Semenjak siang serupa balonan udara terikat pada tiang temalinya berjuntai-juntai menarik kau
Kanak kecil sepasang berteduh dibawah atap hanya saja untuk saat ini tempias tak lagi ragu menyeret mereka ke dalam irama percikan air yang mengundang tangis pecah
Sementara di rumpunan sajak itu semua orang hanya akan bertamasya keluar luar pikiran
Ibu aku menyukai ketika tak ada seorang bapak mampu mendekati mu
Seirama jantung ayah temanku menitipkan selembar yang jatuh sebelum menuju bumi basah oleh cekikikan
Kami tak punya arah menggantungkan tuju pada langit dan akankah terang ini hanya akan jadi modal dalam kelana yang jauh
Aku kami kata menjelma risau pada sebuah malam anggur hangatkan datangnya dan cuma peringatkan tak akan ada yang gantikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar