Seumpama roti yang tersaji dan yang ia tunggu tak lain kegagalan yang sama ia perjuangkan agar merasa tak lebih dari selinting tembakau yang ia gulung sendiri meski tak di habiskan sepah di mulut
Ia hanya bisa untuk memastikan dan sesekali ia berujar bahwa apakah telah pernah ada yang benar-benar di tolong
Apakah ada yang benar-benar mampu
Apakah ada ia pikirnya
Hantu yang berkuasa di kepala
Ia itu yang menggerakkan kepada kehancuran
Ia itu yang serupakan kita dengan
Sisa ampas makanan
Yang dan terucap hanyalah
Selain dari ini
Dan yang utama berkat hanyalah seperti guyonan
Ia yang tak pernah
Menemukan manusianya
Ia yang terus mencari bentuk di tiap zaman ia yang kita kira
Ternyata bukan apa-apa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar