Rabu, 03 April 2019

Sebelum siang menjelang

Pada benalu yang tumbuh mengakar
Di batang pohon menua
Karena waktu
Atau siapa saja bisa jelaskan

Mengulang ulang kenangan saat kita masih dapat memilih ketika kaki tak berat untuk di langkahkan

Berada bersama angin berhembus pelan tiarap ketika itu hujan

Beberapa tetap bertahan
Atau pulang saja memutar jalan

Adalah kelapa yang ribut di puncaknya
Sewaktu malam menjangkau bulan
Tapi sinarnya tetap membilas setiap malam
Bermandi cahaya rembulan
Begitu kau sebut kenaifan dan kau tak dapat apa apa lagi selain bersuara seperti hewan saat malam

Sebelum tidur kau rapihkan ranjang
Dan pelan sekali sampai kau tak mengerti doa yang kau ucapkan
Dengan semoga
Bermimpi tentang lanskap yang kau curi sendiri dan berharap besok tak turun hujan

Dan kau masih bermandi cahaya mentari yang menyengat seperti siasat
Wanita yang kau curigai
Apa aku pernah begitu mencintainya
Dengan sungguh kau bongkar remuk dadamu sendiri
Kau cuma tak sabar dengan jawaban yang sudah kau ketahui dan kau tak pernah lupa untuk berangkat lagi lebih pagi

Ibu dari manakah semua ini berasal
Tapi kata seorang tua yang aku ziarahi kuburnya
Dari muara bernama kesalahan
Dan kau bertugas membetulkan anak muda
Sementara dari atas langit doa doa ditangguhkan
Serta sebagian pulang sebagai yang terkutuk
Atau sebagian lain menyumpahinya
Aku tak mempercayai perkataan
Dari dia yang mati karena laras nya sendiri
Tapi ibu bukankah lebih baik di akhiri saja
Dengan menjawab pertanyaan itu semula

Di parit kami bercinta dahulu sewaktu awan beriringan sementara kalian tersibukkan kami minta di cukupkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar