Pertautkan di kering kini telah bergulir masanya
Sampai kemana arah angin
Tak disangka saja
Dan juga saat gelap itu
Remang mengaku
Tak untuk di sambut ia menjauh
Maka hanya sedikit yang sisakan
Selainnya adalah
Ibu yang terpaku
Selambat suara adzan pak tua itu mengayuh sepedanya menjauh dari kerumunan
Tiba-tiba angin datang dan kita sambut
Agar tak ada yang merasakan kosong
Hanya tetap kita lupa untuk beramah-tamah yang punya rumah lebih sering dianggap
Agar tak banyak yang senasib atau merasa sama
Kami kemudian pecahkan dan tak lagi menanggungnya derita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar