Matahari naik dari atap rumah aku menatap kearah nya
Tapi adakah selain nya yang bakal senantiasa menghangatkan hari hari
Seperti ini kah kau melihat ke arah ku
Laut tinggi dan kau tetap
Kita menganggap semua yang ada akan selalu ada
Tetapi bagaimana dengan permulaan
Sebelum semua menjadi ada
Dengan itu lah kau menatap ke matahari jauh
Seperti menatap ku
Bukan sajak yang lahir dari jemari yang handal menitip doa
Kemarin aku mendadak menjadi gagu
Seperti apa kau ingin dikenang nanti
Tak berhakkah aku mengajukan pertanyaan bagi kau
Nyatanya dari sini kita sama melihat sama menganggap
Tak ada yang lain memang
Yang sinarnya melampaui itu
Dan kau ku beri ampun
Untuk tiada bergerak menuju kemari
Ketempat hati mu semula kau tujukan
Dan telunjuk mu kau singkirkan dari pandangan
Beri aku tabik
Dan kau kubiarkan berlalu
Seperti yang sudah sudah
Lalunya angin adalah kentara
Menyelinap ke pangkal rabu mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar