Bahasa burung adalah diam tapi terbang kemanapun
Sesaat singgah bertengger kepada sudut atap rumah mu mendengar berita tentang cuaca
Baginya rindu pada sarang yang telah lama ditinggal sama seperti rindumu kepada kemenangan begitu pula kau ingin tetap mampu untuk bersinar dan terbang
Jauh kemana tiba badai menghadang
Mungkin kita hanya mampu bergerak seperti kiasan kiasan
Setelah lidah tertahan
Aku bercerita pada teman bagaimana biola yang tak terpakai lagi berdebu dan usang
Seperti lukisan tua bercabang menempel ke dinding membayang
Kita telah pernah dan mencoba
Hingga lelah melapang lapangkan dada
Mengapa tak ada hari lain untuk bersedih
Mengapa memangnya kesedihan selalu datang saat kita tak bersama
Di hari yang ternyata juga menua
Kita mengutuki betapa sombongnya dahulu
Kita semestinya bersabar dengan diri
Dan sabar tak ada dalam hitungan kesepuluh cuma ada dalam sekian peluh
Dalam kenduri ramai orang beringsut kedalam pura pura hadir tetapi pikiran alpha
Kita menyanggah keberadaan satu sama lain
Dalam masa ini kita mesti bersabar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar