Terlebih lagi pualam yang di amplas alam
Panas hujan teduh rinai
Penyair berdendang melantun lantunkan ayat
Semisal buih di lautan saat pasang
Kita mengikat kuat pada haluan
Diri terombang ambing
Jejak tak dapat tempat
Semua disapu riak yang menyisir hingga ke selat batas antara rindu merangkul kawan
Pulang adalah jalan lain untuk menunggui sepi dan memunguti mimpi
Hus diam adalah mainan terlarang
Punya rencana yang dibatalkan
Lebih butuh bantal untuk rebah dibanding dada mu yang empuk tapi mentah
Dan kelabu adalah yang paling ketika remang tiada diberkati
Makanya aku jadi ngilu
Oleh adik yang menatap mengharap
Lalu laju kendaraan berubah sirene mengantar terkasih
Melayat adalah kewajiban
Setiap bunyi tunduk pada harga yang dilabeli
Telah kalah seorang bujang menina bobokan diri dalam nuansa remang pagi
Menunggui pesan dari kau disaat hari masih berbisik
Tentang siapa yang dahulu
Masing masih dapat menemui
Atau menjumpai atau masih mencari yang lain
Diri bongkok pada ketiadaan
Tak dapat menyumpah selain menitip pesan bahwa kalau ada hari lain semua tak mesti begini
Tapi harus begitu
Semerbak perawan itu tak terdengar lagi
Yang ada auman kepada purnama yang terbit tiap tengah bulan di awal tahun saat hujan
Di dermaga ini senyum dibungkus dengan sebuah ungkapan
Andai kau kuat memihak dan tak keberatan bila ku selingi
Maka selangkangan dapat jatah
Dan senyum adalah bingkisan yang murah meriah
Sekali pedih seperti jari jari
Dapat melakukan apapun
Selain itu
Hus diam adalah larangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar