Minggu, 10 Maret 2019

Tanah asal

Setujukah malam jika gelapnya kita tempiaskan perlahan dengan dendangan yang mengantar engkau ke balik mimpi
Karena nampak betul dari sini apa yang ditawarkan itu selain untuk lepas dan menyerahkan diri telanjang

Pulau yang jauh berkarat dalam peta
Dalam rindu semua tifa dimainkan
Dan telah pula bilangan kita surutkan
Perlahan lahan
Membuang sauh tak lagi mengganggu ketentraman alam itu kesenanganku
Selain berdiri dan menebak isi benak yang kita kutuki kemudian

Telah pernah dan pandai pula menyihir menggenapkan hadir
Pak tua bersarung bersuara lirih mengucap kalian kah itu bujang bujangku yang dahulu menghilang sesudah malam di kurangi gelapnya oleh rembulan
Kembali juga kalian akhirnya pada tanah pada nestapa
Dan tetap tak berkurang elok nya untuk di tinggali
Karenanya kalian kembali
Kalian membagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar