Semisal bunga yang dikumpul dalam ikatan nya andai boleh tak sampai pada mu yang kutuju karena ada perjalanan setelah ini dan kita tinggal menunggu untuk berangkat enggan untuk mengucap selamat tinggal
Meski terkubur rintihan itu dalam sajak ku
Kita bisa sementara untuk kabur dan kemudian tak menggubris lagi pertemuan pertemuan ini
Singkat kau ambil jalan itu
Jalan kepadaku yang dahulu
Tapi tak juga bosan dengan kata yang ku rakit kan terus sampai pada pesan
Karena kau sebagai pola yang kulukis sembarang
Bertemu sudut ke sudut
Menghantar mimpi ke mimpi
Dari balik ke balik
Bilik tempat kita mengadu liar dan melepas tanya
Tak puas hanya dalam genggaman bagaimana kau kulepas dan pulang sebagai kenangan
Sebab di pintu nya telah tertuliskan seorang bujang menggapai gapai pada gadis yang kemarin mematahkan hatinya
Kita buat semua orang sibuk karena dia minta dilupakan dalam rindunya pada mata yang tak mau menagih itu
Karena malu karena untung dia tak kan dilupakan
Untuk apa nanti kita yang biasa ditawar dan tak dimintakan kehadirannya lebih punya rasa iba untuk tak melihat setangkai bunga dipatahkan dan pisahkan dari rantingnya
Setelah ini bangkai anjing yang kemarin mati dan dihanyutkan yang tersangkut pada badan sungai telah disapu oleh air yang besar datang nya
Aku mengira besok hujan akan begini juga sikap nya
Membasahi bumi dengan ramah dan lunak
Lalu yang busuk akan tenggelam dan yang patah akan berganti tunas
Begitu dari tahun ke tahun dan musim yang datang tak akan menyurutkan sedikitpun upaya dari yang saling mencinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar