Percik api dari gelora unggun
Adakah kita terbiasa dengan tarian nyala
Nyanyian petang pada merdu biru laut
Yang kau jaga
Menamainya tanjung dari sana terbit gentar yang menarik noktah
Dari jejak kabut pertama pagi itu
Dari sekian hari yang kau tunggui jatuh pada genggammu
Menamainya parit penuh belukar
Kau mundur dan berpikiran
Loncatilah seperti perih luka itu
Menjaga nya agar tetap berkobar
Dari sekian resah kau beli dengan rintihan pelan
Rasakan kemudian dan kita hilang penat hilang kesumat
Pernah sekali ada yang datang
Menyerupai dirimu
Menyapa
hai kau menggapai mimpi
Minta di taruh dalam ruang penglupaan kiranya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar