Tak berkurang rindu nya pada alam
Ia membagi rima pada setiap ketukan
Dan ikut
Mungkin saja ia mengira
Dari mata air itu mengalir pekat
Seperti
Darah
Dari tubuhnya sendiri
Yang hitam
Ia berjalan menuju pusat
Dalam rimba
Ia adalah sebutir diantara ribuan
Cuma tak di kenalinya dirinya lagi
Dalam setiap kengerian yang di lalui
Terlihat wajah naif yang membujuknya sebelum ia bertakhta
Tak banyak waktu yang di habiskan bersama kesenangannya
Tergolek
Sebisanya meraih pangkal akanan
Dan menembus gulita dengan pelita yang di rakit dengan kayu atau pilu
Memeriksa bekas luka sendiri
Jauh dari ini telah dicobanya melepaskan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar