Waktu itu aku lagi rindu
Pada fajar yang menyingsing
Ilalang yang mengancam
Sembilu yang kau tolak
Semakin kini ia bilang celaka hanya milik perempuan tanpa curiga
Menamakannya menawan kita sebut ia dalam menanti tak pernah sekalipun mata menyentuh mata dan gentar itu masih ada
Kelak kuraih arifku dan bijak berpaling menemukan kau
Sesaat lagi ia puas bercengkrama dengan lumpur dan debu mata jadi merah karenanya
Ia yang hanya sebabkan gelisah ini tak kunjung surut ku nantikan di gerbang bersama nestapa yang syarat dahulu
Lalu bisu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar