Diantara pusing liang matanya
Tak bergeming maksudku lagi
Dan kita telah lebih menganggap yang tak pernah menduga sebelum ini
Apa benar seluruh menyeru kau pada liyan
Sampai lagi tak terdengar pilu ini mengabu sempurna jasadku
Kelak disambutnya lagi deretan panjang bangku itu sebagai namanya sendiri
Yang tak terperhitungkan hanyalah kematian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar