Menyeka keringatnya mata tombak itu ia layangkan ke danau yang biru
Hanyakah nanti ia akan mampir
Dalam impian yang masih menunggu dan langkahnya
Betapa galuh dan dalam renjana kami kau mau hutangi nyawa sebelum jatuh tanggal dan kau tahu pasti nanti kemana ia akan menuju membasuh di antara liang dan tanah yang pernah sekali kau rindukan
Benar memang hanya dengan kelakar kita di besarkan antara leluhur dan rembulan itu kita tarik khayal menuju nirwana tempat bertahta dewa dan dewi yang kita duga
Seperti cintamu bukan
Dan kau tak mau berpaling tak pernah bergeming kau hanya takut untuk memulai yang tiada pernah kau mulai
Suatu saat nanti debur ombak ini yang nyatanya pisahkan kita juga pertautkan dan memberi arah untuk kita kemana saja
Yang selamanya tak akan terhapus
Tak akan pernah sampai pula dan noda berkah diranjang ketepi segala rimba mengaduk kau pahit dan pergi lagi bawa kesini tuak dan tuan gembala kerbau belum terjaga dari lamun nya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar