
Di balik kelambu kau menunggu
Semua ini sirna

Dan kutitipkan doa demi keselamatan kita
Demikian dalam waktu bertautan hati yang menunggu
Tenang tenanglah
Demikian aku meminta

Daratan daratan

Awan lesap dalam biru nya langit
Burung pontang panting
Dari utara ke selatan
Aku menyimak
Musim yang panjang dengan musik yang ringan

Tapi kau tak kunjung hadir walau sebagai tamu
Hidup cuma mengambil nafas
Dalam dalam
Diam diam

Kota sibuk menjagai petapa
Jalanan adalah kawat telepon
Mengabarkan
Padahal kita sama seperti burung
Tapi kita lebih suka bersuara
Tapi kita tak suka terbang

Dimana kemudian hutan dibelah
Bukit disibakkan
Kau terlupakan
Dalam kerja kemarin yang belum selesai
Unggun masih menyala
Dari apa coba api nya menyambar
Panas
Dari kenangan dan kenangan

Seperti rindu masakan ibu
Pancang Layar tak boleh patah
Kau dapat giliran jaga

Daratan
Daratan


Kamar pengantin

Pada gemulai penari malam yang mengantar mu pada magis nya alam
Tiap sebentar mesti ketemu pandang
Apa yang kita risaukan
Tak boleh jadi hidangan
Bagi mata yang lapar
Bagi hati yang lelah

Tak kudapati diri
Diruangan ini selain kita
Mesti bersuci
Dalam angguk semata teruntuk kau
Bimbang

Tanya dalam ragu
Bisu dalam ruangan
Dan setan setan berpelesir ke pulau lain
Tak ada tapi
Cinta yang mengajarkan
Untuk menyerahkan semua topeng itu
Telanjang
Dalam balutan selendang kasih
Namun tak akan ada selain kecoa
Yang mendengar percakapan kita
Kemana laut hendak di tuju
Sebab samudra tergambar
Dalam haluan kau melontar
Ajal yang kan memisahkan

Banjir

Rimbun pohon
Kau berteduh di bawah nya
Pada angin bulan maret yang tegang
Lamunan membawa mu pada jalan menuju bulan

Tinggal lahan sepetak lagi
Tapi tak kau sia siakan
Bakal bekal mengunggun malam

Selang saat saat mimpi jatuh
Dan bulan redup
Kau dikepung nya
Tik tik
Sebentar lagi hujan turun rintik rintik
Di genangan air tergambar wajahmu
Di air menggenang tampak risau mu

Ke pasang muara berjemur seekor dua ekor buaya
Jarang tampak
Terakhir kali saat pagi
Dan hujan gerimis
Kau mencoba untuk tak melihat
Tetapi mengapa kah
Kau lebih tertarik padanya dibanding
Mengingat saat saat dia keluar

Kearah terbitnya mentari
Kau berjalan
Di tepian rel kereta api
Darah ngeluncur
Dan masih juga dengan siang yang sama juga matahari yang sama
Seakan meneduhi dari cakrawala kau berujar
Bila tak demikian kau mungkin tak dapat keluar

Dengan air yang membanjiri rumahmu saat hujan
Membuat kau merasa lebih baik jika berpindah rumah
Agar lain kali tak di penuhi banjir lagi


Kemarin

Di laut hujan turun
Buih yang menimbun pupus
Luka bagi bumi
Kelak laut pun jadi tinggi
Menjajal yang terjal

Tanah lapang tempat membuang khayal
Tumbuh bersemak
Seperti hutan
Memicung mata

Tak ada debu terukir
Oleh nya angin merasa pantas untuk menjadi taifun
Mematahkan
Rerimbun sajak tentang gunung

Pergilah kemana arah angin mencoba
Dalam riang kecipak air
Dalam nya menghanyutkan juga

Tetapi diamnya jalak adalah agar tak menyerupai gagak
Mesti bertugas sebagai jalak
Meskipun sebagai bidak
Mengincar yang terbesar

Jauh dari kota

Puas berkeliling dengan pemandangan kebun teh yang biasa di penuhi awan mendung
Beranjak sedikit ke atas menuju berbukit bukit untuk melihat kebawah

Dari sini nampak sungai yang lebar mengalir menuju laut yang jauh
Matahari lindap
Halimun terbang kan unggas bersayap
Kita tak mau alpha
Sekali ini dalam beratus sajak
Tentang kali yang tercemar

Terus ke tanah asal
Melempar tanah yang kering membatu
Tak adalagi cuma hujan yang akan mengisi
Dengan ibu ibu yang memetik daun teh
Setiap sore saat matahari masih menyapa
Bercampur dengan aroma tanah hitam
Dari balik terdengar
Dengan malu bersorak
Besok kan ada hari lain
Untuk bersajak

Tetapi yang sekarang boleh jadi tak kita dapati
Makanya aku jarang duduk bersama
Sendiri lebih asyik
Dalam menimbang
Membelah keragu raguan

Sabtu, 16 Maret 2019

Alasan mengapa masih boleh hidup

Ketika nanti tua aku mau suara suara itu diserap oleh akar yang merayap pada tanah
Basah oleh mimpi
Kau boleh untuk pergi
Aku
Tak punya ketakutan seperti saat muda dahulu
Dan
Aku akan menjadi hantu
Menyuarakan mimpi mimpi anak muda

Kita tlah mengerti
Untuk tidak saling menikam
Dalam masa perang aku pulang
Khianat tak dapat jalan
Selain beringsut pelan pelan
Lalu hilang ditelan jaman

Entah pada pekikan kesekian
Kita melihat sebagai martir
Mayat yang teronggok
Tlah memaafkan diriku yang melangkahi aturan usang

Bukan main irama saat maut terpisah dari badan
Dan jadilah yang memberi hormat pada leluhur
Sebab kita tak mudah untuk tunduk
Dalam pengasingan sebagai saksi


Merentang sayap

Sejauh ini tak lagi cukup bagi ku karena tak seorang pun bagi kita
Dekat disini kau terasa sebagai hingar bingar dalam kepala

Bertapa menyuruh sepi untuk minggir kau lalu mampir seakan tempat yang telah kau pesan
Sungguh aku tak berhak untuk menjadi seorang yang lain
Menghadapi takdir
Atau dengan begini aku akan sanggup untuk menerima mu sebagai yang telah menyayatkan luka dengan dalam

Setelah lama pura pura lupa tidak akan baik bagi ku yang pernah
Menambatkan pikiran ke arah jalan menuju mu yang jauh dan terasa dekat

Berdiri dalam diam saat berteduh dari hujan
Menyerap kepada tanah yang basah dan biasa untuk ditumpahi
Kau mengerti bahwa semua tak akan semudah bermimpi

Tetapi kemudian kita terbang
Dilangit lapang yang tinggal hanya kita
Kita berjuang untuk tak jatuh untuk tak terluka

Jumat, 15 Maret 2019

Tentang pertentangan

Matahari naik dari atap rumah aku menatap kearah nya
Tapi adakah selain nya yang bakal senantiasa menghangatkan hari hari

Seperti ini kah kau melihat ke arah ku
Laut tinggi dan kau tetap
Kita menganggap semua yang ada akan selalu ada
Tetapi bagaimana dengan permulaan
Sebelum semua menjadi ada
Dengan itu lah kau menatap ke matahari jauh
Seperti menatap ku

Bukan sajak yang lahir dari jemari yang handal menitip doa
Kemarin aku mendadak menjadi gagu
Seperti apa kau ingin dikenang nanti

Tak berhakkah aku mengajukan pertanyaan bagi kau
Nyatanya dari sini kita sama melihat sama menganggap
Tak ada yang lain memang
Yang sinarnya melampaui itu
Dan kau ku beri ampun
Untuk tiada bergerak menuju kemari

Ketempat hati mu semula kau tujukan
Dan telunjuk mu kau singkirkan dari pandangan
Beri aku tabik
Dan kau kubiarkan berlalu
Seperti yang sudah sudah
Lalunya angin adalah kentara
Menyelinap ke pangkal rabu mu

Sajak piatu

Kita menua dalam lingkaran tanya seputar kejadian hari kemaren
Besok adalah hari baik dengan kabar tentang burung yang akan tetap bernyanyi dan hinggap
Landasan yang akan tetap terisi penuh
Keberangkatan menuju tempat dimana tak ada kau atau seorang pun akan mengenaliku

Aku hanya menarik titik yang tanpa sengaja kububuhi sewaktu kecil
Tak cukup waktu jika dikenang sekarang dalam ruangan yang terisi penuh dengan kerja
Dengan barang dan dengan manusia yang sama seperti mu
Sama mencari nafkah dari hari demi hari menaiki doa dengan usaha
Sia sia saja untuk berhenti dan
Waktu itu aku lupa menanyakan nama mu
Sekalian saja aku tulis sajak tentang hutan yang belum di gunduli di tengah kota tepian pantai
Yang tak jauh dari ingatan persoalan makanan yang enak dan orang orang baik dan ramah

Semestinya kita tak jauh jauh pergi melulu dengan waktu dan tempat atau zat
Kita mengurangi bentuk kebebasan kita
Dalam arti tak mudah untuk dapat kerja yang disenangi
Namun itupun baik untuk menjaga kebaikan di dalam dirimu
Karena kesenangan pun sering mengantar kita pada kesengsaraan
Yang lama
Dan menunggu adalah hal yang paling tak ingin dilakukan
Meski kau sadar untuk itu butuh kesabaran dan banyak hal yang dapat dipikirkan

Seperti burung disangkar yang lama lama betah terkurung dalam sangkarnya
Kemudian ketika dilepas tlah melupakan cara untuk terbang

Beri waktu sedikit saja untuk mengerakkan sayap nya dan kemudian melepaskan diri dari keraguan keraguan nya

Terbang seperti tak ada yang mengajarkan nya sebelumnya
Karena suatu hal yang tlah melekat pada diri nya
Bergerak terus sehingga ia sadar ia adalah bagian dari suatu arus yang tlah ada
Dan menanti kedatangan nya
Untuk turut bermanuver di angkasa
Meninggalkan bumi tempat ia di kurung dahulu
Dengan cara menakjubkan angin terus mengusiknya
Hingga tiba tiba darat tampak seperti tempat yang pernah dan telah menghukumnya sebagai sebuah semangat yang hidup dan berkembang

Sediam diam nya penyair adalah menghafal jalan pulang untuk tak kembali lagi

Kembali kepada gawang yang tak terjaga
Rindu kearah puncak menuju awan kan menimbang
Dan ku terjebak dalam kata kata
Tidak itu saja meminjam dosa lama seorang laknat adalah pahlawan yang tak di elukan
Baginya sendiri jelas piutang mesti terbayar dengan atau tanpa keringanan
Seperti rindu pada tubuhmu kekasih
Rindu redam adam yang kau kira hanya terjadi sekali saja

Hidup pun tak apa
Sebab dalam hidup kita tlah mengucap sumpah untuk tak meminta apa apa
Selain kembali kepada waktu yang pongah yang jarang membukakan pintu
Dibalik larik ini aku mencoba melukis bayang mu sebenarnya
Sebab bersama dengan mu adalah merelakan anak kita asyik dengan dirinya atau bukan dengan dirinya

Tak apa kan jika kau temukan penyair mencoba menyentuhmu dengan kata kata

Tak apa kan jika kau temukan peneluh
Mengaitkan mantra
Sebab mana makna jika kita tak ikut mencair
Dalam rindu lagu
Sedalam dalam nya ragu

Kau tak pernah akan mencoba untuk menjadi hantu
Dalam diri yang seorang
Kita biasa mengadu tuju
Berpisah adalah jalan pulang
Aku menemu waktu
Kata kata jadi mantra
Kau jadi aku
Bagaimana ini
Kerja belum lagi
Terbayar sudah dengan malu

Kita jarang setuju
Dengan sajak yang mencoba mendiamkanmu

Sebelum maghrib

Dia terkulai dalam balutan keringatnya tampak indah
Segala yang di cari nya adalah kata kata selain itu apakah kau masih bisa
Agar terelak dari murka
Maka aku dari sini menghardik memintanya menepi sebentar
Di balik tembok tua bangunan kosong
Terdengar aroma sepasang makhluk kawin bertebaranlah cemburu dari kita yang tak pernah memberi waktu
Sebab terlalu mendesak
Sebab kita tak bisa menolak

Lain halnya dengan
Yang telah terbiasa dengan aroma darah dan teriakan
Mereka bangun dengan nyenyak dan tertidur lebih segar
Ahli jiwa lebih dibutuhkan daripada kekasih
Benar bukan hal itu ada dalam setiap yang kau sentuh
Sebab aku terbiasa
Diperlihatkan kepada
Atau diperdengarkan dengan
Yang tak akan ku suka
Selain pandang kita bertemu dan bertanya siapa yang terakhir kali mencium mu
Sebab aku hafal dengan riak wajah mu
Meski tempias lagu lama dalam sajak ini berulang di dendangkan
Kau tetap tak bisa di umpamakan

Topeng

Menarilah bersama terang yang tersibak sama seperti saat kau membuka jendela di pagi hari
Disaat kita semua berlomba untuk tak saling berbicara
Mendiamkan adalah lebih baik di banding dengan menyuarakan tetapi tak mau untuk ikut
Ikut terkena cahaya
Dalam rupa rupa bunga
Dalam rupa rupa baunya
Kita berkembang dalam masa ini cukup untuk tak menjadikan ingatan semasa kecil sebagai kado
Sebab kita telah biasa untuk tak menyelipkan kebohongan dalam peristiwa yang dirangkai dan dirangkum dalam sebuah bait

Lagu tentang perang yang kau hafal
Dalam dendangan nya kau temukan potongan potret wajah yang kau bilas dengan doa serta kemudian kau mundur dan sediakan jalan lain untuk menemukan diri yang sebenarnya

Ketika pun kau memilih untuk berada di suatu tempat pada suatu saat bersama jiwa jiwa yang keluar dari lobang nya yang mencari jalan keluar
Sementara menyudahi rasa lelap di dalam persembunyian nya

Dan kau menemui wajah itu yang dahulu kau hindari
Sebab kau tak cukup kuat untuk menerima nya sebagai seorang yang kini menjadi dirimu yang menebak segala ketakutanmu dahulu
Kau telah terbiasa untuk permisi dan pamit sebagai tamu jauh
Dan berpantang untuk kembali
Begitu kami mengenangmu sebab akan susah di jaman yang begini tak meributkan di luar bentuk

Lakon pinggiran kota

Seperti kemarin hari pun reda
Dalam degup jantung kota
Dalam tiarap anak adam
Yang bersuci di dalam nya
Tangis tak boleh kau tunjuk kan sepanjang masih menimang syarat yang sama kau tak akan disebut dalam upacara singkat menamakan diri sebagai korban dari setiap tindakan kita

Adalah sekutu yang memberi benturan agar masih bisa di sebut sebagai manusia
Yang bermimpi dan bersuka cita
Di balik itu kita adalah pesan yang suka dititipkan mendahului kedatangan
Sebab angin yang bertiup kencang tak jarang menyeret kita pada alur yang tak biasa
Akan sama seperti saat kau menghabiskan atau tak menghabiskan apa yang tlah tersaji
Seperti puisi yang kita kutip
Menjelma gerak seperti ghoib
Begitulah pergi berperang atau mendulang tak terdengar sama seperti kau berdarah sementara mendapat dari jalan yang telah kau duga saja
Karena kita begitu takut untuk menampakkan wujud dalam terang
Dan akhirnya kau memilih untuk ikut berburu sebagai yang telah pernah di cabik dan di tanduk
Lalu menjadi yang pertama menasbihkan diri sebagai serdadu
Dan setelahnya tak ada lagi yang membedakan mu dari para para yang setiap gerak dan gerik nya menyinggungmu
Kau namai seperti itu karena kau telah pula mencoba menjadi bagian dari sesuatu yang tak ada dan sepertinya tak akan pernah ada

Kamis, 14 Maret 2019

Selamat pagi

Langit yang biru menyimpan sepucuk pestol
Tapi nanti ketika kau telah tahu betapa mahal harga peluru baru boleh hilang dalam pelarian mu menuju sesuatu yang dahulu kau ingkari dan sekarang telah menjadi
Titik besar di dalam tujumu memintas ke jalan singkat betapa hidup terlalu pendek untuk dirayakan bersama kawan yang kehilangan bentuk seperti hantu begitu lah di lain waktu akan bertemu piagam yang kini kita junjung semenjak revolusi di bubuhi kata mati maka derap berubah jadi tandu yang membawa korban terpisah dari medan
Satu persatu tumbang dari kalian karena revolusi selalu hidup dalam puja puji mesiah
Selalu mati dalam degup jantung pengelana

Untuk tahu harga dari sebuah jasad yang mentang yang menantang kita sisipkan rencana sukar untuk di lalui sendirian
Sebab malam terlalu magis dan siang terlalu intim
Seperti aku yang hilang dalam pencarian dalam pendakian menuju nilai yang di salah bunyi kan
Memang akan mudah untuk hidup sebagai saksi tetapi tak lagi semenjak mesiah menutupi celah untuk kau masuki sebagai serdadu yang kalah perang dalam permainan yang berimbang

Sementara ungu jingga sore selalu di perdebatkan di dalam cafe dengan secangkir kopi dan lamunan tentang kerja atau perkawinan atau perceraian tetapi kadang kadang tentang kematian bahkan jarang untuk tuhan atau baiknya tak ada sama sekali
Begitulah kita menarik dahulu yang membatasi tetapi tak membawa aroma aroma lilin yang menerangi
Walaupun tak sedikit yang mengaku bertuhan dalam tujuan di dalam angkutan aku berpikir akan sama saja jika kau tak mampu bertaqwa

Seperti dalam sajak lama tentang perjudian yang di menangkan oleh seorang tapol
Yang di segani dalam pelarian nya yang dicari persemediannya
Kita rubuh nilai hanya serupa angka angka angka
Tak terbilang satu hingga kesepuluh
Kita berhitung dan kami menghitung mundur dalam rima yang diisi oleh pengangguran yang kesulitan mencari lawan diskusi
Takut jadi umpan pada sepi ia menarik diri kemudian hilang dalam bilangan yang sedikit tetapi ada
Silahkan saja dalam persimpangan menuju permainan kau cegat karena ia akan sangat suka bermain karena dapat dikalahkan atau mengalah untuk meraih kedewasaan nya
Huss betapa egoisnya seorang karib
Dari jauh ia menghujam tabik
Selamat pagi!

Berkelana

Melukis gunung dengan khayal hilang kemudian dengan beriringan waktu
Garis yang membayang kusatukan dalam pikiran
Tampak lah bentuk senyum yang biasa kau berikan

Dan juga gerak waktu yang meninggalkan bias pada senyum mu itu kucoba untuk memperjelas setiap sudutnya membayangkan kau hadir dalam ruang yang cukup untuk kita berbagi nafas

Bergerak terus sepanjang jalan menanti manusia yang hilir mudik
Jam penuh oleh dugaan dan prasangka baik tentang tokoh utama dalam novel yang kau baca

Jadi begini jadinya kita memelihara kata kata disambut waktu yang terus menggema tiada bergeming ditawan kenangan dan ditikam rindu

Nanti pun aku akan berpaling dan mengejar suatu yang dahulu pernah kumiliki seutuhnya dan hilang seperti kita tak pernah menginginkan dan pergi tanpa kita sadari
Kemudian tanpa nya kita mencoba seakan meminta sesuatu yang lebih kuat dari itu
Terasa betapa sombongnya aku
Sebagai pemilik yang tak mampu menghargai yang dimiliki dan betapa sia sia nya usaha demi usaha untuk meraihnya kembali

Adalah waktu yang hadir sebagai sosok berjubah memaksa dengan lembut mengambil dengan paksa setiap yang kita pertahankan
Mengibas ngibaskan jubahnya bagai tak akan teraih lagi
Nanti suatu saat menumbuhkan penyesalan yang akan dihapus dan hilang sendirinya

Menyamar sebagai kawan atau juga musuh didalam kamar menyudutkan dirimu
Kemana lagi kau akan bersembunyi
Dari pertanyaan tanpa kau tahu jawabannya
Dari titik dan koma yang kau jumpai sementara saat mendengar percakapan

Kembalilah kepada waktu sebagai yang pernah memberikan kesabaran dan kesadaran
Sebagai pengelana yang seolah kembali dari perjalanan panjang nya nanti akan di suguhi pesta dan waktu akan menepi lalu pulang ke rumahnya
Sama seperti mu ia tak akan suka berlama lama
Bergegaslah ada tempat yang menunggui dengan makanan dan minuman yang kau sukai
Atau sahabat yang menanti kehadiran seorang pengelana waktu

Jalak dan kerbau

Bersandar kerbau pada pematang
Mengulur waktu untuk kembali berkubang
Adalah jalak yang mengiringi tertatih
Tiba saja menghilang mengudara
Berkatalah kerbau sendiri
Tanpa di jawab oleh jalak nan tlah terbang
Lama kemudian kerbau tersadar angin menyambut suara nya
Dan awan menurunkan hujan
Kembalilah jalak ke punggungnya kepak yang basah dan bulu yang kuyup
Tiada heran kerbau bertanya kemana kah kau sedari tadi aku berbicara taka ada yang menyahut
Telah terbang rupanya tetapi hujan petir nan lebat membawa kau ke punggungku
Untuk bertengger sebentar saja
Dijawab oleh jalak bahwa tak ada lagi kutu yang kutemui di punggung mu hai kerbau
Makanya aku terbang dan mencari punggung kerbau yang lain tetapi hujan melarangku terbang dan membasahi sayapku
Aku tak kuat terbang lebih jauh
Kuputuskan kembali kepada kubanganmu dan berharap besok sudah ada kutu kembali untuk ku habiskan seperti biasanya
Setiap hari
Oh jadi kalau begitu kau hanya telah menyelesaikan tugasmu sebagai seekor jalak ucap kerbau

Rabu, 13 Maret 2019

Biarkan hamba masuk

Semakin kesini aku menarik garis antara mimpi tentang kau atau bermimpi di dalam mimpi
Setelah itu yang kita punyai adalah satu sama lain
Berkelana di waktu yang terang mengembalikan keadaan kita menjadi lebih baik
Bersama dalam permulaan tiada akhir yang lebih berat
Menanti dan menaati hukum
Mencoba menggaris bawahi aku tak punya arti tanpa mu
Lebih sulit unjuk jujur dan bicara welas asih adalah jalan nya sayang

Kemudian kemudi ku terbentur kepada tubuh yang fana
Jelas selain itu abadi
Kita menua dalam tahun yang silih berganti menegurmu
Sebagai kawan yang baru saja mengenalimu

Doa adalah pedang yang kau asah terus sambil tengadah ke langit
Biarkan hamba masuk

Tak boleh kesepian

Berjalan sepanjang jalanan beraspal membelah kabut sendirian di rimba raya
Dan aku akan menjadi satu satunya pengendara yang mencapai kedua bukit itu
Dari jauh tampak mengingatkan
Tak boleh meninggalkan dirimu sendirian
Karena disini kabut dapat menjelma seperti sosok yang kau lihat sekilas pada kalender tua
Menyerupai mu
Tapi tak bersuara dingin dan angkuh

Lalu meraba tubuhmu perlahan menelan bulat bulat siapa kau
Dan menjelmalah
Manusia yang kesepian menjadi sesuatu yang tak pernah di inginkan nya
Disini
Tak boleh meninggalkan dirimu kesepian

Telah lama

Sirih merambati pagar rumah yang angker benar
Dari luar tak tampak suara kehidupan atau bunyi yang memisahkan manusianya dari sepi
Kemudian seperti dahulu yang telah aku gambarkan
Aku mengirim merpati ku kesana

Kuteriaki
Halo
Ooo
Ooo
Terpantul gemanya
Tak ada jawaban
Kupandangi dari dekat jendelanya yang buram
Menutupi kesedihan dari dalamnya

Dan kemudian
Terdengar bunyi benda beradu
Aku menengadah ke arah
Lampu jalan
Kutinggalkan seperti masa lalu

Halimun jauh

Kemudi layar mengarak kepada mercusuar di seberang
Seakan hendak atau tidak mengira yang terjadi kemudian adalah aku berpisah dari perahu terbantun
Di pasir yang putih ku melihat jejak langkah yang dihapus ombak
Naik ke darat kutemukan pulau kosong tak berpenghuni
Seperti pikiranku
Siang terasa makin panjang
Dengan deras angin pantai menyibak nyibak rambutku menjatuhkan butiran pasir yang basah menyangkut pada tubuh ku
Aku merasa sebagai pemilik pulau ini
Pulau tak bernama tak berpenghuni
Kemudian camar menaiki cakrawala menuding aku telah merusak pesta mereka
Karena senja sebentar lagi hadir sebagai lukisan yang indah
Menawan diriku

Terlepas dari penjara yang bernama tubuh
Aku mencecap air yang asin
Suatu ketika aku teringat masih sendirian kala itu di sebuah pulau
Dan tiba saja hatiku merasa gembira

Senja adalah kekasih yang datang tepat waktu walau tanpa berjanji sebelumnya akan menemui
Setiap hari
Dengan cara yang berbeda selalu saja berhasil membuatku memaafkan siang yang telah berlalu

Atau kemudian menantikan diri berusaha meraih warna nya saja
Seperti langit kala itu
Yang menggoda untuk hilang saja
Untuk tak kembali kepada laut yang meributkan pembagian jatah
Untuk terus menatap saja

Sebab setelah kau pun masih ada yang lain yang akan terdampar disini
Yang akan di basuhi oleh ombaknya
Yang akan dituding oleh camar
Yang akan dihindari oleh ikan

Selasa, 12 Maret 2019

Tok tok

Butuh seribu dan satu tamu yang dipersunting dengan diam sebagai mahar
Aku lah yang melepas pasung
Pada pokok umbi yang disiung
Tumbuh bagai api
Jerangi risau sesukaku
Aku lah yang menguji kantuk
Saat petapa liar mengutuk
Kau yang membisu siap kan satu permohonan dalam upacara yang terus menggoncang kehampaan di pangkal hatimu
Tempat aku mengetuk
Aku hendak masuk

Sajak bangau

Bisu diambang igau
Kau pilih menjadi bangau
Bersuara selaiknya protes
Aku bukan seekor bangau
Tetapi kekasih ku terbang melebihiku
Aku adalah seorang terkasih
Dari yang belum pulang
Sejauh mata memandang adalah sarang
Kepangkuan keharibaanku sgala pedih dan perih menyatu
Tetapi kekasih tak usah kau ragu
Diantara pejantan yang lain aku lah yang paling
bisu
Karena itu aku pilih saja menjadi bangau
Kulempar protes pada bumi
Setidaknya kali ini kau tak lolos lagi kekasih

Mengulang doa

Dibiru lautan dan ombak menggunung
Kasih menggantung
Gapai lah
Begitu pintanya
Tapi aku ibunda tiada bertangan lagi
Yang kupunyai tlah kupakai merengkuh melalui parit tiada bertemu
Umur tiada bertahu

Hingga ditimbangnya seutas tali rahasia
Untuk apa
Telah pula kujejali diri dengan basa basi
Dengan hembus angin pagi
Yang tiada terpakai
Dalam susut bulan kuharap kenangan jangan tenggelam
Takut pun akan kutelan
Sehingga rimba nya nanti aku tak mau berkelung

Dalam geram tiada gerak
Halilintar yang ngeluncur kepuncak
Abaikan aku dalam suasana
Abaikan aku dalam doa

Dari Max kepada Tine

Besok aku akan berangkat ke batavia kembali ketempat kemanusiaan berlabuh menyapaku dalam senyum kisut nya

Demi kopi
atau apapun yang kita raih dalam ribuan gulden terdapat keringat yang menguning di atasnya

Demi kau Tine aku tak lagi melupakan hasrat pada onggokan tulang yang menghitam dibasuh ombak samudra

Dan dengan nya aku kembali sebagai manusia yang utuh menatap sederajat kepada mereka yang berwarna gelap seperti saat kau menyeduh kopi yang hitam dan pekat
Agar kau tak lupa sangsai manusia manusia nya

Senin, 11 Maret 2019

Mendakwa hujan

Kemudian hujan hadir seperti sesuatu yang jauh jatuh dari langit
Kota dibasahinya dan apa saja akan terlihat lebih mempesona
Tidak juga kau yang cemburuan itu
Tapi aku suka merasakan nafasku saat hujan
Juga detak jantung ku saat hujan
Hujan memainkan not balok yang kita hafal saat pelajaran kesenian
Hujan menyanyikan lagu yang tak di nyanyikan
Hujan bersedia menemani menggantikan kau yang terlalu sibuk bahkan
seperti biasa nya mengobati rindu pada senja hari yang sering kuhabiskan jika benar tak ada kawan
Sebab hujan akan sama saja
Begitu terus mengairi seperti air mata yang basah
Yang melarang kita keluar rumah
Berselimut mungkin lebih baik
Dan hujan merestui rasa sakit itu
Untuk terus ditenggak sampai habis
Mungkinkah kau cemburui hujan

Kepada hutan

Bertamu kepada nyiur pepohonan
Saat pagi masih menipu
Dingin sekali
Perlahan ke tepian
Dan menariklah dua tiga atau beberapa
Selagi sempat kau menimbun diri dalam guguran daunan
Yang kiri kan terkenang

Oleh sebab apa perahu menjauh
Angin merendah dan kau bertiup
Jauh ke arahmu
Tiba dengan segala
Lupakan pada sembilu
Membawa nya kembali kepada
Irisan sajak lama

Serupa dengan bunyi suara kemarau
Kau bernyanyi pelan
Dalam irama irama kau mengingat sebuah nama
Dan tenggelam memberimu rasa
Menunjukkan jalan lari
Kenapa kau tak bergegas untuk itu

Setiap sore murai melantunkan sajak

Dahulu katanya angin berbicara kepada orang orang suci
Berkata pelan menyuruh nya merayapi dinding itu perlahan
Lalu setelah langkah nya pasti
Angin menyeret dan menjadi wujud mereka dan bumi membuka cepat lalu menutup lagi setelah didapati jasad diantara nya

Kemudian siapa pun akan meminta kepada raja raja
Agar tak dipisahkan dari alam
Dari semua nya berasal

Semula hari menenun anak anak yang bermain di balik tumpukan sajak
Atau tiba hari sebagai kekasih yang pernah
Menghampiri dan menanyakan kabar

Semua hidup memuja
Dan sore tiba menarilah murai berkicau bebas
Melupakan tempat asal berjemur lara
Asa adalah gerak hati yang pertama kali melerai perkelahian itu
Memilih menunggu di pohon tua
Sedang apa tuan kiranya

Beberapa

Sepeda tua bersandar di tembok
Bata
Saat hujan dengan panas masih
Kukira kau akan suka
Menelantarkan diri di sebuah kota
Apalagi ini
Saat remang subuh kita mencuri waktu pergi bermain pada taman kanak yang lengang
Sepuasnya
Melupakan umur di masa sekarang biar tak terlalu malu

Pikiran bagai benang kusut
Jika dipintal dan rapi lemparkan pada anak kucing yang di pelihara
Mereka akan suka

Berguguran dosa dari orang tua yang memangkasi pikiran lalai anaknya

Dikepalaku tumbuh tanduk seperti rusa
Berlarian di hutan sendiri sebuah kota
Aku tak lagi peduli
Yang terlantar merasa tersiksa
Aku suka merawat mereka di antara rimbun daunan yang tumbuh di gedung gedung kota sebuah hutan
Atau dari macet kendaraan
Adik kecil yang di apit saat bapak mengendarai motor ketika ibu menghitung uang belanja
Melirik pada ku
Manja mungkin seperti itu barang kali
Menjadi binatang mungkin akan menyenangkan dilepas liarkan di kota diantara kata

Bagaimana jika kriminil itu kita patahkan tulang nya karena aku benci jika mendengar tawa mereka saat belum sempat menghabiskan kopi dalam warung yang dijaga teman SMA

Bagaimana jika si mawar dan dan si bunga dalam kurung kita jumpai dalam mimpinya
Menjelmalah sajakku menjadi pengantar tidur mereka
Karena aku suka jika mereka terus bersekolah aku suka jika mereka terus hidup

Lalu dengan wanita
Suatu saat aku akan membikinkan sajak buat mereka
Suatu saat aku akan lupa pernah begitu ingin mencintai wanita tapi aku tak akan bisa jika tak di beri ijin menetap dihatinya yang halus itu
Yang kurindukan itu

Adalah seorang dewi dalam pasungan
Setiap saat adalah beberapa detik yang bergulir



Sajak pecundang

Diantara ambang pintu dan jendela ada celah
Dinding kosong kau berdiri disana
Aku suka segalanya
Apapun yang mengantarai aku dan engkau
Pelan menjinjing diri melewati pembatas itu

Berpikir adalah kerja pemalas
Yang tak suka di perintah akan banyak kau temui di sepanjang jalan menuju kampus
Membolos adalah kemewahan dan sebagian diri kita terantai oleh deadline
Tertangkap oleh panggilan kerja
Bercinta hanya sementara saja setelah itu kita akan menjelajah kemasing tubuh
Tak ada percakapan tak akan lebih seru jika tak mengetahui jumlah tahi lalat di tubuhmu
Yang satu

Selebihnya sangsi
Aku tahu kenapa elang enggan terbang
Musim kawin tak akan datang lagi
Coba bayangkan
Elang tak memiliki keturunan pewaris kekuasaannya di udara
Kelak umpat juga yang akan menggelontor
Lalu aku hanya bisa apa
Selain memahaminya dan berkata
Elang memang tak makan sisa
Sedangkan kita sudah persis atau sama
Dengan dalil yang dipermasalahkan
Sedari aku lahir dan mengenyam pendidikan
Trauma itu pula

Kemarin pun kau mencoba melatih beberapa kata di depanku
Sudah tak persis lagi
Setelah itu aku belajar kepadamu sampai khatam
Akan elokkah bila aku berbaris meruncing kata kupicingkan
Aku sendawa kau berkata kata dengan lancar
Kita berhasil keluar dari sadisnya persekolahan

Setelahnya kita mengelak dari derita sewaktu berseragam
Tak menolak untuk berkabar dan kau ulangi bisikan mu
Aku tahu benar maksudmu bajingan selain beruk tak ada lagi yang pandai menyimpan sisa dalam temboloknya

Begitulah kita belajar berkata
Selain dusta
Hari ini aku akan makan tinta
Dan minum puisi
Dan menelan sajak
Tak ada yang lebih mengenyangkan selain mengingat kelakuan teman sekolah
Itu waktu dulu sekarang pun sudah tentu

Minggu, 10 Maret 2019

Elang berteduh

Serupa dengan kisah dari tanah seberang tentang kasih
Yang tak mau dibagi
Kembali pada bumi ia berpijak
Melepas sepatah dua patah kata
Lalu rebah
Kembali kearah jalan panjang menuju waktu
Kau ikut pula menghardik
Di setiap titik ada jeda yang di tarik
Malah makin kesini
Kita tiada rupa tiada boleh sembahyang
Apalagi untuk itu sekedar menarik cadik dan melepasnya
Sudah hilang pula satu kepala
Lagi kemana hendak di cari gantinya
Jangkauan sementara telah berhasil di hadang telah memperoleh
Kemarin pun hari tiada menahu soal
Jelaga dan rasa kantuk
Elang enggan terbang
Kita membasuh luka pada kecipak yang mengalir
Buta aksara lebih pedih tikaman nya
Dan maut kemanapun akan menjemput
Madu yang di jagai dibalik selimut berapa mimpi boleh masuk
Dan kau ku hitung sebagai perantara antara pekikan dan kata yang menggantung
Silahkan saja tanah menggumpal dan air menggenang
Begini saja kau akan lupa bagian mu atau di kenang sebagi perusuh yang hidup di sekian subuh
Kemari sebagai musuh

Tanah asal

Setujukah malam jika gelapnya kita tempiaskan perlahan dengan dendangan yang mengantar engkau ke balik mimpi
Karena nampak betul dari sini apa yang ditawarkan itu selain untuk lepas dan menyerahkan diri telanjang

Pulau yang jauh berkarat dalam peta
Dalam rindu semua tifa dimainkan
Dan telah pula bilangan kita surutkan
Perlahan lahan
Membuang sauh tak lagi mengganggu ketentraman alam itu kesenanganku
Selain berdiri dan menebak isi benak yang kita kutuki kemudian

Telah pernah dan pandai pula menyihir menggenapkan hadir
Pak tua bersarung bersuara lirih mengucap kalian kah itu bujang bujangku yang dahulu menghilang sesudah malam di kurangi gelapnya oleh rembulan
Kembali juga kalian akhirnya pada tanah pada nestapa
Dan tetap tak berkurang elok nya untuk di tinggali
Karenanya kalian kembali
Kalian membagi

Apa beda nya

Caligula menelan apel tanpa biji
Aku yang mendengar
Dan akan kusampaikan segera pada pembesar negeri ini
Kita tak patut menyalahkan atas benih yang tertinggal dan telah tumbuh di sini
Karena tunas nya telah patah oleh asin nya tanah ini

Sekiranya nanti waktu yang sengaja merantai ku yang sengaja menertawaiku
Tapi kali ini setiap perintah adalah jalan menuju pengampunan
Untuk bunuh diri dalam masa keramat ini
Jadi niat baik yang terlampau ini tak segera terlaksana maka satu lagi bertambah anakku yang kan terus ku dongengkan dengan cerita malin kundang
Yang di lahap ombak pesisir dengan awan yang menjulang berpaling
Kemana negri ku yang dahulu mungkin begitu
Telah diterima anak nya yang dahulu oleh bumi
Yang pernah mengejar bayang bayang

Tanpa pengecualian

Meraih sesuatu yang tumbuh di atas kepala bertunas seperti pohon
Tak ada maksud supaya akarnya sampai menjangkau kau
Kau yang tersipu menyapu ku dari ingatan
Kelak tiba juga senja yang penuh dengan musik parau dan alunan mimpi dari mu kekasihku yang jauh nya tak kepalang
Jatuh nya jelas kepangkuan orang

Dibalik semak tertulis dilarang membuang sampah apa lagi kenangan
Kemana aku kan melarikan hati yang rapuh dan kadang kadang aku suka untuk melihatnya terluka

Tapi setia adalah permainan usang yang jarang dimainkan sekarang
Dari balik kelambu yang sama aku mendengar nama ku disebut bergandeng dengan tuah sebuah tempat yang nanti layu

Seingatku tuhan jarang menitip salam pada makhluk yang keras kepala seperti kita
Membolak balikkan halaman demi halaman
Hingga habis halaman berikutnya bersambung dengan rintihan derita dari dadanya
Asli sehabis wabah kelaparan terbit pula kekurangan atas jiwa
Sungguh betapa kaya yang maha menitip kan pesan
Makanya jangan sungkan sungkan meminta dalam doa

Apa kabar?

Menghirup asap sisa pembakaran jenazah
Di kota tua aku merasa ada yang berdarah kali ini tapi kenapa tak menangis adalah mata sembab yang beralih karena dimana pun kenangan menikam pikiran jadi kabur

Dan pahit di wajahnya terganti dengan langkah yang tercegat oleh keramaian lalu aku menghampiri
Apa kabar?

Mohon maaf sebesar besarnya

Binatang korban di ikatkan kepada padang rumput
Cepat mendekat karena sebentar lagi akan dipenuhi oleh darah dan kita menimbunnya dengan tanah
Adakah tempat ini dipenuhi dengan kebencian saat semua orang telah pulang
Tak usah ambil peduli dengan not not yang salah
Yang bisa kita ulangi
Dari dalam sebuah peninggalan telah sampai sebagai yang di wariskan
Diamnya algojo adalah menghapus rasa bersalah menggantinya dengan wajahmu yang di korbankan
Akan lebih mudah baginya
Mungkin tak perlu bersusah susah

Menghilangkan amarah dalam waktu sebentar
Tak tak
Satu dua
Satu dua tiga
Seribu
Sabar adalah permainan dewa

Lapangan tanah dipinggirnya kuburan
Sore hari adalah jawaban kenapa dahulu kami betah berkeringat
Karena mengingat yang terkubur tak akan suka namanya disebut sebagai
Yang dahulu pernah hidup sedang kini telah terkubur
Sementara yang berkubur hidup hidup dengan kenangan tentang kau
Akan lebih suka bila disebut jika dahulu adalah yang sering menungguimu di gerbang sekolah
Dia tak akan tenang dalam kuburnya

Silahkan pilihkan lagu untuk membunuh waktu karl tua adalah seorang pemberi hutang
Dan tuan tanah yang payah tak sekalipun membiarkan dagangannya kosong meski tak laku mesti riuh
Begitukah aku lebih suka luka di banding lupa
Tak ada padanan di-luka-i
Atau seorang yang mengetahui bos nya seorang fasis menggantinya dengan di-lupa-i

Mungkin begini kalau cinta di jumlahkan

Di temaram ruang menjelmalah menjadi ular yang berkepala dua
Seorang wanita yang mematut di cermin buram
Berkata seperti ini
Seorang nyonya enggan akan berganti tuan tetapi aku gundik dari seorang tuan tanah yang berpunya
Tak boleh kudapati diriku menunggu nya mendatangi sehabis berjalan bersama anak anak nya sementara istri nya menyiapkan makan malam
Kira kira begitu
Lalu berkelakar begini
Gundik tetaplah gundik walau disediakan rumah besar lengkap dengan pelayan dan sesekali di jumpai untuk di beri uang yang adil
Kemudian ia berkemas pamit kepada pelayan
Berjalan sendiri ke arah kendaraan yang sedari tadi menunggui

Risalah sebuah patung

Oleh pembunuh jasad yang tak lagi bernyawa itu dibiarkan
Sebagai yang ulung dan lupa tak akan ditemuinya lagi
Suatu saat seperti kilat datang pesanan pencabutan nyawa
Sekali lagi di ladang ladang itu telah berserakan nisan dari apapun
Kemudian hidup tak menyenangkan lagi
Tiap sebentar kemanusiaan teriris aku memilih jadi patung yang di biarkan di pameran tak di sentuh
Sebagai patung aku suka pula bersyair lewat mulutku yang tak dipahatkan
Lalu disimpan dalam ruangan
Dan pematung boleh istirahat
Akan lebih keramat jika mata telinga dan hidung dan alis tidak ikut di pahat
Kembali menjadi batu
Yang utuh yang diam tak bersuara

Sabtu, 09 Maret 2019

Selalu saja basah

Udara dingin kala pagi masih menyeka sebagian sisa embun
Jangan hiraukan jika ada nanti yang membidikmu dengan pertanyaan musykilnya yang ditiup serupa asap rokok
Berkelung

Sesaat kau tunggui petang datang sembari mengepak ngepak barang
Sudah sehabis bermain dengan bayang
Melintas suara yang selama ini terkurung berkecamuk
Memberi kan waktu untuk berlari

Kenapa setiap hujan tak kurindukan lagi warnamu
Telahkah menjelmanya dan aku mabuk
Melawan arah karena berat untuk pulang kalau masih dihantui hutang
Kepada kanak yang menyapaku bermandikan hujan
Basah seperti kenangan

Menerka batas

Jingga yang tertanam pada senja hari layaknya bonus pada hal yang tidak berlaku lagi semenjak kita sudah kurang untuk saling berkabar
Dibalik kabut awan memiting untuk tidak saling mendahului
Adakah kemarau yang menantang lalu di jedanya kita bandingkan sawah yang lapang sehabis panen dipenuhi kumpulan manusia yang bermain layangan menantikan pokok batang mangga yang belum bertunas

Sebelum bertugas hantu yang berkeliaran memilih wajah yang penuh kekanakan
Dari balik tirai aku mencium gelagat pasangan yang sebentar lagi akan menyudahi memberi giliran pada sepi kali ini
Tapi cukupkah hati yang dahulu terisi penuh kini diganti oleh sepi

Dan bila gelas telah penuh lagi kita dapat saling menunjuk pada titik semula sebelum kisah dirangkaikan dan amarah di dustakan
Begitu kah lakon menerka akhir cerita mereka

Sebab jauh dari ini nampak lukisan tua yang digantung di dinding menghiasi banyak rumah mengisi banyak lamunan dan berdebu atau melapuk tapi meninggalkan ceruk di pikirannya

Aku lebih senang dengan kriminil yang separuh mabuk bernafas busuk tapi tahu sedang membohongi dirinya di banding saat berada bersama pasangan yang saling menuduh dan menyalahkan hubungan nya tak patut di perjuangkan

Silih berganti

Sesuatu menyipak dan memburai menunggui dijenguk
Mengapakah tak ada hari lain untuk bersepakat dengan kesendirian
Kadang diam menjadi bakat yang kulebih lebih kan

Gelap adalah persimpangan yang penuh dengan jual beli
Kelak adalah sekarang yang di tunggui suatu waktu
Dan kalau kalau cuaca yang membaik kita boleh bertualang segera meninggalkan tempat ini

Suatu waktu

Kepak sayap merpati yang melintas tak hinggap dari atap membayang
Kesusahan kehilangan sarang atau sangkar yang di pautkan akan sama saja dengan berpindah ke utara atau selatan dan maut memagut setiap kilometer nya

Kemudian jatuh berdebum pada rawa dengan tak seorang pun kan menyangka
Telah raib nyawa yang mengibas saat matahari panas mengambang
Dan telah tiada mata yang mengintip saat terik menaiki tengah hari

Pada ku yang selalu merasa kurang dengan jamuan pada malam minggu
Kau tentunya lebih paham
Dengan detak waktu dengan uang saku dengan hujan yang di goda untuk pindah ke hari lain saja

Bahasa batu

Seolah batu mengelupas dan tinggal rangka
Aku kah yang telah mencabik riasan mu
Tiba giliran penyair
Tapi tak bisakah ia seolah mengulangi teriakan yang sama

Sebelum matahati terbit yang jatuh tepat di pangkuanmu
Sajak ku sampai sebelum sinar di awal pagi mengepung mu
Yang bersarang di dalam mimpi

Dan tempat kita semula bermain dadu
Lemparan ku timbul pada gugup menyibak getar tawa di selubung tirai kusammu
Tak bisa tepat waktu setiap para pengantar menunggak untuk tak di protes
Kemudian didakwa aku lah yang merubuhkan setiap harap
Aku lah yang menyela dalam khidmat
Dan aku lah yang menyeka kala duka

Hingga sampai kebukit berikut nya belum juga tanjakan ini tampak berkurang terjalnya
Kau yang pertama mengelak

Bagaimanakah jika ku tinggalkan

Asmara mendua pada ujung gang kosong ke rumah mu aku bercermin kau bermain tapi entahlah selalu saja setelah cinta banyak yang bisa dituliskan atau jalan menuju nya
Yang basah oleh air mata dan kadang amis juga oleh darah

Setelah berbasa basi kau lebih memilih pergi terutama menyelamatkan jiwa mu dari cinta yang tak main main
Membakar kadang juga begitu aku tak akan betah jika kulihat kau dari ujung gang ini meraih telpon dan sementara aku menunggu waktu mengantarkan pulang
Ke alamat lain lagi
Begitulah kita sangat mudah untuk menyerah kata kata setelah cinta tak boleh di biarkan
Mestinya begitu aku pun benci untuk menelaah aku gegabah selain cinta aku tak mau katanya

Datanglah jika memang sudah waktunya jadi aku tak perlu menunggu
Setiap jam ku ketuk pintu yang menutup dan di balik nya aku tak mau mengira sebab lama telah membawa ku sampai pada kesimpulan
Bahwa ia rupa nya cinta tak memiliki pintu untuk dimasuki dan setiap yang memilih untuk menetap bangunlah kebaikan di setiap ruas altarnya

Mendamba hujan kujadikan kawan membaca mu

Semisal bunga yang dikumpul dalam ikatan nya andai boleh tak sampai pada mu yang kutuju karena ada perjalanan setelah ini dan kita tinggal menunggu untuk berangkat enggan untuk mengucap selamat tinggal
Meski terkubur rintihan itu dalam sajak ku
Kita bisa sementara untuk kabur dan kemudian tak menggubris lagi pertemuan pertemuan ini
Singkat kau ambil jalan itu
Jalan kepadaku yang dahulu

Tapi tak juga bosan dengan kata yang ku rakit kan terus sampai pada pesan
Karena kau sebagai pola yang kulukis sembarang
Bertemu sudut ke sudut
Menghantar mimpi ke mimpi
Dari balik ke balik
Bilik tempat kita mengadu liar dan melepas tanya

Tak puas hanya dalam genggaman bagaimana kau kulepas dan pulang sebagai kenangan
Sebab di pintu nya telah tertuliskan seorang bujang menggapai gapai pada gadis yang kemarin mematahkan hatinya
Kita buat semua orang sibuk karena dia minta dilupakan dalam rindunya pada mata yang tak mau menagih itu

Karena malu karena untung dia tak kan dilupakan
Untuk apa nanti kita yang biasa ditawar dan tak dimintakan kehadirannya lebih punya rasa iba untuk tak melihat setangkai bunga dipatahkan dan pisahkan dari rantingnya

Setelah ini bangkai anjing yang kemarin mati dan dihanyutkan yang tersangkut pada badan sungai telah disapu oleh air yang besar datang nya

Aku mengira besok hujan akan begini juga sikap nya
Membasahi bumi dengan ramah dan lunak
Lalu yang busuk akan tenggelam dan yang patah akan berganti tunas
Begitu dari tahun ke tahun dan musim yang datang tak akan menyurutkan sedikitpun upaya dari yang saling mencinta


Jumat, 08 Maret 2019

Kuberitahu kau arti masa muda

Dengan apalagi aku kan pergi menjauh dari suara yang memanggil
Dari sini terdengar kegaduhan yang di biarkan terlalu lama
Butuh kau untuk menemani
Tapi kita sudah pernah mengira turunan yang terjal ini tak akan mengantar dengan selamat
Selain menimbulkan rasa takut yang lain yang tak bisa lagi kusingkirkan
Dalam rindu menyihir batu agar bersuara menjadi kau menyelesaikan obrolan malam itu

Senandung lagu lama tentang perlawanan terus mengawang sementara saudara terlelap dalam jaga nya
Di tidur yang tak nyenyak adakah mimpi memasuki kebun bunga di dadamu dan menarik risau hingga ke hulu jantungmu
Semoga udara yang berulang kau tiup cukup bagi siang mu yang terlalu
Yang selalu menghalangi laju mu

Dalam tubuh gundik yang keseribu ada tersemat inginmu untuk habisi saja sebab kita tak biasa disisakan
Berpuluh jembatan yang kau seberangi untuk sampai pada shelter yang menampung
Kini api cemburu telah lunas oleh bara yang saling kita lemparkan
Masa muda yang masih saja jadi momok bagi sebagian yang tak bisa menyangka esok kan makan apa
Sementara biarlah pikiran terus berpikir menuju gerbang di mana surga terbakar dan neraka bermekaran bunga

Metamorfosis

Batu kecil kecil bersusunan sepanjang jalan kecil menuju ke rumah tempat ku pulang
Dan entah dengan apa nanti kan ku sulap diri biar diterima di dalam rumahku sendiri
Tetapi kan untuk mendirikan pondok kecil di halaman nya tak butuh waktu lama
Berbagi bersama pohon yang telah lama tak berbuah dan oksigen yang terus mengisi udara dengan hati  senang aku sudi untuk mengepak barang walau sejengkal setidak nya memberi ruang bagi tubuh untuk tidur telentang

Daun jambu berubah bentuk dimakan ulat yang menggantung
Dan tidakkah menggelikan tidur di dekat sarang makhluk lunak
Yang bisa saja berpindah ke badan lengket
Lalu suatu waktu menjelma menjadi kupu kupu yang cantik dan membuat betah untuk memandang berlama lama

Seperti kita harus menyambut sebuah hal yang tak disukai dan bertahan dengan apa yang di bawanya
Kemudian tiba tiba pamit lalu dengan pamrih berucap terimakasih kepada kita
Berkat kita yang merelakan rasa sungkan dan bersabar dengan tenggang rasa kepada makhluk yang ternyata hanya menumpang kemudian menghadiahi kita dengan keindahan yang tersimpan di baliknya

Cahaya bulan dipantulkan oleh nisan seorang yang mengakui

Siapa yang berani memberi arti yang lebih dari sekedar
Tanya jawab di kepalanya
Adalah yang mampu memisahkan dan acuh untuk berdiri dan menyikapi perihal yang kau tak ketahui

Salah menyikapi alih alih mengebiri fakta dan membawa kita meloncati ke arah frasa yang lainnya
Dan itu sudah cukup
Dalam mendengar berita yang meraung raung tak berima

Ihwal pelepasan kehendak menuju kebebasan dalam memilih siapa kita
Yang sebenarnya atau menjadi beda dari arus utama
Bertahan dengan diri dan memaklumi setiap perkembangan nya

Menantikan masa kini yang pudar dalam trend
Malah lebih mudah untuk tak bergerak kemana mana dibanding untuk ikut dalam kemajuan

Senantiasa

Sudut yang sanggup membuka ketika disambangi cahaya adalah bagian yang terdekat dengan keluarga
Tanpa kuberi jeda  waktu bagi ku adalah terus menggali makna
Yang terpendam didalam ungkapan lara dalam permenungan lama yang bodoh adalah tempat dimana kita boleh mengungkit luka lama

Dan dalam bingkai di ruang tengah yang terus kita rawat dan tak berpindah tak perlu menunggu berkali lebaran untuk dapat memaafkan sebab menerima kekurangan sama baik nya dengan membiasakan diri dengan kelebihan dan membiarkan ia besar dalam panggung nya dan kokoh dalam kerajaan kecilnya

Kujemput kau dengan khayal ku ke keabadian

Telah sampailah maksud dari seorang yang ingkar kepada waktu
Yang bisa saja berbelok menukik ketika kita abai dalam fantasi
Lupa adalah jalan keluar dan mengingat terlebih lagi

Sekarat dalam percobaan melepas busur berharap mengenai seekor buruan jadi bekal menghadapi malam
Seakan senja dan mata panah adalah jodoh yang bertemu ketika rusa dalam hutan menyeruak dari balik sarang menebar kecemasan miliknya sendiri
datang juga hari itu celotehnya

Siasat sedari dulu untuk tak hanya berkubur nama sementara gelap menjemput rembulan harus menerangi menuju unggunan dan kemarin pun tak akan lebih baik dari hari ini
Kita adalah kata yang siap di lepaskan pada buruan yang telah sedia dan persembahan bagi rembulan sebab telah ada yang menerima pinangan dari masa depan untuk tetap dan kuat menabuh genderang sebagai perintah untuk takluk pada kehendak tuhan dan pulang sebagai pejuang

Maka kutakuti ketakutanku pada waktu yang bergulir angin yang semilir menyurukkan bayang bayang dalam pokok yang kental dengan ungkapan yang kuat lah yang akan bertahan tetapi waktu itu kita lupa untuk bertanya
Sebagai buruan kah aku yang menyediakan dan menyudikan memberinya waktu menyiapkan serangan nya


Si Raksasa

Debur ombak membangunkan raksasa yang berumah pada sebuah pulau di lepas pantai terpisah dari benua
Angin adalah kendaraan dewa dan laut jadi rumah bagi kawan nya ikan yang mengutuki setiap karang
Puh jauh di darat raksasa tak akan punya tempat pikirnya
Saat saat yang berlalu tak akan terasa sebab pilu mu dikuras oleh angin yang kadang keras bertiupnya

Jauh lagi di sebuah tebing terpahatkan tentang legenda negeri ini yang menjadi tempat berkuasa bagi raksasa berabad silam menaklukkan cuaca dan menanggung peradaban setelah nya tak akan bencana di panggul sebagai tanggungan

Sekian tahun berpasung dalam pusing lautan yang jauh jatuh kepada bukit bukit yang diam dan awan jadi kelambu dari dunia luar yang asing

Dan gemintang pun terus berkedip hingga singgah di halaman depan yang menampakkan langit malam menghampar
Menanyakan kabar
Bagiku raksasa langit tak terlalu tinggi untuk di pandang
Dan sebabnya aku jadi malu memilih membatu dalam piuhan jaman
Dan rumah yang tak pernah kosong jadi penanda makhluk buas tak pernah pergi jauh selain mengitari rumah dan menghafal jalan menuju pemakaman

Kamis, 07 Maret 2019

Mencoba

Bermacam pengalaman yang membentuk jadi potret dari sebuah keutuhan yang memanusiakan
Sebuah upaya untuk terus memulai dan bahwa segala tak akan kemana mana jika tak diberi jalan

Olehnya aku akan tahan dengan beberapa pernyataan tentang cinta dan embun pagi sebab tak jauh beda yang jatuh dan membulir kemudian hilang menguap ke udara
Tak akan apa apa memang
Tapi menghantui mu besok dan besok nya lagi terus akan senantiasa
Menggurui mu untuk melihat dari mata yang percaya dan pernah lelah atau telah mencoba
Dibaliknya asa tentang siang yang panjang segera mencegat mu untuk tak kemana mana

Lagi di balik kenangan adalah rasa curiga pada waktu untuk kembali dan tiap detik terasa semakin berharga tatkala kita sadar bahwa tak ada lagi yang ingin mengaitkan kenangan sebagai sebuah cinderamata bagi kesendirian untuk dijalani

Menjadi parang berkarat

Setiap dosa yang kulakukan mengingatkan saat saat ketika pagi
Sebelum memutuskan bangkit dari ranjang berharap bahwa hari ini segalanya akan baik saja tapi lupa bersyukur atas hidup yang baru saja
Seakan semua akan berjalan seperti mimpi ku semalam

Dan bisikan masa lalu
Membantah bayang mu yang terlintas kulihat kau berjalan tak dapat kumeraih
Seperti berpelesir dalam pikiran
Tidak saja kutolak tapi kembali lagi
Dan akan sia sia jika ku abaikan

Karena setiap gurat yang tertahan kita tutupi dalam desir halus yang membawa kearah perpisahan
Perlahan menyingkap tabir
Setelah berunding dengan kau yang merajai pikiran
Adalah lebih baik dibanding dengan
Kembali dalam kenangan manis yang tak mungkin dapat terulang

Dimanapun itu ku temui diriku saat tak melakukan apa apa
Saat itu pula aku punya kesempatan menyadarkan bahwa kau tak lagi punya tempat dalam hari ku
Yang panjang dan tentu

Jikalau batas antara mimpi dan jaga telah mampu kuraih
Segala kemajuan yang kutempuh untuk sampai ke titik dimana iman yang membetulkan dada ku
Dan aku adalah sebilah parang berkarat disimpan sehabis menebas kenangan

Coretan kalender tahun lalu

Semu kilau pada lampu sepeda yang dikayuh terus ke lain muara
Apa bedanya jika nanti kutemukan dan terdengar derap dari suatu yang tak asing semakin kesini
Gelap sebagai perantara
Tentu tujuan sementara waktu pemangsa tlah dikelabui
Tapi lain kali

Semesta yang kembang
Di ufuk tempat waktu terus berputar
Hutan dalam berdering layaknya menggetarkan nyali untuk di jelajahi
Samudra lepas
Kita puas dalam pencarian
Lena dalam kesudahan

Kembalikah kita pada tempat dahulu
Tawa riang dari bayi mungil yang terlelap dalam dekapan ibu
Kemana mengalir semua
Kita yang lugu masih saja mempertanyakan

Itu tentang pengasong yang melalui gang kosong
Berpikir sesaat bagaimana jika dagangannya di habiskan sendiri
Tak melulu uang kita sesat dalam arti
Terbenam dalam ilusi
Utopis adalah menolak ia yang abadi

Mengkal, hidup tak lebih anganan
Dihembus bersama angin kemarau yang datangnya pasti
Sebab hujan telah jatuh di beranda saat adik kecil menangis terjatuh ketika menaiki sepeda
Kau sibuk mengutangi pacar dengan cemburu
Perlu berbulan melunaskan dan bayaran tak boleh lebih tak boleh kurang
Kita tak mempan lagi oleh kata
Semua menggila
Di ranjang peraduan terdengar ratapan ya Allah



Renjana

Lara ku pendam tenggelam
Membisu adalah seni untuk menghibur jiwa yang dibebaskan
Berkurung di sangkar lebih nyaman
Meliar adalah berkicau sepuasnya sementara nada terlepas dan kita mesti menyepi

Diam diam
Menoleh kembali pada makna yang sarat dengan keperihan
Dan renjana adalah seutas yang menarik kedalam sangkar kembali

Mengemasi kenangan seperti meminta percikan api dari bongkahan batu berulang dan gagal
Hidup sesaat setelah hujan
Lama dalam permenungan yang kian

Nestapa ku cabut namun telah berakar
Ke arah langit kita mendoa
Dari ceritera tentang menang yang kekal

Dari ku menyahut kau
Lalu pelangi yang di rangkai dari doa berpulang kepada kita