Melukis gunung dengan khayal hilang kemudian dengan beriringan waktu
Garis yang membayang kusatukan dalam pikiran
Tampak lah bentuk senyum yang biasa kau berikan
Dan juga gerak waktu yang meninggalkan bias pada senyum mu itu kucoba untuk memperjelas setiap sudutnya membayangkan kau hadir dalam ruang yang cukup untuk kita berbagi nafas
Bergerak terus sepanjang jalan menanti manusia yang hilir mudik
Jam penuh oleh dugaan dan prasangka baik tentang tokoh utama dalam novel yang kau baca
Jadi begini jadinya kita memelihara kata kata disambut waktu yang terus menggema tiada bergeming ditawan kenangan dan ditikam rindu
Nanti pun aku akan berpaling dan mengejar suatu yang dahulu pernah kumiliki seutuhnya dan hilang seperti kita tak pernah menginginkan dan pergi tanpa kita sadari
Kemudian tanpa nya kita mencoba seakan meminta sesuatu yang lebih kuat dari itu
Terasa betapa sombongnya aku
Sebagai pemilik yang tak mampu menghargai yang dimiliki dan betapa sia sia nya usaha demi usaha untuk meraihnya kembali
Adalah waktu yang hadir sebagai sosok berjubah memaksa dengan lembut mengambil dengan paksa setiap yang kita pertahankan
Mengibas ngibaskan jubahnya bagai tak akan teraih lagi
Nanti suatu saat menumbuhkan penyesalan yang akan dihapus dan hilang sendirinya
Menyamar sebagai kawan atau juga musuh didalam kamar menyudutkan dirimu
Kemana lagi kau akan bersembunyi
Dari pertanyaan tanpa kau tahu jawabannya
Dari titik dan koma yang kau jumpai sementara saat mendengar percakapan
Kembalilah kepada waktu sebagai yang pernah memberikan kesabaran dan kesadaran
Sebagai pengelana yang seolah kembali dari perjalanan panjang nya nanti akan di suguhi pesta dan waktu akan menepi lalu pulang ke rumahnya
Sama seperti mu ia tak akan suka berlama lama
Bergegaslah ada tempat yang menunggui dengan makanan dan minuman yang kau sukai
Atau sahabat yang menanti kehadiran seorang pengelana waktu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar