Pada balok kayu bocah itu bergelantungan menghadap ke pantai
Hari belum lagi malam
Senja yang mengundur datangnya kini telah penuh manusia yang berkumpul
Sempatkan untuk masuk
Sebab tak ada ruang yang di temui hanya angin, pasir, awan, dan ombak
Dari balik pecahlah tabik
Dan diri sekali ini tiada mengenali
Setiap gerak terhitung dalam detik yang mengendur
Purbasangkaku pada tuan
Yang kenali diri lebih dalam lagi
Tapi risau tak kunjung jua
Pada benalu mekar di pohon kelapa yang mati itu
Aku kemudian menyepak air
Tidak ada komentar:
Posting Komentar