Dengan apalagi aku kan pergi menjauh dari suara yang memanggil
Dari sini terdengar kegaduhan yang di biarkan terlalu lama
Butuh kau untuk menemani
Tapi kita sudah pernah mengira turunan yang terjal ini tak akan mengantar dengan selamat
Selain menimbulkan rasa takut yang lain yang tak bisa lagi kusingkirkan
Dalam rindu menyihir batu agar bersuara menjadi kau menyelesaikan obrolan malam itu
Senandung lagu lama tentang perlawanan terus mengawang sementara saudara terlelap dalam jaga nya
Di tidur yang tak nyenyak adakah mimpi memasuki kebun bunga di dadamu dan menarik risau hingga ke hulu jantungmu
Semoga udara yang berulang kau tiup cukup bagi siang mu yang terlalu
Yang selalu menghalangi laju mu
Dalam tubuh gundik yang keseribu ada tersemat inginmu untuk habisi saja sebab kita tak biasa disisakan
Berpuluh jembatan yang kau seberangi untuk sampai pada shelter yang menampung
Kini api cemburu telah lunas oleh bara yang saling kita lemparkan
Masa muda yang masih saja jadi momok bagi sebagian yang tak bisa menyangka esok kan makan apa
Sementara biarlah pikiran terus berpikir menuju gerbang di mana surga terbakar dan neraka bermekaran bunga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar