Kepada riris yang tak pernah berhasil kupahami dan dari mana asalnya bunyi yang kekal dan padat serupa cakram yang menggerakkan dan menepis butir demi butir amsal tak terikat lagi pada gemanya yang melebur sebelum sampai masanya.
Segala milik yang pernah kubagi oleh sebab setia yang terjajah,
Dan arah segala diam yaitu semedi yang kerap terjadi tanpa kesediaan.
Sampai juga segala penat beradu sekali ini aku kesalkan pada hidup dan bertentu tuju.
Kita sia-siakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar