Hanya kepastian milik kita selebihnya adalah kepura-puraan yang pandai ditutupi tak jadi perhatian
Bayangkan tak ada tempat untuk pulang yang kita sebut rumah
Dikamarku berserakan buku-buku
Dan aroma dari kedipan yang ku abaikan kemudian
Dengan hanya sebutir telur aku bertahan didalam cangkang yang keras namun rapuh
Dari rayuan untuk tak ikut saja
Sebagian protes sebagian lain memilih pergi pulang kerumah yang tak mereka miliki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar