Seolah batu mengelupas dan tinggal rangka
Aku kah yang telah mencabik riasan mu
Tiba giliran penyair
Tapi tak bisakah ia seolah mengulangi teriakan yang sama
Sebelum matahati terbit yang jatuh tepat di pangkuanmu
Sajak ku sampai sebelum sinar di awal pagi mengepung mu
Yang bersarang di dalam mimpi
Dan tempat kita semula bermain dadu
Lemparan ku timbul pada gugup menyibak getar tawa di selubung tirai kusammu
Tak bisa tepat waktu setiap para pengantar menunggak untuk tak di protes
Kemudian didakwa aku lah yang merubuhkan setiap harap
Aku lah yang menyela dalam khidmat
Dan aku lah yang menyeka kala duka
Hingga sampai kebukit berikut nya belum juga tanjakan ini tampak berkurang terjalnya
Kau yang pertama mengelak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar